Singaraja, koranbuleleng.com| Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja meluncurkan program Love Ringing untuk menekan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kalangan pasangan tunarungu. Program ini lahir melalui Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) sebagai wujud kepedulian akademisi terhadap isu sosial yang kerap terabaikan.
Ketua Tim, Ni Made Mili Dwi Cahyani, menegaskan bahwa pasangan suami istri tunarungu sering kali terjebak dalam konflik emosional yang berujung pada kekerasan. Minimnya kemampuan komunikasi serta terbatasnya akses edukasi emosional menjadi salah satu penyebab.
“Program ini kami rancang tidak hanya sebagai terapi emosional, tetapi juga sebagai ruang afirmasi dan penguatan relasi antar pasangan. Melalui yoga dan simulasi ekspresi simbolik, pasangan suami istri tunarungu belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan,” ujar Cahyani.
Program Love Ringing menyasar Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, yang dikenal sebagai komunitas kolok terbesar di dunia. Cahyani bersama tim yang terdiri dari Made Yoga Sedana Kori, Ni Luh Gede Ayu Puteri Susanthi, Ni Kadek Mei Ariani, dan Gede Shindu Krisnawinata merancang metode yang menyentuh langsung aspek psikologis pasangan tunarungu.
Dalam pelaksanaannya, program ini menggabungkan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan praktik yoga Surya Namaskara. Peserta diajak memahami emosi, mengenali pikiran irasional, serta membentuk pola pikir yang lebih sehat dan rasional. Kegiatan dikemas dalam empat tahap edukatif, yaitu Love Ringing 1 hingga Love Ringing 4, dengan penyampaian materi melalui bahasa isyarat lokal atau kata kolok.
Cahyani menekankan bahwa program ini menjadi bentuk nyata keterlibatan mahasiswa dalam upaya pencegahan kekerasan sekaligus pemberdayaan penyandang disabilitas.
“Program ini tidak hanya menjadi upaya untuk menekan angka KDRT, tetapi juga menjadi ruang bagi pasangan tunarungu untuk membangun keluarga yang lebih harmonis, komunikatif, dan penuh kasih,” kata Cahyani.
Program yang berlangsung selama empat bulan ini turut didampingi oleh dosen Undiksha. Kehadirannya mempertegas komitmen Undiksha dalam mendukung perlindungan terhadap perempuan dan kelompok difabel, khususnya di Buleleng.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

