Anggota DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana Soroti Alih Vegetasi sebagai Pemicu Banjir Bandang

Singaraja, koranbuleleng.com | Anggota DPR RI daerah pemilihan Bali, I Ketut Kariyasa Adnyana, menyoroti dugaan perubahan tutupan lahan di wilayah hulu sebagai salah satu faktor yang berpotensi memicu terjadinya banjir bandang di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Selain faktor cuaca ekstrem yang melanda wilayah Bali belakangan ini, perubahan vegetasi di daerah hulu dinilai perlu menjadi perhatian serius untuk mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.

- Advertisement -

Politisi yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tersebut sempat turun langsung meninjau lokasi terdampak banjir bandang di Desa Banjar pada Sabtu, 7 Maret 2026 sore. Dalam kunjungan itu, ia melihat kondisi warga sekaligus memantau proses penanganan darurat yang sedang dilakukan oleh petugas di lapangan.

Kariyasa menyampaikan rasa prihatin mendalam atas peristiwa yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan rumah warga tersebut. “Saya turut prihatin dan berduka cita atas bencana di Buleleng. Kalau kami lihat data sejak 2002, intensitas dan kuantitas bencana semakin tinggi. Bahkan Denpasar yang dulu tidak pernah banjir, beberapa tahun terakhir juga mengalami banjir,” ujar Kariyasa.

Kariyasa mengatakan pihaknya terus menjalin koordinasi dengam Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Sosial Republik Indonesia serta berbagai lembaga terkait guna mempercepat penanganan korban terdampak.

Ia menegaskan bahwa langkah awal yang harus dilakukan setelah bencana adalah proses asesmen dan pendataan korban secara cepat serta akurat. Pendataan tersebut perlu dilakukan secara berjenjang, mulai dari pemerintah desa hingga pemerintah pusat agar bantuan dapat segera disalurkan.

- Advertisement -

“Pendataan dari bawah sangat penting. Pemerintah daerah sampai tingkat paling kecil harus membantu melakukan asesmen sehingga bantuan bisa cepat disalurkan,” ujarnya.

Melalui skema bantuan pemerintah pusat, lanjut Kariyasa, korban bencana dapat memperoleh berbagai bentuk dukungan. Bantuan tersebut meliputi santunan Rp15 juta bagi korban meninggal dunia, hampir Rp10 juta bagi korban yang menjalani perawatan di rumah sakit, serta Rp5 juta bagi masyarakat terdampak lainnya.

Tidak hanya itu, pemerintah juga memiliki skema bantuan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana, baik kategori rusak ringan, rusak berat, maupun pembangunan rumah baru bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Di tengah proses pencarian korban serta penanganan darurat yang masih berlangsung, Kariyasa juga menyinggung kemungkinan keterkaitan antara banjir bandang dengan perubahan vegetasi di kawasan hulu.

Menurutnya, di sejumlah wilayah di Bali terjadi pergeseran pola tanam dari tanaman keras menuju tanaman produktif yang secara ekologis dinilai kurang mampu menahan struktur tanah maupun aliran air saat hujan deras mengguyur.

“Tanaman keras yang dulu menahan tanah diganti tanaman yang akarnya tidak kuat menahan tanah dan lumpur. Ini harus dikaji lebih mendalam,” jelasnya.

Ia menilai perubahan vegetasi tersebut sering didorong oleh pertimbangan ekonomi masyarakat, seperti mengganti pohon besar dengan komoditas produktif, misalnya kopi atau tanaman buah. Meski memberikan keuntungan ekonomi, langkah tersebut berpotensi memunculkan dampak lingkungan yang perlu diperhitungkan secara serius.

“Secara ekonomi mungkin menguntungkan, tapi dampak lingkungannya harus dipikirkan. Bali ini pulau kecil dan daerah pariwisata, sehingga isu bencana sangat sensitif,” katanya.

Selain faktor perubahan vegetasi, Kariyasa juga mengakui bahwa banjir bandang kali ini dipicu hujan dengan intensitas sangat tinggi yang turun dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menurutnya menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim harus semakin diwaspadai.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk lebih gencar melakukan edukasi serta sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat, terutama di tingkat desa.

“Masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi secara tiba-tiba,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru