BKSDA Tangkap Dua Monyet Liar di SDN 2 Wanagiri, Konflik Satwa Berulang Sejak 2023

Singaraja, Koranbuleleng.com | Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menangkap dua monyet ekor panjang yang berkeliaran di lingkungan SD Negeri 2 Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Penangkapan ini menjadi bagian dari upaya pengendalian konflik satwa liar yang berulang di kawasan tersebut.

Petugas menangkap kedua monyet berjenis kelamin jantan dewasa itu pada Sabtu, 10 Oktober 2026 setelah memasang perangkap di sekitar sekolah. Keduanya kemudian dibawa ke shelter milik Jaringan Satwa Indonesia (JSI) di Kabupaten Buleleng untuk menjalani penanganan lebih lanjut.

- Advertisement -

Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, mengatakan tindakan tersebut dilakukan untuk mengendalikan populasi sekaligus menangani konflik antara manusia dan satwa liar.

“Tujuannya pengendalian populasi dan penanganan konflik satwa,” kata Ratna, Minggu, 11 Oktober 2026.

Berdasarkan pemantauan petugas di lapangan, terdapat lima monyet ekor panjang yang berada di sekitar sekolah pada Sabtu pagi. Kawanan tersebut terdiri atas tiga monyet dewasa dan dua anakan.

Namun, petugas baru berhasil menangkap dua individu dewasa dari kelompok tersebut. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penanganan tiga monyet lainnya yang terpantau di lokasi.

- Advertisement -

Penangkapan ini dilakukan setelah aktivitas monyet liar di lingkungan sekolah menjadi perhatian menyusul insiden yang melibatkan seorang siswa pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Di luar kejadian tersebut, keberadaan kawanan monyet juga dilaporkan mengganggu lingkungan sekitar. Warga menyebut satwa itu kerap berada di atap bangunan dan merusak kabel jaringan internet.

BKSDA Bali mencatat konflik manusia dengan monyet ekor panjang di Desa Wanagiri bukan kali pertama terjadi. Insiden serupa dilaporkan beberapa kali dalam rentang 2023 hingga 2026. Dalam penanganan sebelumnya, petugas menemukan sekitar 35 individu monyet ekor panjang di lokasi kejadian.

BKSDA menyatakan penanganan konflik akan dilakukan melalui pembinaan habitat dan pengendalian populasi dengan mempertimbangkan daya dukung habitat. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menangani konflik satwa liar tanpa mengabaikan aspek konservasi.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru