Singaraja, koranbuleleng.com| Ada perjalanan yang tidak sekadar membawa seseorang ke tempat baru. Tempat yang justru membuat seseorang pulang dengan cara pandang yang berbeda terhadap tanah kelahirannya.
Pengalaman itu dirasakan I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn., dosen Institut Mpu Kuturan (IMK), setelah mengikuti Intersecting Peripheries 2026 di Toyooka, Prefektur Hyogo, Jepang, 18 hingga 24 September 2026.
Di Toyooka, Ardiyasa menemukan bahwa seni tidak selalu tumbuh dibalik panggung dan gedung pertunjukan. Seni dapat hadir di desa, jalan, pasar, kawasan stasiun, kampus, hingga ruang-ruang yang selama ini mungkin dianggap berada di luar pusat kehidupan seni. Di ruang-ruang itulah ia melihat sesuatu yang terasa dekat dengan Buleleng.
Toyooka dan Bali Utara memang berada dalam bentang geografis dan kebudayaan yang berbeda. Namun, keduanya memiliki perjumpaan yang menarik. Adalah tentang desa, masyarakat, tradisi, lanskap, serta pengetahuan lokal yang dapat menjadi sumber kehidupan seni dan kebudayaan.
Ardiyasa menjadi salah satu dari 10 seniman dan produser seni pertunjukan dari sejumlah negara Asia yang mengikuti program Intersecting Peripheries 2026. Program yang digelar oleh Toyooka Theater Festival Executive Committee dengan dukungan The Japan Foundation itu mempertemukan para pelaku seni melalui riset lapangan, pertunjukan, dialog, serta kolaborasi lintas negara.
Bagi Ardiyasa, perjumpaan tersebut tidak berhenti pada pertukaran pengalaman antarnegara.
“Intersecting Peripheries (Pertukaran Budaya Pinggiran) bagi saya bukan hanya tentang bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Program ini membuat saya menemukan bahwa wilayah-wilayah periferi (pinggiran) yang berbeda ternyata memiliki pertanyaan yang serupa,” katanya.
Pertanyaan itu antara lain bagaimana seni dapat tumbuh di luar pusat kebudayaan, bagaimana masyarakat ditempatkan dalam ekosistem kesenian, dan bagaimana pengetahuan lokal tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan, tetapi juga terus dihidupkan melalui praktik kebudayaan.
Selama berada di Toyooka, Ardiyasa mengamati bagaimana Toyooka Theater Festival tidak sekadar menjadi peristiwa pertunjukan. Festival tersebut membentuk ekosistem yang mempertemukan seniman, masyarakat, ruang publik, institusi pendidikan, serta lingkungan sosial tempat seni itu hadir.
Pertunjukan tidak hanya berlangsung di gedung teater. Desa, jalan, pasar, kawasan stasiun, kampus, hingga ruang-ruang nonkonvensional menjadi bagian dari perjumpaan antara seni dan masyarakat. Bagi Ardiyasa, pengalaman tersebut membuka cara pandang lain terhadap ruang seni di Bali Utara.
“Ruang seni tidak selalu harus dibangun terlebih dahulu untuk kemudian diisi oleh karya. Bisa jadi, ruang seni telah ada dalam kehidupan masyarakat, di bale banjar, desa, pasar, jalan, ruang pendidikan, atau tempat-tempat yang setiap hari dilewati masyarakat,” jelasnya.
Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu IMK menyebut bahwa yang diperlukan adalah cara untuk membaca kembali ruang tersebut sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan. Dalam konteks itu, masyarakat tidak ditempatkan semata sebagai penonton. Mereka merupakan pemilik pengetahuan, pelaku tradisi, sekaligus bagian dari proses penciptaan.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu refleksi penting yang dibawa Ardiyasa ketika mengikuti sesi akhir program. Ia membandingkan pengalaman Toyooka dengan kondisi Bali Utara, khususnya Buleleng, yang memiliki kekayaan tradisi, kehidupan desa, lanskap, komunitas, festival, dan institusi pendidikan.
Namun, perbandingan itu bukan untuk mencari siapa yang lebih maju atau kemudian menyalin model yang ada di Jepang. Justru dari perbedaan itulah kemungkinan pertukaran pengetahuan dapat tumbuh.
Ardiyasa melihat pengalaman Toyooka sebagai kesempatan untuk bertanya kembali tentang bagaimana seni pertunjukan dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Buleleng. Bukan sekadar mendatangkan pertunjukan ke masyarakat, tetapi membuka ruang agar masyarakat ikut menjadi bagian dari proses penciptaan, perawatan, dan pengembangan kebudayaan.
Gagasan tersebut menjadi penting bagi Buleleng yang memiliki kehidupan kesenian yang tumbuh beriringan dengan kehidupan desa dan komunitas.
“Dari tradisi hingga kesenian kontemporer, banyak praktik kebudayaan di Buleleng lahir bukan dari ruang yang sepenuhnya formal. Ia tumbuh dari perjumpaan antargenerasi, dari ingatan masyarakat, dari lingkungan, serta dari ruang-ruang sosial yang terus bergerak mengikuti zaman,” jelasnya.
Pengalaman di Jepang membuat Ardiyasa semakin melihat bahwa wilayah yang berada di luar pusat tidak selalu berarti berada di pinggiran dalam pengertian nilai. Periferi justru dapat menjadi tempat lahirnya pengetahuan baru.
Di sana, masyarakat memiliki pengalaman yang tidak selalu ditemukan di pusat. Desa menyimpan ingatan. Tradisi menyimpan pengetahuan. Lanskap menyimpan cerita. Dan seni menjadi salah satu cara untuk menjaga semuanya tetap hidup.
Bagi seorang dosen, pengalaman tersebut juga memiliki arti lain. Perjumpaan dengan seniman dan produser seni dari berbagai negara memperluas perspektif mengenai seni pertunjukan, produksi karya, pengembangan komunitas, hingga pengelolaan pengetahuan kebudayaan.
Pengalaman itu kemudian dapat dibawa kembali ke ruang akademik dan dibagikan kepada mahasiswa. Dengan demikian, perjalanan ke Toyooka tidak berhenti ketika pesawat kembali menuju Bali. Ia berlanjut dalam bentuk pertanyaan, gagasan, penelitian, pembelajaran, dan kemungkinan kolaborasi baru.
“Bagi kami, keterlibatan dosen dalam forum internasional semacam ini juga membuka ruang bagi penguatan jejaring akademik dan kebudayaan. Pengalaman lapangan dapat menjadi bahan pembelajaran, sementara jejaring yang terbentuk dapat membuka peluang kerja sama di masa mendatang,” ujar Ardiyasa. (*)
Kontributor: Rika Mahardika

