Kariyasa Soroti GOR Bhuana Patra Tak Lagi Representatif, Buleleng Butuh Fasilitas Olahraga Baru

Singaraja, koranbuleleng.com | Antusiasme anak muda memadati KMS Soekarno Cup XIII menjadi perhatian Anggota Komisi VIII DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana. Tingginya jumlah peserta dan penonton justru membuka persoalan lain, yakni keterbatasan fasilitas olahraga di Buleleng.

Kariyasa menyampaikan sorotan tersebut saat penutupan KMS Soekarno Cup XIII di GOR Bhuana Patra Singaraja, Selasa, 6 Oktober 2026 malam.

- Advertisement -

Menurut Kariyasa, penyelenggaraan KMS yang telah berlangsung hingga edisi ke-13 membuktikan olahraga memiliki ruang penting bagi anak muda. Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang bertanding, tetapi juga wadah untuk menyalurkan energi dan mengembangkan potensi generasi muda.

Ia menilai pemerintah perlu menyediakan lebih banyak ruang aktivitas yang terarah bagi anak muda. Olahraga menjadi salah satu pilihan yang dinilai mampu menampung kebutuhan tersebut.

“Selama ini kita tahu anak muda itu mempunyai energi, mempunyai power yang begitu kuat, tentu harus kita bikinkan wadah. Wadah itu dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang positif seperti olahraga ini, sehingga ini KMS ini salah satu wadah di bidang olahraga khususnya di Futsal dan sebelumnya ada voli juga,” ujarnya.

Namun, tingginya antusiasme tersebut belum sepenuhnya ditopang fasilitas yang memadai. Kariyasa menilai kondisi GOR Bhuana Patra menjadi salah satu catatan penting setelah melihat langsung kepadatan masyarakat selama pelaksanaan kompetisi.

- Advertisement -

Menurutnya, kapasitas gedung sudah tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang datang. Selain persoalan daya tampung, aspek keamanan juga perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga dengan jumlah penonton yang besar.

“Ini menjadi catatan bagi kita semua bahwa ternyata stadion ini memang kurang kurang representatif. Untuk ke depan dengan begitu antusiasnya, ini harus dibuatkan beberapa wadah stadion yang representatif untuk kegiatan-kegiatan olahraga. Karena kan kalau kita lihat tadi kan kapasitas sudah sudah tidak cukup kemudian dari segi keamanannya juga,” kata dia.

Kariyasa mendorong pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Kabupaten Buleleng, memperkuat pembangunan infrastruktur olahraga. Fasilitas yang layak dinilai penting untuk memberikan ruang aktivitas sekaligus menunjang proses pembinaan atlet.

“Tentu kalau kita inginkan nanti ke depan itu untuk memberikan kemajuan bidang olahraga dan memberikan ruang bagi anak muda itu harus kita dari pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten. Infrastruktur yang layak itu, merupakan untuk wadah anak muda beraktivitas dan olahraga itu sendiri,” ucapnya.

Selain membangun sarana olahraga, ia meminta pembinaan atlet dilakukan secara berjenjang. Potensi atlet Buleleng perlu dijaring sejak usia sekolah agar proses regenerasi tidak berhenti pada satu generasi.

Kariyasa menyebut jenjang SMP dan SMA dapat menjadi titik awal pencarian sekaligus pembinaan bibit atlet. Dengan pola tersebut, kompetisi seperti KMS Soekarno Cup dapat menjadi bagian dari proses menemukan atlet potensial.

“Pemerintah daerah itu harus melakukan suatu pembinaan dari tingkat bawah dari SMP, SMA sehingga tentunya ini nanti akan muncul atlet-atlet yang handal nanti untuk terutama kegiatan futsal ini,” kata dia.

Kariyasa juga membuka peluang dukungan bagi atlet berprestasi yang lahir dari kompetisi olahraga di Buleleng. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada pembinaan maupun akses pendidikan bagi atlet yang dinilai memiliki kemampuan dan membutuhkan dukungan.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru