Singaraja, koranbuleleng.com | Komisi II dan Komisi III DPRD Kabupaten Buleleng menyoroti progres pembangunan drainase dan penataan Jalan Diponegoro di kawasan Pasar Anyar Singaraja. Selain terkendala aktivitas parkir dan pedagang, proyek senilai Rp4,74 miliar ini juga menghadapi persoalan teknis terkait kemampuan saluran mengalirkan air hingga ke laut.
Ketua Komisi II DPRD Buleleng, Wayan Masdana, meminta persoalan tersebut segera dikoordinasikan dengan dinas terkait. Ia mengingatkan, pembangunan drainase tidak cukup hanya mengejar target penyelesaian, tetapi juga harus memastikan saluran berfungsi optimal untuk mencegah genangan air.
Dalam peninjauan lapangan pada Senin, 12 Oktober 2026, DPRD menemukan aktivitas parkir kendaraan dan keberadaan pedagang masih menghambat sejumlah pekerjaan. Padahal, proyek tersebut memiliki batas waktu pelaksanaan hingga 17 Desember 2026.
“Kita akan mengoordinasikan dengan dinas terkait, kebetulan juga ada Komisi III. Seperti apa pengerjaannya karena ini sudah mau batas limit waktu. Sehingga apa menjadi temuan kita di lapangan bahwa ada beberapa pengerjaan yang terhambat karena masalah dipakai parkir dan pedagang,” ujarnya.
Di luar hambatan pengerjaan, Masdana menyoroti persoalan elevasi atau ketinggian saluran gorong-gorong eksisting. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kelancaran aliran air dari kawasan Pasar Anyar menuju arah utara hingga ke laut.
Ia menyebut posisi ketinggian saluran yang ada saat ini menjadi salah satu persoalan teknis yang harus diperhitungkan sebelum pekerjaan dilanjutkan. Perhitungan kemiringan saluran sepanjang sekitar 400 meter juga dinilai penting untuk memastikan air dapat mengalir sesuai perencanaan.
“Gorong-gorong yang ada sekarang ini sepertinya secara teknis itu tidak mungkin akan mengalir ke utara. Karena dari ujung gorong-gorong ini existing ketinggian itu sudah di bawah 16 sentimeter,” kata dia.
Masdana mengingatkan, kesalahan perhitungan elevasi dan kemiringan dapat berdampak pada fungsi drainase setelah proyek rampung. Jika aliran air tidak berjalan optimal, pembangunan yang dilakukan dikhawatirkan belum mampu mengatasi persoalan genangan di kawasan tersebut.
Karena itu, ia meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) memastikan desain dan konstruksi saluran mampu mengalirkan air dengan baik. Kondisi air permukaan dan air laut yang relatif tinggi juga menjadi pertimbangan dalam penanganan persoalan tersebut.
“Kalau itu tidak dilakukan nanti secara teknis airnya akan menggenang terus karena air laut air permukaan ini sudah tinggi. Harus dipikirkan sama PU, saya minta jaminannya bahwa gorong-gorong ini airnya mengalir dengan baik,” tegasnya.
Proyek pembangunan drainase dan penataan Jalan Diponegoro di kawasan Pasar Anyar Singaraja dikerjakan CV. Cadudasa Pratama sebagai kontraktor pelaksana. Sementara itu, CV. Manca Geni bertindak sebagai konsultan pengawas.
Proyek tersebut memiliki nilai kontrak Rp4.749.733.000 dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender, mulai 28 Agustus hingga 17 Desember 2026.
Berdasarkan hasil monitoring, progres fisik pekerjaan baru mencapai 27 persen. Capaian tersebut menjadi perhatian karena kontraktor harus menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam sisa waktu pelaksanaan yang tersedia.
DPRD Buleleng berencana mengoordinasikan berbagai temuan di lapangan dengan dinas terkait. Koordinasi itu mencakup upaya mengatasi hambatan aktivitas di area proyek sekaligus membahas persoalan teknis agar pengerjaan dapat berjalan tanpa mengabaikan fungsi utama drainase.
“Jadi akan kami koordinasikan untuk tidak menghambat daripada pekerjaan kegiatan ini. Karena kontraktor juga punya limit waktu yang terbatas. Jadi kita koordinasikan besok dengan dinas terkait,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

