Singaraja, koranbuleleng.com | Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurnia, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada ratusan krama Desa Adat Sudaji. Paruman agung yang digelar di Pura Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, pada Jumat, 14 Maret 2025.
Dalam paruman yang dihadiri oleh ratusan krama dari Dadia Agung Pasek Gelgel Jero Sudaji, prajuru adat, Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan, Camat Sawan, Kapolsek Sawan, hingga Koramil Sawan, situasi tegang terasa. Aparat kepolisian dikerahkan untuk mengamankan jalannya pertemuan. Meski hujan mengguyur, warga tetap bertahan hingga akhirnya mendengar langsung pernyataan maaf dari sang perbekel.
“Saya Minta Maaf!”

Dalam pernyataannya, I Made Ngurah Fajar Kurnia menegaskan tidak ada niatan untuk mengintimidasi atau menekan masyarakat. Ia mengklaim hanya ingin mengingatkan bahwa desa adat dan desa dinas seharusnya menjadi satu kesatuan sebagai pembina, pengayom, dan pelindung masyarakat.
“Kami nyatakan bahwa mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. Kami tidak bermaksud mengintimidasi atau memberikan tekanan, bahkan paksaan kepada masyarakat kami di Desa Sudaji,” ucapnya.
Namun, terkait tuntutan agar dirinya mundur, Fajar Kurnia memilih menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Buleleng.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada pimpinan kami, yaitu Bapak Camat, Bapak Kepala Dinas PMD, dan Bapak Bupati untuk menyikapinya serta mengambil keputusan,” tambahnya.
Warga Tak Gentar, Proses Hukum Tetap Jalan!

Permintaan maaf ternyata tak cukup meredakan gejolak di tengah warga. Salah satu perwakilan warga, Gede Arta Yasa, menegaskan bahwa jalur hukum tetap akan ditempuh. Menurutnya, intervensi terhadap desa adat bukan satu-satunya masalah, tetapi juga adanya dugaan penghinaan terhadap prajuru adat yang memicu demonstrasi besar-besaran beberapa waktu lalu.
“Untuk tuntutan hukum akan jalan terus! Beberapa langkah termasuk Kejaksaan dan Bupati akan segera kami tempuh. Selasa nanti, kami langsung kirim surat ke Bupati, termasuk bukti petisi ribuan tanda tangan,” tegasnya.
Aksi Unjuk Rasa: “Turunkan Perbekel!”
Permintaan maaf ini menjadi buntut dari aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar ratusan warga pada Kamis, 6 Maret 2025. Ratusan krama dari Dadia Agung Pasek Gelgel Jero Sudaji bergerak ke Kantor Kepala Desa Sudaji sambil meneriakkan tuntutan agar perbekel segera mundur. “Turunkan Perbekel!” teriak massa dengan lantang.
Berawal dari Pura Dadia Agung Pasek Gelgel Sudaji, massa berjalan sejauh 300 meter menuju kantor desa sambil mengacungkan spanduk berisi kritik tajam terhadap perbekel. Di antara spanduk yang mereka bawa, beberapa bertuliskan:
- “Warga Desa Sudaji Menyapa Pak Mekel dan Aliansi, Mari Kita Ngopi Pak Mekel”
- “Kami Bosan Diintimidasi Oleh Kroni-Kroninya Kepala Desa”
- “Alokasi Anggaran BKK Provinsi 1 Miliar, Tidak Jelas Pertanggungjawabannya”
Namun sejauh ini, suasan adesa Sudaji masih aman terkendali. Walaupun suara-suara untuk menurunkan Perbekel terus lantang diperjuangkan.(*)
Pewarta :Kadek Yoga Sariada