Singaraja, koranbuleleng.com | Pohon enau atau jaka di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng, mulai menjadi sumber penggerak ekonomi warga. Dari nira yang dihasilkan, masyarakat mengolahnya menjadi tuak manis, gula aren hingga gula semut.
Produk tersebut tidak lagi hanya berputar di lingkungan desa. Konsumen dari luar Desa Silangjana bahkan datang langsung untuk membeli olahan nira enau yang diproduksi kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Namun, peluang pasar yang mulai terbuka belum sepenuhnya mampu didorong menjadi pasar yang lebih luas. Pelaku UMKM masih mengandalkan pemasaran konvensional, sementara pemanfaatan website dan media sosial untuk menjangkau konsumen di luar Buleleng masih terbatas.
Perbekel Desa Silangjana, Komang Suparma, mengatakan potensi ekonomi berbasis pohon enau cukup besar, terutama di Banjar Dinas Dajan Margi. Kawasan tersebut merupakan wilayah perkebunan yang selama ini menjadi sentra berbagai komoditas, seperti cengkeh, durian, manggis dan pohon enau.
Saat ini terdapat dua kelompok UMKM pengolah nira enau. Masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 30 hingga 40 warga.
Tidak hanya melalui kelompok UMKM, aktivitas pengolahan gula aren juga melibatkan masyarakat secara langsung. Sekitar 25 persen warga di Banjar Dinas Dajan Margi tercatat terlibat sebagai pengrajin gula aren.
Nira enau kemudian diolah menjadi tiga produk utama, yakni tuak manis, gula aren dan gula semut. Ketiganya memiliki karakter pasar yang berbeda, tetapi sudah memiliki konsumen.
“Mungkin masyarakat yang pernah datang pada acara pasar pangan lokal di Singaraja sering menjumpai tuak manis dan gula aren. Nah itu adalah olahan kelompok UMKM kami. Setahu saya, produk UMKM kami laris manis bahkan banyak masyarakat luar desa sengaja datang ke Silangjana untuk membeli tuak manis dan gula aren,” ujarnya.
Gula semut menjadi salah satu produk yang potensial dikembangkan. Namun, produksinya belum berlangsung setiap hari karena masih menyesuaikan permintaan konsumen.
Salah satu pasar yang mulai menyerap produk gula semut Silangjana adalah sektor perhotelan. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan pasar terhadap produk olahan nira enau sudah tersedia, meski kapasitas produksi dan pemasarannya masih perlu diperkuat.
Persoalan utama kini berada pada kemampuan UMKM mengemas potensi tersebut menjadi produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Suparma mengakui pemasaran produk olahan nira enau saat ini masih banyak bertumpu pada pasar tradisional. Pengembangan kemasan, pemasaran digital, branding hingga legalitas produk masih menjadi pekerjaan yang perlu diperkuat.
Pemerintah Desa Silangjana mendorong agar produk olahan nira enau tidak hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke desa. Pemanfaatan website dan media sosial dinilai penting untuk membuka akses pasar baru.
Penguatan merek juga menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. Dengan identitas produk yang lebih kuat, gula aren dan olahan nira enau Silangjana diharapkan memiliki posisi yang lebih jelas ketika dipasarkan ke luar daerah.
Selain branding, legalitas hak paten juga menjadi perhatian pemerintah desa. Legalitas tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi produk lokal ketika memasuki pasar yang lebih luas.
Di tengah upaya memperluas pasar, keberlanjutan bahan baku juga menjadi perhatian. Pemerintah Desa Silangjana telah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk BKAD Buleleng dan PDAM Kabupaten Buleleng, dalam pendistribusian bibit pohon enau untuk kembali dibudidayakan masyarakat.
“Kami berharap adanya sinergi dan dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng, khususnya dalam memfasilitasi perluasan pasar melalui digitalisasi, penguatan merek (branding), serta legalitas hak paten produk, guna mendongkrak kesejahteraan dan perekonomian warga Desa Silangjana,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

