Pandemi Corona Menyulitkan Pelukis Wayang Kaca, Bantuan Pemerintah Nihil

Pelukis Wayang Kaca, Kadek Suradi |FOTO : Okta|

Singaraja, koranbuleleng.com | Pandemi COVID 19 melumpuhkan banyak persendian ekonomi masyarakat. Salah satu yang ikut terdampak adalah usaha kerajinan khas dari Desa Nagasepeha, lukisan wayang kaca. Parahnya lagi hingga sampai saat ini, para pelukis lukisan wayang kaca yang jadi asset budaya Buleleng ini justru pernah tersentuh bantuan atau insentif dari Pemkab Buleleng.

- Advertisement -

Pemerintah perlu memberikan insentif bagi para seniman lukisa wayang kaca, agar mereka tetap produktif di masa pandemi. Apalagi, seniman lukisan wayang kaca ini berakar dari budaya warisan leluhur yang semestinya tak boleh punah oleh jaman di tengah pandemi ini.

Karena kondisi pandemi, pesanan lukisan wayang  kaca sepi. Jjika berkarya untuk memproduksi lukisan wayang kaca pastilah merugi. Pertimbangan ekonomi jadi yang utama, karena para seniman lukisan wayang  kaca dengan mengandanlkan modal yang terbatas.  Atas kondisi tersebut,  ditengah pandemi COVID 19 ini, mereka terpaksa beralih profesi untuk sementara waktu sampai semua pulih kembali.

Ada yang menjadi tukang bangunan, pedagang permata, hingga beralih menjadi jasa pembuat kolam ikan minimalis dan tebing-tebingan.

Salah satu pelukis atau perajin lukisan wayang kaca yang ditemui wartawan koranbuleleng.com adalah Kadek Suradi, juga sebagai Ketua kelompok lukis kaca desa Nagasepaha.

- Advertisement -

Dia menuturkan, dampak pandemi COVID 19 merontokkan usaha kerajinan wayang kaca. Daya beli masyarakat turun drastis. Selama beberapa bulan terakhir, pihaknya hanya mampu menjual lukisan kaca beberapa unit saja.

“Biasanya dalam kondisi normal,  mampu menjual lukisan kaca berbagai ukuran hingga 20 sampai  40 unit setiap bulannya. Namun kini event pameran atau kegiatan pemerintahan tidak ada. Daya beli juga lesu dan harga otomatis turun drastis sementara kita keluarkan modal juga untuk membeli segala perlengkapan dan alat lukis,” ujar Kadek Suradi.

Kadek Suradi, untuk sementara beralih profesi sebagai pembuat kolam ikan dan tebing-tebingan

Kondisi ini pun membuat pria tiga anak ini harus beralih profesi dan memilih menjadi tukang pembuat kolam minimalis disertai dengan tebing-tebingan. Penghasilannya pun sangat berbeda dengan hasil kerajinan lukisan kaca yang ia geluti sejak tahun 2000.

“Biasanya saat kondisi normal dalam sebulan hasil dari penjualan lukisan kaca bisa sampai Rp 4,5 juta, sementara untuk pembuat kolam minimalis sendiiri harganya tergantung dari konsumen dan sesuai dengan kesepakatan,” tuturnya.

Suradi juga menambahkan, sampai saat ini UKM lukisan kaca di desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng belum tersentuh bantuan pemerintah.  Pihaknya pernah mengajukan bantuan kepada Dinas Koperasi dan UMKM kabupaten Buleleng namun sampai saat ini belum ada jawaban.  “Apakah dapat bantuan atau tidak, kami juga tidak tahu. Anggota kelompok kami masih menunggu kabar,  jenis bantuan apa yang nanti akan diberikan oleh pemerintah,” tuturnya.

Suradi sebenarnya merasa kecewa karena perhatian pemerintah terhadap UKM lukisan kaca sangat kurang.

”Padahal kita sudah diakui menjadi asset daerah Buleleng, setiap ada kegiatan pameran kita selalu dinomorsatukan diminta untuk ikut. Namun sekarang nyatanya banyak dari anggota kami mengharapkan bantuan dari pemeritah tapi sampai saat ini belum ada,” tambah Suradi.

Selain kurangnya perhatian saat Pandemi ini, Suradi juga mengungkapkan masalah lain yakni kurangnya minat generasi muda di desa yang mau belajar membuat lukisan kaca. Pemerintah juga semestinya mengambil jalan kelur terhadap peliknya regenerasi pelukis kaca ini.

”Hal ini yang paling kami takutkan, kurangnya regenerasi dari generasi muda untuk mendalami lukis kaca di desa Nagasepaha. Bukan tidak menutup kemungkinan, lukisan kaca yang menjadi ciri khas kabupaten Buleleng berada di ambang kepunahan,” tuturnya khawatir. |KMG|

Editor : Putu Nova A.Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts