Singaraja,koranbuleleng.com| Sore itu, terik matahari masih terasa panas. Padahal dua jam lagi, bulan Purnama segera muncul. Dalam penanggalan atau kalender Bali, bulan Purnama yang hadir di September ini disebut Purnama Kapat. Biasanya, pada purnama kapat ini, tradisi adat istiadat merata digelar di Bali, di seluruh desa.
Di sisi lain, bulan Purnama juga menjadi berkah tersendiri bagi warga pesisir di Bali. Seperti yang dilakukan oleh seorang perempuan di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Ni Kadek Juliani, Sabtu (26/9).
Dia bersama suaminya, Kadek Agus, menyusuri barisan karang laut yang muncul ke permukaan. Saat purnama muncul, air laut surut, padang lamun terlihat jelas diantara pasir dan karang. Di sela-sela karang, bertebaran juga kerang laut atau bivalvia.
Kerang laut inilah yang dicari oleh Juliani dan Agus. Dalam dua hingga tiga jam, dia bisa mendapatkan satu ember kerang. Dibawa pulang lalu dimasak. Kerang-kerang itu, akan diolah menjadi olahan makanan khas Bali baik untuk sop maupun dibuat olahan sambal. Tradisi mencari kerang laut ini dinamai Meting. Meting yang paling baik dilakukan yakni mulai tiga hari sebelum bulan purnama muncul.
Meting merupakan sebuah kegiatan komunal yang umumnya digerakkan oleh kaum perempuan untuk memanen sumber daya laut. Praktik ini dijalankan dengan aturan yang sangat ketat, prinsip utamanya bukanlah sekadar “ambil seperlunya”, melainkan mengambil dengan cara yang merawat dan memastikan tempat hidup ekosistem itu tetap hidup dan lestari.
Menurut Juliani, setelah panen kerang laut, isinya harus diolah dengan baik. Pengolahan kerang laut segar memerlukan teknik khusus agar mudah diolah dan siap dikonsumsi. kerang laut yang baru ditangkap harus direbus terlebih dahulu. Proses perebusan ini bertujuan agar cangkang kerang terbuka dengan sendirinya, sehingga isi daging di dalamnya dapat dikeluarkan dengan mudah menggunakan alat bantu seperti jarum atau peniti. Setelah daging kerang dipisahkan dari cangkangnya, kerang tersebut siap diolah menjadi bermacam-macam masakan, mulai dari campuran sambal hingga olahan hidangan harian lainnya.
Hasil tangkapan kerang laut ini sangat bergantung pada kondisi alam dan cuaca di pesisir pantai. Jika kondisi perairan sedang bagus dan kerang melimpah, warga bisa mengumpulkan hingga satu ember penuh dalam beberapa jam. Namun, saat kondisi kurang mendukung, hasil yang didapat tentu lebih sedikit. Kerang hasil tangkapan tersebut biasanya langsung diolah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian keluarga.
“Bulan Purnama ini kesempatan bagi kami untuk mencari kerang, karena air laut surut dan kerang muncul ke permukaan,” ujar Juliani.
Tapi saat purnama itu, hanya Juliani dan Agus yang ada di pantai Pemuteran. Pada dua hari sebelumnya, di tempat tersebut ratusan warga juga mencari kerang, karena biasanya hari paling baik mencari kerang itu yakni tiga hari sebelum bulan purnama muncul.
Agus menceritakan, jika banyak, daging Bivalvia ini kadang dijual. Per satu kilogram harganya cukup mahal, yakni Rp.80.000/kilogram. “Cuma mencari satu kilogram itu, lama, susah karena isi atau dagingnya kerang ini kan kecil,” terang Agus.
Bagi Juliani, memanen kerang melainkan roda penopang gizi mikro harian dan stabilitas ekonomi riil saat musim paceklik melaut tiba.
Dibalik suburnya Bivalvia yang dicari oleh Agus dan Juliani, disitu ada penyangga alami yang sebenarnya mampu menumbuhkan atau menjaga habitat laut lainnya, yakni padang lamun. Di Kawasan pesisir Pemuteran, padang lamun masih hidup dengan subur. Ancaman padang lamun ini ketika terjadi gelombang besar saja.
Di kawasan Buleleng, Bali dan sekitarnya, kehidupan masyarakat pesisir sangat bergantung pada hamparan padang lamun. Secara geografis, perlindungan ruang laut di wilayah utara ini difokuskan di dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Buleleng yang mencakup area seluas 14.041,13 hektare. Hamparan ekosistem ini tersebar dari area Pemuteran, Pejarakan, Desa Bondalem, hingga di perairan sekitar Pelabuhan Celukanbawang.
Padang lamun pada hakikatnya adalah hamparan tumbuhan berbunga yang merajut kehidupan di bawah perairan dangkal. Fungsinya jauh melampaui sekadar tempat persembunyian ikan. Lamun bekerja selayaknya infrastruktur alami yang menahan sedimen agar pesisir pantai tidak mudah tergerus abrasi, menstabilkan dasar laut, menjaga kejernihan air, sekaligus menjadi nursery atau habitat asuhan bagi biota-biota laut muda. Hamparan ini juga sangat esensial karena menjadi area mencari makan (pakan utama) bagi mamalia langka yang dilindungi, yakni Dugong.
Di era krisis iklim, lamun memegang peranan krusial yang dikenal sebagai karbon biru, karena kemampuannya menyimpan karbon di dalam jaringan tanaman dan sedimen. Namun, apabila lamun rusak—baik akibat kekeruhan kronis, kerusakan substrat, maupun aktivitas yang mengaduk dasar laut—karbon yang tersimpan di dalamnya berpotensi terlepas, dan pesisir akan kehilangan sang “penjaga” alami.
Kondisi ekosistem di Bali Utara saat ini berada dalam posisi rentan. Kehilangan pelindung ini jarang terjadi dalam semalam. Ekosistem terus ditekan oleh konflik ruang akibat sedimentasi hulu, aktivitas ekstraktif laut, dan perkapalan wisata. Di kawasan kontrol seperti Pelabuhan Celukanbawang, tutupan lamun bahkan terdegradasi hingga berada di bawah angka 60 persen akibat injak jangkar kapal dan tingginya turbiditas pelabuhan. Kerusakan tersebut datang merayap melalui penurunan kualitas air, berkurangnya kejernihan perairan, dan menurunnya kondisi lamun secara bertahap.
Saat menyusuri pesisir Buleleng, sejumlah warga mengamati satu pola yang terus berulang, ketika aktivitas perputaran kapal, perubahan aliran lokal, atau gangguan sedimen meningkat, ekosistem di perairan dangkal pun ikut berubah. Air menjadi lebih keruh dalam rentang waktu yang lebih lama. Akibatnya, cahaya matahari yang sangat dibutuhkan lamun untuk berfotosintesis menjadi berkurang drastis, dan perlahan lamun pun mulai melemah.
Ekosistem pesisir Bali Utara mendapat angin segar lewat inovasi transplantasi padang lamun (seagrass) berbasis ramah lingkungan. Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Gede Iwan Setiabudi, menginisiasi penerapan struktur ABTRALO (Alat Bantu Transplantasi Lamun Organik) di dua lokasi strategis pesisir Buleleng, yakni Pantai Penimbangan dan Pantai Pemuteran.
Inovasi ini ditujukan untuk mengatasi tantangan utama restorasi padang lamun yang kerap gagal akibat bibit hanyut tergerus arus dasar laut dan pergeseran substrat pasir.
”Selama ini masyarakat lebih akrab dengan konservasi terumbu karang. Padahal di antara karang dan daratan ada padang lamun yang berfungsi sebagai penyaring sedimen dan tempat bertelur ikan,” ujar Gede Iwan Setiabudim Sabtu (26/9).
Selama ini transplantasi lamun sering gagal karena bibitnya hanyut terbawa arus dasar. Nah, ABTRALO hadir sebagai struktur heksagonal pelindung berbahan organik yang menstabilkan sedimen dan meredam arus, memberi waktu bagi rimpang lamun untuk mengakar kuat sampai mandiri.”
Solusi Organik Tanpa Jejak Plastik
ABTRALO menggunakan modul berbentuk heksagonal (honeycomb structure) yang terbuat dari bahan organik atau semi-organik. Desain bertaut ini efektif memecah turbulensi arus dasar laut sekaligus menahan sedimen pasir tanpa meninggalkan limbah plastik atau kawat besi yang berpotensi mencemari laut.
”Padang lamun adalah pahlawan biru pesisir kita, penyerap karbon andal dan rumah pembesaran ikan,” jelas Gede Iwan Setiabudi.
Melalui inovasi struktur sarang lebah ABTRALO berbahan organik, ini diyakini secara keilmuan bahwa sangat membantu bibit lamun bertahan dari hempasan arus dan gelombang.
“Memulihkan substrat pasir secara alami tanpa meninggalkan jejak limbah plastik atau logam berlebih di laut Bali Utara.” kata dia.
Hasil pemantauan bawah air di Pantai Penimbangan dan Pemuteran menunjukkan tren positif. Selain memperkokoh rimpang (rhizome) dan tegakan lamun, struktur heksagonal tersebut kini mulai ditumbuhi makroalga serta menjadi mikrohabitat (nursery ground) bagi anakan ikan karang seperti damselfish.
”Hasil pemantauan bawah air sangat menggembirakan. Struktur heksagonal yang kami tempatkan tidak hanya menjaga hamparan pasir tetap stabil, tetapi juga langsung menjadi rumah singgah bagi ikan-ikan kecil pembibitan—bahkan terlihat ikan demersal dan damselfish mulai berasosiasi di sekitarnya. Ini bukti bahwa perbaikan habitat lamun langsung berdampak pada keanekaragaman hayati lokal,” tambah akademisi Undiksha tersebut.
Dua Lokasi, Dua Karakteristik
Penerapan ABTRALO di Pantai Penimbangan disinergikan dengan aktivitas komunitas lokal dan pelestarian penyu, mengingat lamun di area ini menjadi sumber pakan alami serta penstabil pasir vulkanik hitam. Sementara di Pantai Pemuteran yang cenderung lebih tenang, lokasi ini dimanfaatkan sebagai tempat riset perbandingan stabilitas struktur terhadap dinamika arus laut.
Padang lamun sendiri memegang peranan krusial dalam menyerap emisi karbon (blue carbon) jauh lebih cepat dibandingkan hutan daratan. Selain itu, lamun menjaga kejernihan air, mencegah abrasi, serta mendukung keberlanjutan hasil tangkapan nelayan.
Gede Iwan Setiabudi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut menjaga ekosistem pesisir ini.
”Jangan sepelekan lamun saat kita beraktivitas di pantai. Ekosistem ini menjaga laut kita tetap bening dan nelayan kita tetap memanen ikan. Melalui kolaborasi ilmiah dan keterlibatan masyarakat pesisir di Penimbangan dan Pemuteran, kami ingin mengajak semua pihak merawat benteng karbon biru Bali demi generasi masa depan,” terangnya.
Warisan Pecalang Segara
Bagi orang luar, Meting mungkin hanya dilihat sebagai aktivitas mencari hasil tangkapan laut pada waktu-waktu tertentu. Namun di Bali utara, tradisi ini sebenarnya adalah sistem pengelolaan sumber daya berbasis komunitas. Meting merupakan seperangkat aturan sosial yang membentuk perilaku hidup, sebuah disiplin kolektif yang berfungsi meminimalkan kerusakan, serta mekanisme pemanenan yang sangat menghormati siklus regenerasi alam.
Ada prinsip-prinsip konsisten yang selalu dijaga. Salah satunya adalah pantangan keras untuk mengambil biota yang masih terlalu muda atau melakukan tindakan yang mengganggu struktur lamun itu sendiri. Prinsip lainnya berkaitan dengan ritme alam; warga paham bahwa suatu area tidak boleh dipanen terus-menerus dengan intensitas tinggi, melainkan harus ada penyesuaian yang bergantung pada musim dan kondisi ekosistem saat itu.
“Kalau yang kecil diambil semua, habis sudah,” tegas Ni Kadek Juliani memperingatkan.
“Kami tidak cari-cari alasan. Kalau sumbernya habis, yang susah bukan pemerintah, tapi keluarga kami. Jadi adat itu menjaga kami juga.”. katanya lagi.
Apa yang dilakukan oleh Juliani sebenarnya sudah terdoktrin sejak lama. Perairan desa Pemuteran pernah hancur oleh aktivitas manusia yang berlebihan, seperti pengeboman ikan dan penangkapan ikan yang tidak ramah alam. Kondisi itu membuat warga tidak berdaya, alam tidak lagi menyediakan sumber-sumber kehidupan. Dari kondisi itu, kesadaran bersama muncul untuk melakukan rehabilitasi terhadap ekosistem laut. Warga setempat melakukan rehabilitasi terumbu karang bersama tokoh-tokoh desa danmasukan dari tokoh pariwisata.
Dari kesadaran itu, muncullah Yayasan Karang Lestari yang mendampingi warga Pemuteran untukterus memperbaiki ekosistem laut. Warga secara sadar bergotong royong membuat terumbu karang dengan teknologi buatan yang disebut biorock. Dari kesadaran itu,warga juga sempat melahirkan personil Pecalang Segara yakni personil yang ditugaskan secara khusus untuk menjaga wilayah prairan agar aman dari para perusak lautan. Pecalang Segar aini terus berpatroli keliling perairan. Patroli para pecalang segara ini menghasilkan warisan yang luar biasa, yakni kesadaran bersama untuk tidak merusak alam laut. Dari kondisi ini, Desa pemuteran berkali-kali mendapakan penghargaan dunia untuk pelestarian ekosistem laut danterumbu karang.
Tapi, pasca COVID19, Pecalang Segara di Desa Pemuteran telah tidak aktif lagi karena berbagai kendala teknis, termasuk anggaran. Namun, kehadiran Pecalang Segar aini mewariskan kesadaran bagi warga setempat untuk terus menjaga lautnya.
Made Gunaksa, dulu adalah personil Pecalang Segara. Kini, dia lebih banyak aktif di Yayasan Karang Lestari sebagai desainer arsitek biorock. “Jika ada projek biorock yang harus ditenggelamkan, saya yang ditugaskan untuk melakukan kajian dan membuat desain,” kata Gunakasa memulai perbincangan.
Gunaksa mengakui walaupun saat ini Pecalang Segara sudah tidak ada, namun warisan berupa edukasi pelestarian lingkungan masih terpatri dalam pikiran masyarakat. Kini, melalui Yayasan Karang Lestari masyarakat di Pemuteran masih dengan setia menjaga alam lautnya. Salah satunya, menjaga kehidupan padang lamun di Kawasan mereka.
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja telah memberikan pengetahuan yang mendalam bagi warga setempat untuk terus melestarikan padang lamun dengan melakukan pemupukan secara organik maupun dengan penerapan teknik ABTRALO tersebut.
“Kami telah diajarkan untuk membuat pupuk untuk Padang Lamun,memelihara mereka layaknya memelihara tanaman di darat,” kata Gunaksa.
Keberadaan Padang Lamun ini sama pentingnya dengan terumbu karang. Lamun bukan saja berfungsi mencegah sedimentasi sampai ke titik terdalam lautan, namun juga merawat kehidupan hewan laut lainnya seperti dugong.
Lamun Penjaga Laut Yang Terlupakan
Selama ini, konservasi laut lebih fokus pada rehabilitasi terumbu karang dan mangrove. Padahal, ada ekosistem lain yang sangat penting untuk dijaga juga, yakni Lamun. Idealnya, Terumbu Karang, Lamun dan Mangrove harus hidup beriringan, dijaga secara bersama-sama.
Kepala Bidang Perikana dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan, Kabupaten Buleleng, AbdulManaf mengatakan konservasi padang lamun ini harus disuarakan lebih luas. Kamun ini adalah penjaga lautan agar tetap lestari, selain sebagai penyerap karbon namun Lamun juga menjadi rumah bagi benih-benih hewan laut.
“Makanya, kalau dari daratan itu pertama Mangrove, Lamun dan Terumbu karang. Itu harus dirawat dengan baik sheingga ekosistemlaut itu sebenarnya akan lebih berkualitas.” ujarnya.
Kata Manaf, terumbu karang sangat rentan terhadap kerusakan oleh faktor bencana ataupun faktor kesengajaan perusakan oleh manusia. Namun, berbeda dengan Lamun yang tahan terhadap perusakan. Kelemahan Lamun ketika disapu ombak besar, namun dia akan kembali tumbuh dengan alamiah pada situasi tertentu.
Maka itu, Lamun menjadi penjaga yang sangat penting sebelum sedimentasi sampai ke lautan yang berpotensi merusak terumbu karang itu. Sementara di daratan, luasan Mangrove di Bali juga sangat sedikit.
“Konservasi Lamun ini penting, tetapi kami dari pemerintah tidak bisa berbuat banyak hanya bisa memberikan masukan saja kepada kelompok-kelompok masyarakat yang melakukan upaya konservasi termasuk lamun,” katanya.
Sejauh ini, belum ada upaya dari pemerintah untuk melakukan konservasi lamun dan masih berfokus pada konservasi pada terumbu karang dan mangrove. Apalagi, ketika Undang-undang RI nomer 23 tahun 2014 yang memindahkan kewenangan pemerintah kabupaten dalam pengelolaan pesisir kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.
“Padahal lebih banyak yang mengurus laut dan menjaga, justru sebenarnya lebih baik kan? Kalau soal perizinan, silahkanlah di pusat atau Propinsi tapi kalau soal mengurus pesisir semestinya kabupaten diikutkan,” jelasnya.
Manaf berharap, Keikutsertaan Pemrintah Kbaupaten untuk mengurus wilayah pesisir akan berdampak besar terhadap pelestarian alam laut. Di amengakui, ekosistem Lamun di perairan Buleleng begitu luas dan ini harus dijaga dengan baik.
“TIdak bisa menjaga secara parsial.Terumbu karang, Lamun dan Mangrove harus dijaga bersamaan,”ujarnya. (*)
Pewarta : I PUTU NOVA ANITA PUTRA
CATATAN: LIPUTAN KOLABORATIF DENGAN SUARA.COM_

