​Jakarta, koranbuleleng.com | Pusing memikirkan traffic yang makin anjlok dan dapur redaksi yang harus tetap mengebul jadi obrolan hangat dalam suasana adem dan santai di ajang Local Media Summit (LMS) 2024. Ratusan pemilik media siber dan content creator dari berbagai pelosok Indonesia berkumpul bukan sekadar untuk bereuni, melainkan membongkar realita pahit bisnis media bahwa era kejayaan iklan banner dan buru-mencari klik resmi usai.
​Diskusi panel bertajuk “Beyond Media Advertising: Membongkar Model Bisnis & Revenue Alternatif” ini menghadirkan deretan pakar bisnis media. Di antaranya Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi; Google News Partner Manager untuk Indonesia, Filipina, dan Bangladesh, Yos Kusuma; CEO & Co-Founder PROPS, Ilona Juwita; serta IMS Media Business Advisor, Danny Yord. Diskusi dipandu oleh Country Director Internews Indonesia, Eva Danayanti.
​
Saatnya Move On dari “Zaman Majapahit”. Bahkan Dahlan Dahi blak-blakan menyebut bahwa media siber lokal saat ini sedang menghadapi babak baru yang dinamakan new normal. Pasar iklan digital di Indonesia memang raksasa menyentuh angka fantastis sekitar Rp71 triliun namun ironisnya, banyak media lokal justru megap-megap, berdarah-darah, hingga berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan rubrik.
​”Jangan pernah bayangkan situasi akan kembali lagi seperti era dulu, zaman keemasan ketika traffic melimpah ruah dan uang iklan datang dengan mudah. Itu masa lalu,” sentil Dahlan di hadapan para peserta.
​Kehadiran AI dan mesin pencari cerdas membuat kebiasaan pembaca berubah drastis. Kalau dulu orang gemar mengeklik tautan berita, kini mereka cukup membaca jawaban instan dari mesin pencari. Akibatnya, traffic kunjungan ke media rontok berjemaah hingga 50% sampai 70%.
​Gotong Royong Meracik Strategi Baru
​
Meski situasinya tampak bikin pusing, para narasumber sepakat bahwa gulung tikar bukanlah satu-satunya pilihan. Di sinilah para pemilik media siber dan content creator diajak untuk melek data audiens (first-party data) serta membangun komunitas yang loyal.
​Yos Kusuma dari Google turut membagikan berbagai amunisi gratis yang bisa dimanfaatkan pengelola media, mulai dari Project Sigma untuk memahami selera Gen Z, perangkat Reader Revenue Manager, hingga ragam fitur yang siap membantu media mengeksperimentasi model langganan maupun kontribusi pembaca.
​Sementara itu, Danny Yord memberikan suntikan semangat kepada para pimpinan media yang hadir. Menurutnya, sudah saatnya pengelola media tidak hanya fokus menghabiskan waktu di balik meja redaksi. Sekitar 20% hingga 30% porsi energi harus dialokasikan secara serius untuk memikirkan strategi bisnis dan diversifikasi pendapatan alternatif.
​Prigtam Manager LMS Asep Saefullah mengatakan agenda kumpul para oemikik media siber dan konten kreator inj cukup berguna untuk sharing bisnis media di era gempuran akal kmitasi (AI). Mereka mendapatkan pilihan-pilihan bisnis dan bisa membentuk kolaborasi baru untuk mempertahankan media yang dikelola.
“Kesemoatan mereka berdiskusi antarkelompok daerah, merumuskan langkah taktis sekembalinya ke daerah masing-masing.” ujar Asep.
Menurut dia, di era digital yang dinamis ini, bertahan hidup bukan lagi soal siapa yang paling banyak mendulang traffic, melainkan siapa yang paling jeli merajut kedekatan dan nilai tambah bagi pembacanya. (*)
Pewarta: I Putu Nova Anita Putra

