Matahari baru menyembul, Kamis pagi. Setelah berhari-hari sebelumnya selalu bersembunyi dibalik gelapnya angkasa, hujan yang turun menerus tiada henti.
Nyoman Sukrena tak peduli akan kondisi cuaca pagi ini, atau kemarin. Dia berjalan diantara petak sawahnya, setiap hari untuk menjaga padinya yang terus memuncah. Sebentar lagi akan panen, namun gerombolan burung selalu bebas untuk singgah dan memakan sebagian padi yang tumbuh menguning milik Sukrena.
Setiap hari, dia selalu mengusir buurng-burung itu agar tidak menghabiskan padi miliknya. Cerah atau hujan, dia selalu menjaga.
“Huuuhhhhhhh….huuuhhhhhhh,” begitu suara lantangnya. Sesekali dia melepaskan bulatan peluru dari ketapelnya. Peluru tersebut tentu dibuat dari bahan lumpur, sekedar untuk menyasar kawanan burung yang sedang asyik mematuk-matuk buliran padi. Seketika kawanan burung pipit tersebut buyar, terbang kembali. Namun beberapa saat kemudian, kembali datang.
Burung-burung tersebut sebenarnya bukanlah musuh Petani, atau bagi Nyoman Sukrena. Dalam kondisi tanaman padi yang sedang menguning, burung itu hanya menjadi hama. Sukrena hanya harus beradu cepat untuk menjaga padi dari serbuan riuh burung yang memang khas sebagai pemakan padi di musimnya. Karena itulah, berbagai cara dia gunakan agar kawanan burung tersebut terusir dulu dari persawahan, sampai panen tiba.
Selain menggunakan bibir untuk berteriak, ketapel di tangan kanan, dia juga memasang lelakut yang tersambung dari satu titik ke titik yang lain. Sungguh, sebenarnya suasana ini harus terus terpelihara.
Kawasan pertanian adalah penting untuk keberlanjutan pangan, bagi anak dan cucu. Jangan ada lagi, berdiri banyak bangunan secara masif, di persimpangan persawahan yang akan mengancam dan mencaplok lahan-lahan pertanian lebih dalam lagi.
“Luas lahan saya hanya 65 are, saya berkeinginan mempertahankan ini untuk warisan masa depan. Lihat disana,” ujar Sukrena, Sambil menunjuk barisan perumahan yang juga awalnya adalah lahan persawahan.
Sekali panen, dari luas areal yang dikelolaya, dia bisa mendapakan 4 ton gabah. Itu jika cuaca bagus dan tidak habis dimakan hama, seperti burung.
Namun disisi lain, sudah sering dia didatangi oleh sejumlah pihak dengan mengiming-mingi harga.
Dia berharap, Pemerintah lebih pro terhadap petani dengan memberikan komensasi atau reward untuk lahan pertanian yang dipertahankan demi kepentingan pangan berkelanjutan. (*)
Fotografer : Kadek Yoga Sariada