Singaraja,koranbuleleng.com| Lembaga pendidikan anak usia dini Rare Bali School kembali menghadirkan ruang pembelajaran budaya melalui penyelenggaraan Festival Budaya Rare Bali School VII Tahun 2026 di Singaraja, Kabupaten Buleleng. Kegiatan tahunan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai budaya Bali kepada anak sejak usia dini.
Festival yang mengangkat tema “Membangun Karakter Berlandaskan Budaya Luhur Bali dan Melestarikan Jati Diri” tersebut dirancang sebagai sarana edukasi sekaligus pelestarian tradisi lokal melalui keterlibatan anak-anak, tenaga pendidik, orang tua, serta masyarakat.
Berbagai aktivitas seni dan budaya ditampilkan untuk memperkenalkan warisan budaya Bali secara lebih dekat kepada generasi muda.
Festival Budaya Rare Bali School tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga ruang pembelajaran berbasis budaya. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal identitas budaya mereka melalui lomba, pertunjukan seni tradisional, hingga kegiatan edukatif yang dikemas secara kreatif.
Rangkaian festival berlangsung selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Maret 2026 di Kota Singaraja. Kegiatan pembuka dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026, dengan pawai ogoh-ogoh yang melibatkan para siswa.
Pawai tersebut mengambil rute dari kawasan GOR Bhuana Patra, melintasi Jalan Udayana, hingga berakhir di Taman Kota Singaraja. Suasana kemeriahan budaya kemudian berlanjut pada Sabtu, 14 Maret 2026, yang dipusatkan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno. Pada hari kedua ini, anak-anak Rare Bali School menampilkan berbagai kreativitas seni.
Pertunjukan baleganjur, tari kreasi anak, serta penampilan seni tradisional menjadi bagian dari agenda yang disuguhkan kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan juga diramaikan dengan lomba karaoke lagu anak Bali serta Fashion Show Busana Adat Bali yang melibatkan kolaborasi antara anak dan orang tua.
Festival mencapai puncaknya pada Minggu, 15 Maret 2026, dengan rangkaian pertunjukan budaya yang lebih besar. Sejumlah penampilan seperti Tari Pendet Kolosal, baleganjur Rare Bali School, serta Tari Gopala turut meramaikan panggung utama festival.
Selain pertunjukan, panitia juga menggelar beberapa kompetisi budaya yang terbuka bagi peserta dari luar sekolah. Di antaranya Lomba Jegeg Bagus Rare serta Lomba Baleganjur, yang menjadi daya tarik tersendiri dalam perhelatan budaya tersebut.
Kepala Sekolah Rare Bali School, Ni Komang Anggrayeni, menegaskan bahwa festival budaya ini memiliki makna penting bagi proses pendidikan karakter anak.
“Festival ini merupakan laboratorium hidup bagi anak-anak untuk belajar tentang toleransi, apresiasi, dan identitas diri. Di tengah arus globalisasi yang begitu kuat, mengenal dan mencintai budaya sendiri adalah langkah penting untuk menjaga jati diri,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial sekolah, tetapi juga sarana pembelajaran nyata yang mempertemukan pendidikan dengan nilai-nilai budaya lokal.
Melalui festival budaya ini, Rare Bali School berharap dapat menghadirkan ruang kolaborasi yang mampu menginspirasi masyarakat, khususnya ekosistem pendidikan anak usia dini di Bali, untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang berbasis budaya.
Pendekatan pendidikan yang mengedepankan karakter, kreativitas, dan nilai tradisi dinilai penting untuk membangun generasi muda Bali yang tetap berakar pada budaya daerahnya.
Rare Bali School sendiri merupakan lembaga pendidikan anak usia dini yang berada di bawah naungan Kiddy Bali Foundation. Lembaga ini berkomitmen mengembangkan sistem pendidikan yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, penguatan budaya, serta pengembangan kreativitas anak sejak dini.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

