Singaraja, koranbuleleng.com | Kasus balap sepeda liar yang melibatkan puluhan pelajar di Buleleng mendapat respons dari Pengurus Kabupaten (Pengkab) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Buleleng. Organisasi olahraga tersebut memilih membuka jalur pembinaan bagi anak-anak yang memiliki kemampuan balap sepeda agar potensi mereka tidak berkembang di arena liar.
Polres Buleleng sebelumnya mengamankan 32 orang dalam aktivitas balap sepeda liar yang disertai perjudian. Sebagian besar dari mereka diketahui masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur.
Ketua Umum Pengkab ISSI Buleleng, Kadek Turkini, menyayangkan keterlibatan anak-anak dalam aktivitas tersebut. Menurutnya, usia mereka masih berada dalam fase pendidikan sehingga membutuhkan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan minat dan kemampuan.
“Ya sebenarnya kan sangat prihatin dengan kejadian tersebut, apalagi yang diamankan menurut informasi adalah anak-anak yang masih berstatus sekolah. Masih di bawah umur,” ujar Turkini, Kamis, 24 September 2026.
Turkini menyebut, tidak menutup kemungkinan kemampuan balap yang dimiliki para pelajar tersebut justru dapat menjadi modal untuk dibina menjadi atlet. ISSI Buleleng membuka kesempatan bagi mereka yang memang memiliki keterampilan dan keseriusan di cabang olahraga sepeda.
Menurut dia, jalur olahraga resmi dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mengejar prestasi.
“Seandainya anak-anak ini punya skill, punya kemampuan dalam hal balap sepeda, mari bergabung di ISSI Buleleng. Kemampuan dan skill balap sepeda mereka ini bisa kami arahkan ke hal yang lebih postif dengan menjadi atlet profesional dan meraih prestasi yang membanggakan,” terangnya.
Pembinaan pelajar kini menjadi salah satu perhatian ISSI Buleleng. Organisasi tersebut berencana memperluas penjaringan bibit atlet dengan masuk ke lingkungan sekolah.
Program tersebut akan menyasar pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, SMP hingga SMA. ISSI Buleleng juga menyiapkan kejuaraan sepeda sebagai ruang bagi para pelajar untuk menguji kemampuan secara resmi.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah kejuaraan BMX. Sosialisasi kegiatan tersebut nantinya dilakukan ke sekolah-sekolah sehingga pelajar yang memiliki minat terhadap balap sepeda dapat memperoleh informasi dan kesempatan mengikuti pembinaan.
Bagi ISSI Buleleng, kompetisi pelajar tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk menemukan atlet-atlet muda yang memiliki kemampuan dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Karena ini anak-anak masih di bawah umur, artinya masih dalam tahap pembelajaran di sekolah, itu juga sudah menjadi skala prioritas kami di ISSI untuk merekrut anak-anak ini,” jelasnya.
Turkini menyebut agenda kejuaraan BMX tersebut akan dilaksanakan setelah rangkaian Pra-Porprov selesai.
Turkini juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak di luar sekolah. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam memastikan waktu anak digunakan untuk kegiatan yang memberikan dampak positif.
Ia meminta orang tua tidak sepenuhnya menyerahkan pembentukan perilaku anak kepada sekolah. Komunikasi di lingkungan keluarga dinilai perlu diperkuat, terutama untuk memberikan pemahaman mengenai tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
“Sebagai orang tua wajib memberikan perhatian, tidak serta-merta mempercayakan kepada pihak sekolah. Selama berada di rumah harus kita manfaatkan betul, harus kita ajak anak berkomunikasi, semacam mengedukasi apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan,” katanya.
Peran sekolah juga dinilai tidak berhenti pada pencapaian akademik. Turkini mendorong pendidikan karakter berjalan beriringan dengan proses belajar agar peserta didik memahami batasan perilaku dan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
“Untuk di sekolah juga, anak-anak jangan hanya diberikan tugas. Tapi berikan juga pendidikan karakter, agar anak-anak memiliki pribadi yang baik, sopan, bermoral dan tidak melakukan kegiatan yang melanggar hukum,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

