Banjir Bandang Rusak SDN 5 Banjar, Disdikpora Pastikan Proses Belajar Tetap Berjalan

Singaraja, koranbuleleng.com | Banjir bandang yang menerjang Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng pada Jumat malam, 6 Maret 2026, menyebabkan kerusakan serius pada SD Negeri 5 Banjar. Meski sejumlah fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, pemerintah daerah memastikan aktivitas belajar mengajar bagi siswa tetap berlangsung.

Terjangan air bah yang datang secara tiba-tiba menghantam kawasan sekolah hingga merobohkan tembok penyengker. Air yang meluap dari aliran sungai juga masuk ke lingkungan sekolah dan menggenangi beberapa ruang kelas.

- Advertisement -

Material lumpur yang terbawa arus banjir menutup sebagian besar ruangan. Sejumlah fasilitas belajar milik siswa ikut tertimbun endapan lumpur yang cukup tebal.

Saat banjir melanda, tinggi genangan air di kawasan sekolah diperkirakan mencapai sekitar 2,5 meter. Setelah air mulai surut, kondisi lingkungan sekolah tampak mengalami kerusakan cukup berat.

Bagian halaman bawah sekolah tertutup lumpur, sementara beberapa ruang belajar dipenuhi endapan material hingga ketebalan sekitar setengah meter. Kondisi ini membuat sebagian fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan untuk sementara waktu.

Dampak kerusakan paling parah terjadi pada tiga ruang kelas, yakni kelas IV, V, dan VI. Ketiga ruangan tersebut tertimbun lumpur yang merendam berbagai perlengkapan belajar siswa.

- Advertisement -

Selain ruang kelas, perpustakaan sekolah juga tidak luput dari dampak banjir. Sejumlah koleksi buku serta perabot yang berada di dalam ruangan tersebut mengalami kerusakan setelah terendam air bercampur lumpur.

Kerusakan juga terjadi pada berbagai aset sekolah. Berdasarkan pendataan sementara, banjir merusak sekitar 50 meja siswa dan 100 kursi siswa. Selain itu, empat lemari, empat rak buku, serta tujuh meja baca juga dilaporkan tidak dapat digunakan akibat kerusakan.

Peralatan elektronik turut terdampak. 

Satu unit komputer dilaporkan terendam sepenuhnya. Sementara itu, satu unit Interactive Flat Panel (IFP) hanya terendam pada bagian bawah dan masih dalam proses pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kerusakannya.

Beberapa buku pelajaran serta perangkat elektronik lainnya juga dilaporkan mengalami kerusakan karena terendam air dan lumpur yang masuk ke dalam ruangan sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Luh Putu Adi Ariwati, menjelaskan bahwa pihaknya segera mengambil langkah koordinasi untuk mempercepat penanganan dampak kerusakan tersebut.

Menurutnya, Disdikpora Buleleng akan bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait untuk melakukan pembersihan lingkungan sekolah sekaligus mengupayakan penyelamatan aset yang masih dapat dimanfaatkan.

Pendataan kerusakan juga akan dilakukan secara menyeluruh sebagai dasar penentuan langkah penanganan selanjutnya.

“Hasil inventarisasi selanjutnya akan kami laporkan dengan berkoordinasi bersama Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penghapusan aset sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya Senin, 9 Maret 2026.

Ariwati menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar bagi siswa tetap akan dilaksanakan meskipun kondisi sekolah terdampak banjir.

Ruang kelas yang masih layak pakai akan dimanfaatkan sementara waktu. Selain itu, pihak dinas juga menyiapkan opsi pembelajaran dengan sistem dua shift, yakni pagi dan siang, agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti proses pendidikan.

Apabila kondisi ruang belajar belum memungkinkan, sebagian siswa akan dialihkan sementara untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah lain yang berada di sekitar wilayah tersebut.

“Pembelajaran anak-anak harus tetap berjalan, apalagi saat ini sudah mendekati ujian sekolah,” ucapnya.

Upaya penanganan dampak bencana juga melibatkan berbagai instansi teknis di Kabupaten Buleleng. Disdikpora berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta pemadam kebakaran guna membantu proses pembersihan lumpur yang menutupi area sekolah.

Selain penanganan jangka pendek, pemerintah daerah juga mulai mempertimbangkan langkah mitigasi jangka panjang untuk meminimalkan risiko kerusakan serupa di masa mendatang.

Salah satu rencana yang dipertimbangkan adalah mengusulkan revitalisasi pemagaran sekolah guna memperkuat perlindungan area sekolah dari potensi banjir.

Namun posisi sekolah yang berada dekat dengan aliran sungai membuat potensi banjir tetap perlu diantisipasi. Karena itu, koordinasi lintas perangkat daerah juga akan dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk membahas kemungkinan normalisasi sungai maupun pembangunan tanggul pengaman.

“Fokus kami saat ini adalah mempercepat pembersihan lingkungan sekolah agar kembali bersih dan aman. Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah desa setempat untuk mempercepat proses tersebut,” kata Ariwati.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru