Singaraja, koranbuleleng.com | Warga Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, menghadapi periode kering yang cukup panjang. Pos Hujan Sumberklampok tercatat mengalami hari tanpa hujan selama 123 hari, menjadi periode tanpa hujan terlama yang dipantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Bali.
Catatan tersebut menjadi gambaran panjangnya musim kering di wilayah Buleleng bagian barat. Kondisi ini juga berlangsung ketika awal musim hujan 2026/2027 diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal.
Forecaster Stasiun Klimatologi Bali, Trayi Budi Samantu mengatakan, hingga pemantauan awal September 2026 masih terdapat sejumlah wilayah Bali yang mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem.
Berdasarkan pemantauan pada 2 September 2026, BMKG menemukan 18 titik yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Namun, Sumberklampok menjadi wilayah dengan periode tanpa hujan paling panjang.
“Terpanjang tercatat di Pos Hujan Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, yakni mencapai 123 hari,” kata dia, Selasa, 29 September 2026.
Panjangnya periode tanpa hujan tersebut menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan karena musim hujan tahun ini tidak datang secepat pola normal.
BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di Bali baru berlangsung pada November hingga Desember 2026. Dari 20 Zona Musim (ZOM) yang dipantau, hanya tiga ZOM atau sekitar 15 persen yang diprediksi memasuki musim hujan pada November.
Sebanyak 17 ZOM lainnya atau sekitar 85 persen baru diperkirakan memasuki musim hujan pada Desember 2026.
Kondisi tersebut berarti seluruh wilayah Bali yang terbagi dalam 20 ZOM diprediksi mengalami keterlambatan awal musim hujan jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis.
“Secara normal, awal musim hujan di Bali berdasarkan data 30 tahun dimulai pada Oktober,” ungkapnya.
BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 akan berlangsung sekitar empat bulan dan berakhir hingga April 2027. Meski durasinya relatif pendek, kondisi tersebut bukan berarti hujan akan turun dengan intensitas rendah sepanjang musim.
Sebaliknya, hujan berpotensi terkonsentrasi dalam periode yang lebih singkat. Kondisi itu dapat membuat curah hujan pada waktu tertentu menjadi lebih tinggi.
“Akan terakumulasi di sepanjang durasi yang pendek itu. Sehingga sangat berpotensi intensitas hujan lebih tinggi,” ujarnya.
Trayi menjelaskan kemunduran awal musim hujan tersebut berkaitan dengan kondisi El Nino yang aktif di Samudra Pasifik bagian timur. Kondisi laut tersebut turut memengaruhi pola atmosfer dan distribusi hujan di wilayah Indonesia.
“Musim hujan mundur memang karena faktor global, aktifnya El Nino di Samudra Pasifik bagian timur yang menghangat. Sebagian perairan Indonesia timur mendingin,” kata Trayi.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

