Singaraja, koranbuleleng.com | Pemandangan antrean panjang kendaraan bermotor di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Buleleng sudah membuat putus asa warga. Deretan sepeda motor hingga mobil memanjang hingga menggunakan bahu jalan raya, memicu kemacetan arus lalu lintas dan menyita waktu masyarakat yang hendak beraktivitas.
​Menyikapi kondisi tersebut, muncul desakan dari berbagai kalangan agar PT Pertamina (Persero) mengoptimalkan keberadaan unit Pertashop serta outlet Pertamini yang tersebar hingga ke pelosok desa untuk membantu mendistribusikan Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite maupun Pertamax.
​Camat Kubutambahan, I Nyoman Arya Lanang Subahagia Putra, mengusulkan langkah tersebut. Menurutnya, keberadaan Pertashop dan unit pengisian BBM skala kecil di tingkat desa sangat potensial untuk mengurai penumpukan di SPBU utama perkotaan maupun kecamatan.
​”Di desa-desa itu jumlah Pertashop maupun Pertamini cukup banyak. Kalau unit-unit ini diberdayakan dan diberikan jatah distribusi BBM yang memadai, tentu masyarakat tidak perlu berbondong-bondong mengantre di SPBU utama,” ujar Lanang Subahagia Putra.
​Kendati demikian, Camat Kubutambahan ini memberikan catatan tebal terkait aspek pengawasan dan keterjangkauan harga. Ia menegaskan bahwa skema pemberdayaan ini tidak boleh dijadikan celah untuk permainan harga di tingkat pengecer.
​”Harga BBM harus tetap normal sesuai ketetapan pemerintah, baik di Pertashop maupun unit pengisian di desa. Harus ada pengawasan ketat dari pihak berwenang agar tidak ada kenaikan harga sepihak yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
​Dukungan serupa disampaikan oleh Made Gunadi, seorang pengendara ojek online (ojol) yang sehari-hari menggantungkan mata pencahariannya di jalan raya. Ia mengaku efisiensi waktu sangat krusial bagi kelangsungan pekerjaannya.
​”Kalau harus antre sampai berjam-jam di SPBU, waktu kami habis di jalan dan tarikan penumpang jadi berkurang drastis. Kalau di desa atau pinggiran kota sudah ada pengisian resmi dengan harga yang sama, antrean pasti terurai,” ungkap Gunadi.
​Berdasarkan data sebaran outlet migas Pertamina, Provinsi Bali saat ini memiliki lebih dari 150 unit Pertashop yang sebagian besar tersebar di kawasan pedesaan dan jalur perbatasan antar-kecamatan.
Khusus di Kabupaten Buleleng sendiri, tercatat ada sekitar 40 hingga 50 unit Pertashop yang siap menopang kebutuhan energi masyarakat hingga ke pelosok.
​Masyarakat berharap Pertamina bersama pemerintah daerah segera mengambil langkah strategis guna mengoptimalkan peran Pertashop, sehingga penumpukan antrean BBM di Bali, khususnya Buleleng, dapat segera teratasi. (*)
Pewarta: I Putu Nova Anita Putra

