More

    Kain Bebali Riwayatmu kini

    Wanita Bali menggunakan kain Bebali |FOTO : Alit Kertaraharja|

    Singaraja, koranbuleleng.com | BALI – sebuah pulau kecil yang tersohor di seantero jagat, memiliki sebutan unik sebagai Pulau Dewata. Tidak salah karena Pulau Bali yang merupakan salah satu dari puluhan ribu pulau-pulau yang ada di Nusantara ini memiliki berbagai ragam bentuk-bentuk seni budaya, tradisi dan kegiatan agama yang semuanya menyatu dalam sebuah harmonisasi.

    Bahkan kegiatan seni, budaya dan keagamaan ini  nyaris tidak pernah putus, kecuali pada hari tertentu saja. Menurut perhitungan kalender Bali yang disebut ‘pasah’.  Pada “pewaran” tersebut,  beberapa masyarakat Bali pemeluk Hindu biasanya beristirahat sejenak dari kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan, ataupun kegiatan spiritual lainnya.

    Nuansa ‘Harmoni” inilah, sampai saat ini Bali tetap sebagai salah satu tujuan wisata dunia. Seni, budaya, tradisi dan agamanya hidup dan menyatu seperti tidak tepisahkan. Masyarakat sebagai pendukung di dalamnya  juga sampai saat ini sangat konsisten bahkan terus berupaya mengimbangi sesuai perkembangan jaman – menjalankan apa yang  telah menjadi anugrah.

    Upacara keagamaan mulai dari prosesi kelahiran seorang bayi – yaitu upacara ‘kepus pungsed’, upacara 1 bulan 7 hari, tiga bulanan, hingga 6 bulan atau otonan dan seterusnya. Belum lagi upacara pernikahan, upacara-upacara di Pura Pura, perayaan hari raya atau perayaan hari hari suci, pun upacara ‘ngejot’ – upacara usai menanak nasi sebagai syukur atas limpahan rejeki. Inilah Bali yang Harmoni.

    Tapi meskipun demikian Bali juga memiliki permasalahan pengaruh modernisasi. Seperti masyarakat dunia lainnya, masyarakat Bali juga semakin praktis, semakin banyak memiliki kebutuhan hidup, sehingga mereka demikian sibuk bekerja, belum lagi melakukan kegiatan rumah, Banjar dan kegiatan lainnya. Pun saat bekerja, mereka lebih memilih pekerjaan praktis dan cepat menghasilkan uang. Banyak jenis-jenis pekerjaan yang dianggap ‘sulit’ menghasilkan uang ditinggalan secara perlahan.

    Seperti tradisi menenun salah satunya. Kegiatan menenun untuk masyarakat Bali sebenarnya tidak asing. Sebelumnya banyak sentra-sentra kain tenun khususnya di Bali Utara. Contoh saja kain tenun Beratan – Buleleng, sentra kain tenun Jinangdalem – Kecamatan Buleleng dan beberapa tempat lainnya. Seiring perkembangan jaman, kegiatan menenun yang dulunya sebagai tradisi untuk kegiatan kaum perempuan, saat ini alat tenun bukan mesin (ATBM) atau di Bali disebut tenun Cagcag perlahan sudah mulai ditinggalkan. Bahkan nyaris tidak beregenerasi. 

    Menenun kain Bebali |FOTO : Alit Kertaraharja|

    Seperti diakui penggiat tenun kain Bebali  atau yang disebut kain Wangsul , Jro Nyoman Sarmika – di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula – Buleleng.  Jro Sarmika mengawali memproduksi kain Bebali atau yang disebut juga kain Wangsul di akhir tahun 90-an, seiring perkembangan pariwisata di Bali, termasuk imbasnya ke wilayah Pacung-Tejakula.

    Sejak dulu Tejakula merupakan sentra kain tenun. Seiring perkembangan perekonomian Tejakula yang semakin maju dengan pertanian jeruk Balinya, masyarakat Tejakula mulai melupakan tradisi menenun. Hingga akhirnya hanya tersisa segelintir orang yang masih nenun. 

    Dari fenomena tersebut, Jro Sar demikian dipanggil memulai membangkitkan kembali tradisi menenun, yang dipadu dengan pariwisata. Kain Bebali mendapat respon positif, banyak wisatawan tertarik dengan proses pembuatan kain Bebali sekaligus makna yang terkandung didalamnya.

    Tapi kendala utamanya adalah tenaga kerja – melatih anak-anak muda untuk menenun. Kenyataannya tidak semudah membalikan telapak tangan, mereka lebih tertarik bekerja di luar daerah. Bahkan mereka tidak malu menjadi pembantu rumah tangga. ‘’Mereka lebih mementingkan gengsi, padahal kalau dari segi pendapatan jauh lebih bagus menenun,’’ungkap Nyoman Sarmika. 

    Menurutnya kegiatan menenun bisa  dijadikan sebagai profesi atau juga berupa kegiatan sampingan yang bisa menghasilkan uang. Namun kenyataannya, profesi nenun semakin ditinggalkan, anak-anak muda sebagai generasi penerus sangat sedikit melirik bekerja di sector ini.

    Selama ini usaha tenun Kain Bebali dibantu oleh seorang penenun setia yang sudah berusia. Sejak tiga tahun belakangan, tidak lagi aktif karena usia. Untuk memenuhi produksi, Jro Sarmika akhirnya melibatkan istri dan iparnya, dibantu beberapa orang yang usianya sudah tidak muda lagi. Merekapun bekerja hanya sebagai sampingan. ‘’Biasanya mereka bekerja setelah melakukan kegiatan rumah, seperti masak, memberikan makan ternak dan lain-lain.’’jelasnya.

    Wisatawan memilih koleksi kain Bebali |FOTO : Alit KErtaraharja|

    Tapi Sarmika menjelaskan meskipun demikian, mereka bisa menambah uang kebutuhan keluarga. ’’Daripada melakukan kegiatan tidak berguna, lebih bagus menenun bisa ngobrol, bisa refreshing sambil menghasilkan uang,’’katanya.

    Untuk sehelai kain Bebali, memerlukan proses yang cukup rumit sebagaimana proses tenun tradisional. Apalagi kain Bebali yang diproduksi Jro Mangku Nyoman Sarmika mempergunakan warna-warna alami, seperti indigo, kayu secang, kayu nangka dan bahan-bahan alami lainnya.

    Menjemur, memintalnya dijadikan benang, dipola dan sebagainya. Prosesnya rumit dan memakan waktu. Untuk menenunnya tergantung dari kelihaian atau kecepatan penenun. Kain bebali dengan ukuran 1,5 meter dan lebar 60 cm dijual dengan harga Rp.700 ribu. Tentu harga ini sebanding dengan proses yang dilakukan. Karena seluruh prosesnya dilakukan dengan tradisional – hasilnya sangat unik terutama warnanya yang sangat indah, setiap helai tidak memiliki warna yang sama demikian pula motif umumnya berotif kuno hanya berbentuk garis sebagai symbol kehidiupan ‘’lahir – hidup-mati’.

    Dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun koranbuleleng.com Dalam kepercayaan masyarakat Bali kain Bebali  bersifat sangat sakral dan suci,  kegunaannya sangat erat kaitannya dengan upacara spiritual keagamaan seperti prosesi upacara Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya dan Butha Yadnya. Dewa Yadnya – upacara yang dilakukan di Pura Pura (khayangan Jagat, Khayangan Tiga ataupun Pura keluarga). Rsi Yadnya – upacara yang berhubungan dengan pentasbihan pendeta.

    Pitra Yadnya – pacara untuk roh leluhur, baik berupa upacara kematian  maupun penycian, seperti ngaben. Manusia Yadnya – upacara ini berkitan erat dengan upacara daur ulang, hidup dari masa kehamilan sampai masa dewasa. Seperti upacara tiga bulanan, otonan, metatah atau potong gigi. Dan yang terakhir upacra Butha Yadnya – upacara ini berkaitan dengan Bhuta dan Kala atau roh pengganggu manusia, seperti mecaru.   

    Disamping sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara keagamaan, kain Bebali itu sendiri juga dilambangkan sebagai sebagai pelindung, penolak bala, penyembuh penyakit, memiliki kekuatan sebagai penangkal bahaya, kasih sayang, pengendalian diri hingga panjang umur.

    Pewarta : Alit Kertaraharja

    Editor    : Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Desa dengan Anggaran Terbatas Diperkenankan Tidak Realisasikan BLT

    Kepala Dinas PMD Buleleng, Made Subur |FOTO : Arsip koranbuleleng.com | Singaraja, koranbuleleng.com| Pemerintah Desa diperkenankan merealisasikan Bantuan Langsung...

    Kapolres Buleleng Dilaporkan ke Komnas HAM, Kompolnas dan Kapolri

    Surat dari Tim hukum Berdikari Law Office melayangkan pengaduan untuk kepaolres Buleleng ke Komnas HAM, Kompolnas dan Kapolri |FOTO : Istimewa|

    Pangdam Udayana Pastikan TNI Siap Sambut New Normal

    Pangdam IX/Udayana, Mayor Jenderal TNI Kurnia Dewantara |FOTO ; Edi Toro| Singaraja, koranbuleleng.com |Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana, Mayor Jenderal...

    Potensi Pasar Cabai Tinggi, Harus Mulai Dikelola Secara Organik

    Gede Komang |FOTO : Putu Nova A.Putra| Singaraja, koranbuleleng.com | Sekitar setengah hektar lahan di Desa Panji Anom,...

    Related articles