Satu Keluarga Asal Desa Bontihing Terbakar di Kamar Kos

Singaraja, koranbuleleng.com|Duka mendalam dirasakan Nyoman Yogi Mahendra, 22 tahun, dan keluarganya di Banjar Dinas Kawanan, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Duka itu dirasa atas meninggalnya Made Ari Sanjaya, bersama istri dan anaknya dalam peristiwa kebakaran rumah kontrakan Banjar Pembungan, Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, pada Senin, 6 Mei 2024 malam. Padahal korban disebut baru pindah ke lokasi itu sejak Februari 2024. 

Mahendra saat itu harus beberapa kali menyeka air matanya. Ia tak kuasa menahan tangis karena kehilangan kakak, ipar dan keponakannya. Padahal tiga hari lalu, ia masih sempat berkomunikasi dengan sang kakak untuk menanyakan kabar keluarganya.

- Advertisement -

Dia sama sekali tidak menyangka, peristiwa tragis itu akan menimpa Ari Sanjaya. Anak kedua dari pasangan suami istri Made Jiwa dan Made Sari itu, selama ini menjadi tulang punggung keluarga. “Almarhum (Ari Sanjaya) jadi tulang punggung keluarga. Terakhir saya komunikasi tiga hari lalu. Almarhum pulang paling pas hari raya, terakhir pulang pas lebaran kemarin. Tidak ada firasat apa,” ujar Mahendra, ditemui Selasa, 7 Mei 2024 siang.

Mahendra menyebut, kakaknya itu baru menikah pada tahun 2022. Setelah menikah Sanjaya disebut mengajak istrinya untuk tinggal di Denpasar. Sanjaya bersama Novi Mertasari (istri) dan Putu Gede Agus (anak) baru pindah ke kos tersebut pada Februari lalu. Selama tinggal di Denpasar, Sanjaya disebut sering pindah-pindah lokasi kos.

“Tinggal di Denpasar sudah dari tamat SMP. Ngekos di sana baru Februari, sebelumnya pindah-pindah di wilayah Sesetan juga. Istrinya jualan online, jualan alat-alat rumah tangga itu. Baru menikah tahun 2022,” ucapnya.

Jenazah ketiganya pun saat ini tengah dipulangkan dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah di Denpasar. Keluarga berencana akan melakukan upacara penguburan kepada ketiganya di Setra Desa Adat Desa Bontihing, pada Jumat, 10 Mei 2024.

- Advertisement -

Perbekel Bontihing I Gede Parwata mengatakan, kejadian yang menimpa warganya itu diketahui pihaknya pada Selasa dini hari. Informasi itu didapat dari seorang anggota Polsek Kubutambahan. Sebelum mendapat informasi itu, ia sempat bermimpi ayah korban mencarinya. Parwata dan ayah korban disebut merupakan teman baik saat duduk dibangku SMP.

“Saya kebangun awalnya, karena mimpi orang tua korban datang ke saya tiba-tiba dan ada cahaya putih. Orang tua korban satu kelas SMP dengan saya. Mungkin mimpi itu karena kedekatan dengan saya. Ternyata ada anggota keluarganya meninggal, tiga-tiganya sekaligus anak, menantu, dan cucu,” ujar Parwata.

Parwata menyebut, keluarga korban memang masuk dalam keluarga tidak mampu. Keluarga Sanjaya pun disebut telah masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pada saat pemulangan jenazah pun, sempat terkendala biaya untuk pemulangan jenazah dari RSUP. Biaya pemulangan ketiga jenazah korban keluarga awalnya diminta Rp5 juta oleh pihak rumah sakit.

“Awalnya sewa ambulans 5 juta, setelah koordinasi dengan Dinsos akhirnya dibantu dengan ambulans milik yayasan. Memang keluarga kurang mampu masuk di DTKS. Kalau tidak ada ambulance yayasan, rencana dialokasikan dari dana desa penanganan bencana alam. Tanggung jawab moral dari kepala desa,” kata dia. (*)

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts