More

    Bendungan Tamblang Diperkirakan Sebagai Kawasan Peradaban Kuno

    Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali-NTB-NTT melakukan identifikasi terhadap temuan terowongan di Bendungan Tamblang |FOTO :Rika Mahardika|

    Singaraja, koranbuleleng.com| Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali-NTB-NTT melakukan identifikasi terhadap temuan terowongan kuno yang ada di Bendungan Tamblang, Desa Sawan, Kecamatan Sawan Selasa, 8 Desember 2020. Belum bisa dipastikan, kapan terowongan tersebut dibangun.

    Namun pihak Balai Arkeologi memperkirakan bahwa daerah tersebut di masa lalu adalah daerah peradaban kuno dengan indikasi di tebing-tebing tukad aya terdapat ceruk-ceruk pertapaan. Ini mengindikasikan kawasan itu sebagai peradaban kuno dari masa lalu.

    Di wilayah lain yang berdekatan dengan temuan terowongan di Bendungan Tamblang, juga ditemukan sejumlah terowongan lain seperti terowongan di Desa Sawan dan lainnya. Namun Pihak Balar belum bisa memastikan apakah itu berkaitan langsung dengan terowongan di bendungan Tamblang.

    Kepala Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali-NTB-NTT, I Gusti Made Suarbawa memimpin identifikasi dengan memasuki langsung area terowongan untuk melihat kontruksi dan melakukan identifikasi dari terowongan tersebut. Berselang beberapa menit, mereka pun keluar.

    “Dari terowongan pada dinding terowongan dibuat ceruk dalam ukuran rata-rata 15 sentimeter pada jarak 40 sampai 80 sentimeter, diperkirakan fungsingnya sebagai tempat penerangan apakah lampu minyak. Sinar juga kan untuk mengukur kelurusan juga,” jelas Suarbawa.

    Dari proses identifikasi sementara yang dilakukan, terowongan tersebut memang saluran air untuk saluran irigasi subak. Menurut Suarbawa, terowongan dengan konstruksi serupa juga ditemukan pada beberapa daerah terdekat, seperti di Desa Suwug dan juga di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan. Bahkan cenderung memiliki kesamaan bentuk.

    “Tapi kita belum berani memastikan apakah sama, tapi ada kemiripan. Kami belum menemukan bukti-bukti penunjang dari kapan, bisa jadi juga dari masa yang tidak terlalu jauh. Apalagi dari informasi masyarakat, tidak ada yang mengetahui masa pembuatannya,” ujarnya.

    Namun jika mengaitkan dengan sejarah khususnya pada abad 11-12 di Bali, keberadaan terowongan sebagai saluran irigasi memang sudah menjadi budaya sebagai bentuk perhatian penguasa di masa itu untuk kesejahteraan masyarakatnya.

    Terlebih lagi dengan melihat factor keberadaan Sungai Aya sebagai pendukung utama sumber kehidupan masyarakat dan dikaitkan dengan sejarah kebudayaan yang tercipta di kawasan Tamblang, Sawan, Bila hingga Bengkala merupakan daerah peradaban kuno.

    “Kawasan ini masuk dalam daerah peradaban kuno apalagi di tebing sungai Aya juga ada ceruk-ceruk pertapaan yang mengindikasi masa peradabannya cukup tua,” kata Suarbawa.

    Sementara terkait dengan keberadaan terowongan yang masuk dalam konstruksi bendungan, Suarbawa mengaku tidak akan melakukan intervensi. Ia hanya berharap jika nantinya ditemukan terowongan yang berada di luar konstruksi inti bendungan, agar bisa diselamatkan untuk dilestarikan.

    “Pada bagian tertentu bagian terowongan itu kalau memungkinkan diselamatkan. Paling tidak kalau ada cerita atau informasi kepada generasi bahwa di Sawan ini yang sekarang ada bendungan besar, dulunya untuk mengalirkan air disini ada benang merahnya. Nyambung kenapa dipilih disini mungkin faktor itu juga,” pungkas Suarbawa.

    Ditempat yang sama, Ahli Geologi proyek pembangunan Bendungan Tamblang Herry Suwondo menyebut jika secara garis besar, keberadaan terowongan itu memang harus ditutup karena akan menganggu konstruksi dan juga bisa menyebabkan kebocoran bendungan nantinya. Penutupan itupun akan dilakukan dalam waktu dekat, setelah pihaknya melakukan konsultasi kepada Pihak berwenang di Pusat.

    Nantinya, proses penutupan terowongan itu akan memanfaatkan sistem plugging atau penyumbatan dengan beton untuk menghindari kebocoran.

    “Kalau dirobohkan posisinya agak susah, kalau menungkinkan galiannya disesuaikan dengan kondisi. Tapi dari hitungan teknis, sementara posisi terowongan tidak memungkinkan merubah desain galian, langkah yang logis itu dengan sistem plugging atau disumbat,” ujar Herry. |RM|

    Berita Terpopuler

    Dinas Sosial Lakukan Pemakaman Bayi Terlantar

    Singaraja, koranbuleleng.com | Dinas Sosial Kabupaten Buleleng akan memakamkan jasad bayi yang dibuang di Pantai Camplung, Kelurahan Banyuasri. Saat ini, jasad bayi...

    Pasar Banyuasri Diharapkan Jadi Pusat Ekonomi Bali Utara

    Singaraja, koranbuleleng.com | Pasar Banyuasri sudah selesai dibangun, bahkan kini punya motto “The Spirit of Sobean”. Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana punya...

    Data Akurat Kependudukan Jadi Acuan Program Pembangunan Terukur

    Wakil Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra |FOTO : Edy Nurdiantoro| Singaraja, koranbuleleng.com | Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten...

    Harga Daging Babi Tembus Rp 100 Ribu per Kg

    Peternakan babi |FOTO : arsip koranbuleleng.com | Singaraja, koranbuleleng.com | Harga dagng Babi di sejumlah pasar tradisional di...

    Related articles