Singaraja, koranbuleleng.com| Perumda Swatantra Buleleng tetap membidik setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,5 miliar meski harus menghadapi lonjakan biaya operasional. Perusahaan daerah milik Pemkab Buleleng itu mengandalkan penguatan tiga sektor usaha untuk menjaga pertumbuhan bisnis, yakni perkebunan, penyewaan kendaraan, dan perdagangan pangan.
Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto, menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), pajak, hingga biaya produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan komitmen perusahaan dalam mengejar target kontribusi bagi daerah.
“Kenaikan biaya ini tentu menjadi tantangan bagi kami. Namun kami tetap berupaya menjaga kinerja usaha sekaligus memenuhi target kontribusi PAD kepada daerah,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi III DPRD Buleleng, Selasa, 21 Juli 2026.
Perumda Swatantra mencatat kinerja keuangan yang cukup kuat sepanjang 2025. Perusahaan daerah tersebut berhasil membukukan laba sekitar Rp2,2 miliar yang menjadi pijakan untuk meningkatkan kontribusi terhadap PAD sekaligus memperluas sektor usaha.Sektor perkebunan menjadi salah satu mesin utama bisnis Perumda Swatantra. Perusahaan mengelola lahan seluas 82,43 hektare dengan komoditas utama kopi dan cengkih, serta tanaman pendukung seperti durian, alpukat, pisang, dan talas.
Selain mengandalkan sektor agribisnis, Perumda Swatantra juga memperkuat bisnis penyewaan kendaraan. Jumlah armada mengalami peningkatan signifikan dari 68 unit pada 2020 menjadi 104 unit saat ini. Armada tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan transportasi berbagai instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga rumah sakit.
“Peningkatan armada berdampak langsung pada pendapatan perusahaan. Saat ini kami sudah berada di posisi tiga besar perusahaan penyewaan kendaraan di Bali,” kata Boby.
Di sektor perdagangan, Perumda Swatantra terus memperluas jaringan bisnis pangan dengan menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Produk yang dipasarkan mulai dari beras, bawang, minyak goreng, gula, garam, hingga jagung.
Meski sejumlah lini usaha mengalami perkembangan, perusahaan masih menghadapi tekanan biaya yang cukup besar. Beban pajak meningkat dari sekitar Rp1,2 miliar menjadi Rp1,827 miliar atau bertambah hampir Rp700 juta.
Selain pajak, kenaikan harga BBM, suku cadang kendaraan, serta kebutuhan kemasan turut memberikan tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.
Ketua Komisi III DPRD Buleleng, Ketut Susila Umbara, menilai perkembangan Perumda Swatantra menunjukkan tren positif dibandingkan sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lainnya.
Ia mendorong perusahaan tersebut memperluas sektor usaha dengan mengintegrasikan potensi pertanian, perkebunan, hingga peternakan agar mampu menciptakan sumber pendapatan baru.
“Potensinya sangat besar. Kami berharap setelah kajian kelayakan selesai, rencana pengembangan usaha ini mendapat dukungan sehingga bisa memberikan kontribusi PAD yang lebih besar bagi daerah,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

