Terbesar di Bali, Karhutla Buleleng Capai 159 Hektare

Singaraja, koranbuleleng.com | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Buleleng menjadi yang terluas di Bali sepanjang musim kemarau 2026. Hingga 2 September 2026, luas lahan yang terbakar di Buleleng mencapai 159,07 hektare.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat total karhutla di Bali mencapai sedikitnya 196 hektare selama periode 11 April hingga 2 September 2026. Dari angka tersebut, Buleleng menyumbang luasan terbesar.

- Advertisement -

Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah pada BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan mengatakan, sebagian besar karhutla di Bali terjadi di Buleleng. “Untuk karhutla, yang paling luas di Buleleng, 159,07 hektare,” kata Suryawan , Sabtu, 5 September 2026.

Dari total luasan tersebut, sebanyak 153,42 hektare merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas (HPT). Sementara 5,65 hektare lainnya merupakan lahan pribadi.

Luasan karhutla di Buleleng tersebut jauh lebih besar dibandingkan daerah lain di Bali. Di Klungkung, kebakaran menghanguskan 15 hektare hutan di Kecamatan Nusa Penida dan 2 hektare lahan kosong di Kecamatan Gunaksa.

Karhutla di Karangasem tercatat mencapai 8,10 hektare. Rinciannya, 6 hektare lahan terbakar di Kecamatan Kubu dan 2,10 hektare lahan kosong di Kecamatan Abang yang tersebar di Desa Sukadana, Desa Dukuh, dan Desa Labasari.

- Advertisement -

Sementara itu, kebakaran lahan kosong di Jembrana mencapai 8,05 hektare. Di Bangli, kebakaran hutan di Kecamatan Kintamani tercatat seluas 3,83 hektare.

Ancaman kebakaran selama musim kemarau tidak hanya menyasar kawasan hutan dan lahan. Lokasi pengelolaan sampah juga menjadi titik yang perlu diwaspadai.

BPBD Bali mencatat tiga kejadian kebakaran di lokasi pengelolaan sampah selama periode tersebut.

“BPBD Bali mencatat tiga kejadian kebakaran di lokasi pengelolaan sampah,” ucapnya.

Salah satu kejadian terjadi di Buleleng, yakni kebakaran TPST 3R Banjar Dinas Antapura, Desa Tejakula, pada 15 Juli 2026.

Kebakaran juga terjadi di TPST 3R Culik, Desa Labasari, Kecamatan Abang, Karangasem, pada 7 Juli 2026. Area yang terdampak mencapai sekitar 10 are.

Sementara kebakaran terbaru terjadi di TPA Suwung, Denpasar Selatan, pada 22 Agustus 2026. Area yang terdampak sekitar 2 are.

Menurut Suryawan, kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering meningkatkan risiko kebakaran. Ancaman tersebut tidak hanya berada di kawasan hutan dan lahan, tetapi juga lokasi pengelolaan sampah yang memiliki material mudah terbakar.

BPBD Bali meminta kesiapsiagaan menghadapi kemarau diperkuat. Penanganan bencana dinilai tidak cukup hanya dilakukan setelah kebakaran maupun kekurangan air terjadi.

“Ke depan, penguatan kesiapsiagaan perlu diarahkan pada ketersediaan dan perlindungan sumber air, peningkatan kapasitas infrastruktur penguatan sistem pemantauan, serta koordinasi lintas sektor,” ujar Suryawan.

Menurutnya, mitigasi perlu diperkuat terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan dan kebakaran.

“Potensi kekeringan dan kebakaran perlu dikelola sejak dini melalui pendekatan yang semakin berbasis mitigasi, pengurangan risiko, dan ketahanan,” katanya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru