More

    Roti Go, Eksis Selama 68 Tahun, Jadi Produk Roti Tertua di Buleleng

    Singaraja, koranbuleleng.com | Melihat dari depan, tokonya kecil, dan kesan secara fisik tampak biasa saja. Namun toko ini punya identitas khas pada dinding tembok atas bertuliskan Roti Go. Gaya tulisannya pun tampak kuno, dibawahnya mentereng juga ukiran tua khas Buleleng. Dari nama itu, toko itu sebagai penjual roti. Tetapi siapa sangka, itu bukan toko roti biasa di Singaraja. Roti Go adalah toko dan produsen roti pertama yang sangat legendaris yang ada Singaraja.

    Bayangkan saja toko roti ini sudah ada sejak 1953. Usianya kini sudah menginjak 68 tahun. Tidak mengherankan jika toko ini dikenal sebagai toko roti pertama di Buleleng yang masih bertahan dan eksis hingga sekarang.

    Toko Roti Go berlokasi di Jalan Surapati No.84, Kelurahan Kampung. Baru, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Toko Roti Go buka setiap hari dari pukul 07.00 sampai 21.00 WITA. Kelurahan Kampung Baru adalah salah satu sudut kota terpadat di Singaraja. Disini, masyarakatnya sangat heterogen, ada dari berbagai ras, agama, dan ras. Kehidupan warga setempat sangat toleran.

    Kelurahan Kampung Baru, lebih populer disebut kampung tinggi. Wilayah ini, merupakan wilayah perniagaan di Singaraja. Dekat dengan bekas pelabuhan terbesar di Bali yakni Pelabuhan Buleleng. Dulu, wilayah Kelurahan Kampung Baru adalah wilayah perniagaan terbesar juga di wilayah Indonesia timur. Di masa lalu, dari pelabuhan Buleleng, banyak barang yang diekspor ke luar negeri, termasuk juga sebagai pelabuhan bongkar muat impor barang dari luar negeri.

    Roti Go menjadi usaha keluarga dari generasi ke generasi. Saat ini toko Roti Go dikelola oleh pasangan suami istri Anthony dan Susan Herawati yang merupakan generasi ke tiga dari leluhurnya.

    Anthony menuturkan ia meneruskan toko roti keluarga sejak tahun 2012 sampai sekarang. Nama toko roti yang ia jalankan saat ini diambil dari nama marga keluarganya yaitu “Go” merupakan salah satu marga orang Tiongkok.

    Di Kampung Baru, memang banyak sekali warga keturunan Tionghoa. Mereka juga hidup berdampingan dengan bahagia dengan warga lain. Di wilayah ini, ada dua tempat peribadatan bagi warga yang menganut kepercayaan Kong Hu Cu, yakni Tempat Peribadatan Tri Dharma Ling Gwan Kiong dan Seng Hong Bio.

    Anthony dari Marga Go merupakan generasi dari tiga bersaudara. Dia punya alasan kuat untuk menjalankan usaha keluarga, yakni karena saudaranya sudah memiliki usaha tersendiri. Selain itu ia juga ingin meneruskan usaha keluarga dari kakeknya, meskipun dari pihak keluarga tidak pernah memaksa Anthony untuk menjalankan usaha milik keluarganya. Roti Go memunyai sejarah panjang dalam produksi kuliner khas Singaraja. Karena itu, sangat berat hati, jika usaha keluarga ini tidak dijalankan.

    Produk khas Roti Go adalah roti tawar yang selalu dibuat segar setiap hari. Selain roti tawar, ada juga kue Onbitjkoek. Kue ini mendapatkan pengaruh sajian kue ala Belanda, beraroma wangi rempah-rempah yang lebih dikenal dengan istilah kue Klemben. Onbitjkoek adalah salah satu makanan Belanda yang biasa menjadi menu sarapan sebelum orang Belanda melakukan aktivitasnya.

    Kini di generasi ketiga ini, ada varian kue lain yang dikembangkan di toko Roti Go. Tambahan varian ini juga tentu dengan alasan inovasi dan persaiangan dengan produk roti lainnya. Jadi, nuansa kue yang terasa lebih kekinian. Harganya pun bersaing mulai dari Rp3000 sampai Rp20.000.

    “Kami sudah ada beberapa varian, seperti kue manis, donat, roti pisang, kue kering, pia dan kue selai,” ujar Anthony

    Anthony juga bercerita bahwa dulu sebelum adanya generasi milenial, orang-orang yang hidup di jaman dulu dan sekarang sudah berusia lanjut, menjadi kakek nenek, justru memiliki keyakinan bahwa Roti Go atau Roti Tawar bisa menyembuhkan orang yang sedang sakit.

    “Setiap ada orang yang sakit selalu datang ke sini buat beli Roti Go, dan anehnya memang sembuh dengan cepet, tapi kan itu balik lagi kepercayaan orang kan beda-beda” tutur Anthony.

    Selain itu Anthony juga pernah mengalami kejadian yang unik, saat ada seorang usia paruh senja mampir ke tokonya untuk berbelanja. Konsumen ini ingin membeli “Roti Kasur” tetapi karyawan toko tersebut tidak paham maksud dari pelanggan. Anthony langsung menyampaikan bahwa istilah Roti Kasur adalah sapaan roti tawar Go. Jadi di setiap masa, ada sebutan yang berbeda-beda tentang roti tawar ini. Dan Roti tawar Go ini adalah yang pertama muncul di Singaraja.

    Meskipun mengalami pasang surut serta menghadapi pesaing roti, Anthony selalu memikirkan cara untuk selalu mempertahankan ciri khas toko yang dikelola. Selain mempertahankan rasa rotinya, ia melakukan promosi di media sosial, kerja sama dengan pedagang-pedagang roti bakar, kantin sekolah, menerima pesanan roti, dan selalu menjaga komunikasi dengan pelanggan setianya.

    Generasi ke empat dari toko Roti Go belum bisa dipastikan oleh Anthony, siapa yang akan mejalankan. Tapi Anthony meyakini bahwa selama adanya generasi, toko roti keluarganya akan selalu estafet dan turun temurun dari generasi ke generasi.(*)

    Pewarta : Nopi Puspa
    Editor : I Putu Nova A.Putra

    Berita Terpopuler

    Related articles