Misi Besar Dibalik Ogoh-ogoh, Banjar Paketan Hidupkan Kembali Tari Sakral Sang Hyang Memedi

Singaraja, koranbuleleng.com |Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan siap menorehkan sejarah baru dalam Lomba Ogoh-Ogoh serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1947.

Bukan sekadar menampilkan ogoh-ogoh, mereka membawa misi besar: menghidupkan kembali Tari Sang Hyang Memedi, tarian sakral yang telah lama hilang dari tradisi Banjar Paketan. Perlombaan yang akan digelar pada Hari Pengrupukan, 28 Maret 2025, di Catus Pata Singaraja ini menjadi panggung awal bagi rekonstruksi budaya yang nyaris punah itu.

Dari Kala Samar ke Sang Hyang Memedi

- Advertisement -

Awalnya, Sekaa Teruna Banjar Paketan berencana mengusung tema Kala Samar untuk ogoh-ogoh mereka. Namun, dalam pencarian referensi, mereka menemukan jejak sejarah yang lebih mendalam. Gede Arya Septiawan, salah satu tokoh pemuda Banjar Paketan, mengungkapkan bahwa dalam diskusi internal, mereka menemukan catatan dalam buku Beberapa Tari Upacara dalam Masyarakat Bali (1981/1982) yang mencatat keberadaan Tari Sang Hyang Memedi di Banjar Paketan.

“Dari buku itu, kami mengetahui bahwa Tari Sang Hyang Memedi dahulu merupakan bagian dari ritual penyucian, bertujuan untuk nyomya Bhuta Kala, mengharmoniskan hubungan antara manusia dan alam serta sebagai penolak bala,” ungkap Arya Septiawan.

Jejak yang Hampir Hilang

Dalam catatan yang ditemukan, Tari Sang Hyang Memedi memiliki keunikan tersendiri. Para penarinya mengenakan pakaian dari daun merang atau pohon padi kering, menyerupai memedi, makhluk halus dalam kepercayaan Bali yang berpakaian kotor dan hidup di semak-semak. Ritual ini dilakukan dalam kondisi trance setelah diasapi dengan kemenyan yang dibakar di atas piring tanah (pasepan).

Meski sempat dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2015 oleh Sanggar Catur Suara Rupa, pementasan saat itu dilakukan dengan keterbatasan sumber. Pencarian referensi bahkan membawa mereka ke Museum Gedong Kirtya dan beberapa desa yang masih memiliki tradisi Tari Sang Hyang, seperti Pemaron dan Tukadmungga.

- Advertisement -

“Bahkan, beberapa tetua Banjar Paketan sendiri sempat meragukan bahwa tarian ini pernah ada di sini. Namun, dengan sumber yang lebih lengkap, kini kami berusaha merekonstruksinya kembali agar tidak hanya menjadi sejarah dalam buku,” tambah Arya.

Dukungan untuk Pelestarian Budaya

Upaya ini mendapat dukungan penuh dari Klian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, yang berharap agar tarian ini dapat kembali hidup sebagai bagian dari warisan budaya Bali.

“Lomba ogoh-ogoh tahun ini menjadi langkah awal bagi kami untuk memperkenalkan kembali Tari Sang Hyang Memedi kepada masyarakat luas. Kami ingin mengawali dengan menampilkan fragmen tarian dalam pertunjukan nanti sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian warisan para leluhur,” tutup Arya Septiawan.

Kebangkitan Tari Sang Hyang Memedi bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah upaya membangkitkan kembali roh tradisi yang nyaris pudar. Banjar Paketan telah membuka jalan bagi rekonstruksi sejarah, membuktikan bahwa warisan leluhur tetap hidup di hati generasi muda. (*)

Pewarta : Putu Rika Mahardika

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts