TITD Ling Gwan Kiong Gelar Ritual Cisuak sebagai Tolak Bala dalam Rangkaian Cap Go Meh 

Singaraja, koranbuleleng.com | TITD Ling Gwan Kiong menggelar ritual Cisuak atau tolak bala sebagai bagian dari rangkaian perayaan Cap Go Meh di Kota Singaraja, Buleleng. Prosesi sakral ini diikuti ratusan umat Tri Dharma yang memanjatkan doa demi keselamatan, kesehatan, dan kelancaran usaha pada Tahun Kuda Api, Selasa, 3 Maret 2026.

Pagi itu, ratusan umat berdatangan ke klenteng tertua di Buleleng. Di dalam klenteng, sejumlah rohaniawan mempersiapkan untuk prosesi ritual Cisuak. Ritual Cisuak menjadi momentum spiritual yang dinilai penting, terutama bagi umat yang shionya dianggap kurang serasi dengan energi tahun berjalan. 

- Advertisement -

Dalam tradisi kepercayaan Tionghoa, ketidakharmonisan itu dikenal dengan istilah chiong, yakni kondisi ketika shio seseorang berbenturan dengan shio tahun tersebut.

Humas TITD Ling Gwan Kiong, Gunadi Yatial, menegaskan bahwa setiap tahun membawa dinamika tersendiri bagi masing-masing shio. “Shio kuda api, setiap tahun ada perubahan-perubahan bagi masing-masing shio. Saat kuda api, seperti tahun-tahun sebelumnya ada yang chiong. Shio yang kurang serasi dengan shio tahun ini,” jelas Gunadi.

Pada Tahun Kuda Api, shio yang mengalami chiong besar adalah kuda dan tikus. Sementara itu, kelinci dan ayam tergolong mengalami chiong kecil.

“Tahun ini yang shio empat ini jalannya kurang baik, ada rintangan-rintangan baik di kehidupan sehari-hari, usaha, kesehatan. Menurut Tri Dharma perlu upacara tolak bala. Membersihkan diri agar terhindar dari hal-hal negatif,” tegasnya.

- Advertisement -

Secara keyakinan, kondisi tersebut diyakini dapat memunculkan hambatan dalam aktivitas harian, gangguan usaha, hingga persoalan kesehatan, sehingga umat memilih melakukan ritual sebagai bentuk ikhtiar batin.

Dalam prosesi Cisuak, umat melaksanakan sembahyang dengan mempersembahkan dupa wangi, bunga, buah-buahan, serta kue persembahan. Namun terdapat satu elemen penting yang menjadi ciri khas ritual tolak bala ini.

“Paling utama sediakan lima macam kacang-kacangan. Ngokol saat mengadakan tolak bala kita sebarkan membuang sial,” ungkap Gunadi.

Ritual dipimpin rohaniawan yang mendoakan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa-dewi. Nama-nama shio yang mengalami chiong disebutkan secara khusus agar dijauhkan dari marabahaya serta kesulitan, sehingga kehidupan berjalan lebih lancar.

Selain persembahyangan, terdapat simbol potong rambut yang dimaknai sebagai upaya menghilangkan kesialan. Umat juga melaksanakan fang sen, yakni melepas hewan sebagai lambang membuang hal-hal negatif dalam kehidupan.

“Melepas hewan yang disangkar itu intinya. Banyak permintaan hewan dilepas. Asal hewan bukan dari alam. Tambah lama tambah sedikit,” ujarnya.

Setiap tahun, ritual ini diikuti sekitar 200 hingga 300 orang. Meski demikian, partisipasi disebut perlahan mengalami penurunan.

Salah satu peserta ritual, Sienly, 48 tahun, warga Kampung Tinggi, Kecamstan Buleleng, yang bershio kuda, mengaku rutin mengikuti Cisuak sebagai bentuk harapan akan perubahan yang lebih baik.

“Ikut Cisuak, biar perubahan tahun ini. Sendiri. Ikut 12 atau 10 tahun. Chiong kecil pernah tidak ikut. Ikut ritual sudah dua kali ikut. Biar lebih baik tahun ini,” tuturnya.

Bagi warga Buleleng, khususnya komunitas Tionghoa di Singaraja, ritual ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan dalam rangkaian Cap Go Meh, tetapi juga ruang refleksi spiritual di tengah dinamika kehidupan sosial dan ekonomi.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru