Kadek Melly, Gadis Buleleng yang Mandiri, Meninggal dalam Kecelakaan di AS Setelah Sempat Telepon Keluarga

Singaraja, koranbuleleng.com | Duka mendalam menyelimuti keluarga Kadek Melly Mudiani, asal Banjar Dinas Kanginan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Perempuan yang dikenal mandiri ini harus meregang nyawa saat mengejar impiannya di Amerika Serikat.

Pada Sabtu, 29 Maret 2025, Melly, yang baru berusia 23 tahun, tewas akibat kecelakaan di New Orleans, Negara Bagian Louisiana, Amerika Serikat. Ia berangkat ke AS pada 27 November 2024 untuk mengikuti program magang di sebuah restoran.

- Advertisement -

Ayah Melly, Ketut Wandika (53), mengungkapkan bahwa program magang tersebut rencananya akan berlangsung selama satu tahun. Sebelum ke AS, Melly sempat magang di sebuah hotel di Bali dan mendapatkan apresiasi tinggi dari para seniornya karena kinerjanya yang baik. Bahkan, ia sempat dilarang untuk berangkat ke luar negeri oleh staf hotel tempatnya magang.

Namun, Melly sudah bulat dengan keinginannya untuk berangkat ke luar negeri demi mencari pengalaman dan mengembangkan karier. Pada tahun 2021, ia sempat mendapat beasiswa untuk magang ke luar negeri, tetapi terhalang oleh pembatasan akibat pandemi Covid-19.

“H-3 sebelum berangkat, program itu dibatalkan karena pandemi. Waktu itu, Melly minta izin untuk berangkat, tapi tidak disetujui oleh staf hotel, karena katanya di sini sudah bagus. Tapi dia tetap ngotot ingin berangkat dan cari pengalaman. Kami akhirnya mengurusnya sendiri melalui agen, dengan bantuan asuransi,” ujar Wandika dengan mata berkaca-kaca saat ditemui, Kamis, 3 April 2025.

Ketut Wandika mengenang cita-cita anaknya yang tinggi. Melly berharap, setelah kontraknya selesai di Amerika Serikat, ia bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja di Australia untuk mengembangkan bakatnya. Tujuan utamanya adalah untuk kembali ke Bali dengan pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan kemampuannya.

- Advertisement -

“Dia ingin mendapatkan reputasi di luar negeri agar ketika kembali ke Bali, bisa bekerja di perusahaan besar dan bukan sekadar karyawan biasa. Itu yang dia katakan pada saya, dan itu yang membuat saya terharu. Sekarang Melly sudah tiada, saya merasa sangat kehilangan,” kata Wandika sambil mengelap air mata.

Sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya, Melly sempat berkomunikasi dengan keluarganya pada Jumat, 28 Maret 2025, saat malam pengrupukan. Dia meminta video ogoh-ogoh yang akan diarak di desanya. Tak lama setelah itu, Melly juga sempat menghubungi ibunya, Komang Sudarmi, pada 29 Maret 2025, saat Hari Raya Nyepi. Namun, panggilan itu baru berhasil diterima keesokan harinya karena kendala jaringan.

“Ibu sempat dihubungi dua kali. Panggilannya baru berhasil masuk keesokan harinya karena pada saat Nyepi, semua data seluler dimatikan,” ujar Wandika.

Hingga kini, keluarga belum dapat melihat jenazah Melly. Mereka hanya mengetahui identitas korban melalui barang-barang dan dokumen yang ditemukan di tempat kejadian. Melly ditemukan dengan identitas yang mencocokkan barang bawaannya, yang diperlihatkan oleh tim medis dan FBI.

“Sejauh ini, saya sebagai orang tua belum dapat melihat seperti apa kondisi anak saya. Saya hanya bisa melihat identitasnya yang terpasang pada tas yang melekat di tubuhnya. Itu sangat menyedihkan bagi kami,” ungkapnya dengan pilu.

Pihak keluarga berharap jenazah Melly segera dipulangkan ke tanah air. Mereka mengungkapkan bahwa jenazah dapat dipulangkan dalam waktu 10-13 hari ke depan, setelah proses koordinasi dengan pihak berwenang di AS. Penggalangan dana yang dilakukan oleh WNI perantau di Amerika diharapkan bisa mempercepat proses pemulangan jenazah, mengingat jika menunggu asuransi pemulangan jenazah, proses tersebut baru dapat dilakukan dalam 2-3 bulan.

“Mudah-mudahan dengan dukungan teman-teman Melly yang menggalang dana, dapat membantu mempercepat pemulangan jenazahnya. Mereka juga membantu memantau perkembangan penyelidikan di sana. Dari pembicaraan dengan FBI, kasus ini tetap berjalan, baik ada tuntutan hukum atau tidak,” kata Wandika.

Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, turut memberikan dukungan kepada keluarga Melly. Ia telah meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat agar jenazah Melly segera dipulangkan.

“Pemkab Buleleng akan berusaha membantu proses pemulangan jenazah Melly. Kami akan melakukan urunan dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI),” ujar Sutjidra.

Ia menambahkan bahwa Pemkab Buleleng akan terus berkoordinasi dengan agen dan pengacara yang menangani kasus ini. “Kami akan berusaha agar administrasi pemulangan jenazah bisa segera diselesaikan,” pungkas Sutjidra. (*)

Pewarta : Kadek Yoga Sariada

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts