Seniman Lukis Wayang Kaca Nagasepeha Mulai Ikuti Selera Kekinian

Singaraja, koranbuleleng.com | Bali populer sebagai pusat kehidupan kesenian, termasuk kesenian pewayangan.

Desa Nagasepeha di Kabupaten Buleleng adalah yang memiliki historis tersendiri tentang karya seni rupa Pewayangan ini.  Desa Nagasepaha sudah dikenal sejak lama, sebagai ikon seni karena tersohornya karya lukisan wayang kaca.  Aliran lukisan kaca ini pada awalnya ditemukan oleh seorang maestro yang bernama Jero Dalang Diah pada tahun 1927.

- Advertisement -

Seni lukis wayang kaca memiliki keunikan, keistimewaan dan ciri khas tersendiri yang berbeda dari lukisan wayang kaca seniman yang berasal dari Kamasan, Kabupaten Klungkung maupun dari goresan seniman perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar.

Seni lukis wayang kaca juga merupakan warisan budaya tak benda yang telah tercatat secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI bersama dengan tradisi Ngusaba dan Megoak-goakan yang juga berasal dari Kabupaten Buleleng.

Karya seni yang sudah mendunia ini telah diwarisi sejak turun-temurun oleh warga Desa Nagasepaha. Beberapa seniman lukisan wayang kaca ini seperti Ketut Sekar, Nyoman Arnawa, Kenak Ariadi, Luh Nurining, Santosa, Ketut Samudrawan, Nyoman Netep, Suradi, dan Kadek Sukrawa.

Dari beberapa seniman tersebut Ketut Sekar merupakan seniman kaca yang paling lama menekuni seni lukis kaca ini. Dia juga merupakan generasi kedua dari garis keturunan asli Jero Dalang Diah. Dirinya juga dikenal sebagai seniman serba bisa.

- Advertisement -

Selain melukis wayang kaca dia juga mampu melukis menggunakan media kanvas, juga sanggup membuat karya seni meliputi wayang kulit, mengukir dan membuat bade/wadah, yakni tempat pengusungan jenazah yang dibuat menjulang tinggi.

Dia mengungkapkan bahwa kemampuannya tersebut merupakan hasil jerih payahnya belajar sejak umur 10 tahun dari orang tuannya yaitu Jero Dalang Diah kelahiran 1909 di Dusun Delod Margi, Babakan, Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng.

Pria kelahiran Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng tahun 1948 itu menuturkan dalam menghasilkan karya seni lukis kaca dilakukannya secara spontanitas. Hal tersebut berbeda dengan seniman lukis wayang kaca daerah lain yang menggunakan mal atau pola sebelum melukis.

“Saya dalam melukis selalu menuangkan lukisan langsung pada media kaca. Itu merupakan pakem yang tetap dilestarikan, dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi hingga sekarang.” tutur Ketut Sekar

Adapun sejumlah penghargaan yang didapatkan Ketut Sekar dari pengabdiannya di bidang kesenian antara lain, penghargaan Wija Kusuma pada tahun 2008, penghargaan seniman tua pada tahun 2009, dan penghargaan Dharma Kusuma.

Seniman lainnya di desa ini, Ketut Samudrawan. Ia menuturkan bahwa kemampuan melukisnya dimulai sejak tahun 1986 yang diawali dengan melukis wayang kaca sampai tahun 1991.Itu dipelajari dari ayahnya yang bernama Nyoman Sujana.

Pada tahun 1992 modernisasi mulai masuk sehingga dirinya juga menapaki jenis karya lukisan yang menggunakan media lain berupa kanvas.

Kemudian di tahun 2001, ia melakukan transformasi yang besar terhadap lukisan kacanya, dimana pada awalnya konsep dalam lukisannya lebih mengutamakan konsep klasik yang akhirnya berubah menjadi konsep-konsep yang lebih modern berdasarkan konteks masa kini yang mencampurkan karakter pewayangan dan unsur-unsur modernisasi.

Telah banyak pameran yang telah ia ikuti mulai dari yang bertaraf nasional sampai dengan internasional. Salah satu karya lukisan wayang kacanya yang terinspirasi oleh konteks masa kini ialah lukisan pelarian Rukmini oleh Krisna menggunakan mobil berwarna kuning, dimana yang sebenarnya menjadi kendaraannya ialah kereta kuda.

Ia menuturkan bahwa makna dari lukisannya tersebut adalah sebagai simbol cinta sejati dan kesetian Dewi Rukmini terhadap Dewa Krisna yang rela meninggalkan harta dan keluarga demi cintanya, sedangkan untuk kendaraan yang ditumpangi merupakan simbol penggerak, semangat dan tekad.

Adapun contoh lain yang pernah dipamerkan pada pameran di bentara budaya di Denpasar yaitu lukisan Hanoman membawa sepeda motor trail menggebrak tajen yang menjadi favorit pada saat itu.

Serta ada juga Hanoman yang divisualisasikan menjadi seorang idola musik rock and roll yang dipentaskan di Australia. Selain itu ia juga pernah mengikuti pameran di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta dan di Hongkong.

Ia menyebutkan bahwa lukisan kaca yang ada di Bali utara terutama di Desa Nagasepaha itu memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari lukisan yang berasal dari Bali Selatan.

Pria kelahiran 20 Desember tahun 1977 tersebut juga mengatakan bahwa pernah karya lukisannya diborong oleh seorang kolektor yang berasal dari New York tepatnya pada pameran yang berlangsung di Melbourne, Australia.

“Dulu sewaktu mengikuti pameran di Australia, karya lukis saya sempat diborong oleh kolektor bernama tuan Perrit asal Amerika,” kenangnya.

Akan tetapi adapula yang belum pernah ia rasakan, ialah pelelangan, dimana karya yang tidak laku di pameran akan dilelang dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga aslinya.

Dia juga menceritakan bahwa kendala yang dihadapi yakni soal pemasaran dan distribusi karena bahan dasar yang digunakannya mudah rusak.

Selain membuat karya berupa lukisan kaca, dia juga membuat lukisan di kanvas, kertas ulan taga (dari bahan dasar kayu) dan juga seni patung. Sementara itu untuk harga dari karya yang dibuatnya itu bervariasi tergantung dari tingkat kerumitannya, ukuran, dan tema yang digunakan.

Ia menambahkan bahwa pengerjaan dari karya lukis kaca yang dibuat juga tergantung dari ukuran, dan kerumitan.

“Pengerjaan setiap lukisan itu bervariasi tergantung ukuran besar kecilnya, tapi biasanya kalau saya buat yang ukuran kecil itu 2 hari sudah selesai saya buat.” ujarnya.

Untuk perawatannya juga harus diperhatikan dengan baik dan rutin agar tidak mudah rusak oleh jamur menggunakan alat bernama harderner.

Tidak lupa keduanya juga memiliki harapan yang sama agar mereka para seniman lebih diperhatikan lagi saat ini oleh pemerintah, terutama dari segi penyaluran karya mereka, agar mereka para para perajin wayang kaca tidak punah. (*)

Pewarta  : Made Wijaya Kusuma

Edito      : I Putu Nova A.Putra

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts