Sakralnya Tawur Kesanga di Buleleng, Harmoni Umat Menyambut Tahun Baru Caka

Singaraja, koranbuleleng.com | Bertepatan dengan Tilem Kesanga, masyarakat Hindu di Buleleng melaksanakan upacara Tawur Kesanga sebagai bagian dari rangkaian Hari Suci Nyepi. Sejak pukul 07.00 WITA, prosesi dimulai dengan pecaruan di Catuspata Alit, tepatnya di simpang empat Pura Desa Adat Buleleng. Setelah ritual penyucian ini, Tri Datu Desa Adat Buleleng berbaris rapi membawa tirta menuju Catuspata Desa Adat Buleleng, menciptakan suasana sakral penuh makna, Kamis 28 Maret 2025.

Upacara Tawur Kesanga dipuput oleh Tri Sadhaka yang terdiri dari para sulinggih terkemuka di Buleleng. Mereka adalah Ida Sri Bhagawan Rama Sogata dari Griya Dalem Cili, Ularan, Sukasada; Ida Bhujangga Rsi Waisnawa Kemenuh dari Griya Taman Wangining Desa Temukus; Ida Pedanda Duangga Purdasa Kemenuh dari Griya Weda Purana; Ida Pandita Mpu Ratangkara Bayu Segara Gni Andan Wijaya Natha dari Griya Taman Aswameda Ashrama Penarukan; serta Ida Rsi Agung Dwija Bhara Dwaja dari Griya Taman Tunjung Patemon.

Tawur Kesanga merupakan ritual sakral untuk penyucian dunia dan alam semesta. Ia juga mengajak umat Hindu untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ajang introspeksi diri atau mulat sarira. |FOTO : I Putu Nova Anita Putra|
- Advertisement -

Prosesi ini juga dihadiri oleh Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, SH, serta Sekda Buleleng Drs. Gede Suyasa, M.Pd. Turut hadir jajaran Forkopimda Buleleng, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG mengajak masyarakat untuk menjadikan Nyepi sebagai momentum refleksi diri. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan antarumat beragama, mengingat tahun ini Hari Suci Nyepi berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri.

“Karena ini adalah Tahun Baru Caka, mari kita jadikan sebagai momentum refleksi diri. Mari kita perbaiki diri saat Ngembak Geni dan selalu menjaga harmoni antarumat beragama,” ujarnya.

Kelian Desa Adat Buleleng, Ir. Nyoman Sutrisna, MM, menyampaikan bahwa prosesi Tawur Kesanga tahun ini berlangsung lancar dan khidmat. Ribuan pemedek tampak khusyuk mengikuti persembahyangan. Ia berharap, melalui upacara ini, bhuana alit (mikrokosmos) dan bhuana agung (makrokosmos) dapat disucikan untuk keseimbangan alam semesta.

- Advertisement -

“Sebelumnya kita telah melaksanakan mapepada dengan menyucikan hewan kurban sebagai sarana upacara. Kini kita melaksanakan Tawur Kesanga sebagai wujud penyucian bhuana alit dan bhuana agung,” jelasnya.

Tawur Kesanga merupakan ritual sakral untuk penyucian dunia dan alam semesta. Ia juga mengajak umat Hindu untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ajang introspeksi diri atau mulat sarira. |FOTO : I PUTU NOVA ANITA PUTRA|

Ketua PHDI Buleleng, Gde Made Metera, dalam dharma wacananya menegaskan bahwa Tawur Kesanga merupakan ritual sakral untuk penyucian dunia dan alam semesta. Ia juga mengajak umat Hindu untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ajang introspeksi diri atau mulat sarira.

“Yadnya ini dilaksanakan oleh pihak yang memiliki kewenangan, di antaranya Guru Wisesa yang bertanggung jawab atas seluruh prosesi. Ritual ini telah dirancang sejak satu tahun lalu dan menurut susastra Hindu, upacara ini bertujuan untuk menyucikan alam semesta,” paparnya.

Dalam pelaksanaan Tawur Kesanga, empat pos penirtaan disiapkan di area Catuspata Desa Adat Buleleng. Pos 1 berada di pusat upacara Catuspata, Pos 2 di kawasan Sasana Budaya dan sekitarnya, Pos 3 di sebelah selatan Catuspata, serta Pos 4 di sebelah utara Catuspata.

Upacara Tawur Kesanga bukan sekadar ritual, melainkan bentuk nyata dari keseimbangan alam semesta dan harmonisasi kehidupan. Melalui yadnya yang tulus, umat Hindu di Buleleng kembali mengukuhkan ajaran Tri Hita Karana: menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. (*)

Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts