TMMD ke-124 di Desa Depeha: Ada Sentuhan Kemanusiaan Hingga Tanam Mangga Langgengkan Identitas

Singaraja,koranbuleleng.com – Di tengah wilayah perbukitan di desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan yang berhawa sejuk dan dikelilingi pohon mangga, puluhan prajurit TNI dan warga tampak bahu-membahu membuka jalan baru. Desa ini bukan hanya tempat dengan keindahan alam, tetapi juga kini menjadi panggung kerja bersama membangun masa depan yang lebih layak lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124.

Setiap pagi, kabut tipis menyelimuti desa, disambut suara alat berat dan semangat warga. Desa Depeha dikenal sebagai sentra mangga di Buleleng, dan kini ia juga menjadi simbol gotong royong dan pengabdian. Di sinilah Kodim 1609/Buleleng mengerahkan pasukan TMMD untuk memperkuat infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.

- Advertisement -

“Semangat pagi harus terus menyala demi suksesnya TMMD. Kita bangun desa ini dengan hati,” ucap Lettu Inf Chris Pelris Patah saat memimpin apel pagi, menyuntikkan semangat kepada personel Satgas dan warga sebelum memulai pekerjaan harian mereka.

Untuk mempercepat pekerjaan, pengerjaan dibagi menjadi dua tim. Tampak warga desa bahu-membahu bersama TNI, mencangkul, mengangkat batu, dan memindahkan material dengan ember seadanya.

Salah satu proyek utama TMMD adalah pembangunan jalan dan senderan. Senderan dibangun sepanjang 307 meter. Pekerjaan dibagi menjadi dua tim untuk mengejar target waktu. Jalan yang sebelumnya hanyalah jalan tanah sempit, kini mulai terbuka dan diperkeras, membuka akses baru bagi warga menuju lahan pertanian dan permukiman.

Proyek pembangunan jalan ini menjadi nafas baru untuk pertanian di desa ini. Kelak, petani setempat akan lebih mudah memanfaatkan akses untuk membawa hasil-hasil tani dan kebun mereka.

- Advertisement -

Sinergi antara prajurit TNI dan warga begitu terasa. Mereka menggali, mengangkat batu, dan menata senderan dengan tangan mereka sendiri. Tak ada sekat, semua bekerja dalam semangat gotong royong khas desa.

Di sudut desa, rumah bambu milik Made Kandia mulai berubah wajah. Dinding bata menggantikan bilik tua, atap kuat menggantikan genteng rapuh. Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) miliknya menjadi bagian dari program TMMD yang menyentuh langsung kehidupan warga. Ini sebagai hadiah dari harapan Made Kandia selama bertahun-tahun.

Pengerjaan rumah ini dipercepat, karena Satgas akan melanjutkan renovasi pada rumah kedua. “Kami akan kebut pengerjaan rumah ini agar bisa lanjut ke RTLH berikutnya,” ujar salah satu anggota tim Satgas sambil memindahkan bahan bangunan.

Pemeriksaan kesehatan oleh tim medis TNI dari RS AD Singaraja.

Tak hanya pembangunan fisik, TMMD juga membawa misi kemanusiaan. Di balai desa, tim kesehatan dari RST Singaraja yang dipimpin Serda Ketut Madeg Satria memberikan pelayanan kesehatan gratis, tidak hanya untuk Satgas, tetapi juga masyarakat umum.

“Selain mendukung kelancaran tugas Satgas, kami juga ingin memastikan masyarakat sekitar turut merasakan manfaat kehadiran TMMD. Memberikan pelayanan medis adalah bentuk pengabdian kami,” ujarnya.

Warga seperti Nyoman Liadi (80) dan Gede Restika (55) menerima layanan pemeriksaan, pemberian vitamin, hingga infus secara cuma-cuma. Kehadiran tim medis ini menjadi bukti bahwa TMMD menyentuh sisi kemanusiaan warga yang tinggal di daerah pegunungan.

Tanam 300 Pohon Mangga: Merawat Identitas dan Masa Depan

TMMD di Depeha juga menjadi ajang pelestarian lingkungan. Di atas lahan milik pemerintah desa, sebanyak 300 lubang tanam disiapkan untuk bibit pohon mangga. Desa Depeha memang dikenal sebagai sentra mangga terbesar di Buleleng, dan TMMD memperkuat identitas itu lewat penghijauan.

“Sebanyak kurang lebih 300 lubang akan disiapkan untuk ditanami bibit pohon mangga, sebagai langkah mendukung identitas Desa Depeha sebagai sentra mangga terbesar di Kabupaten Buleleng,” jelas Kapten Inf Wayan Nada, Danramil 1609-07/Busungbiu.

Pembuatan lubang tanam untuk penanaman pohon mangga.

Penanaman pohon ini tidak hanya demi keasrian alam, tetapi juga berorientasi pada manfaat ekonomi jangka panjang. Buah mangga yang kelak tumbuh di lahan itu diharapkan bisa menjadi sumber penghasilan permanen bagi warga. Selama ini, Mangga Depeha sudah populer sekali di Indonesia. Namun, kelemahan yang terjadi, seringkali nama Mangga Depeha “dibajak” oleh pedagang-pedagang nakal dari pulau lain.

Rasa dariMangga Depeha memang khas, selain manis tentu sangat legit dan tekstur yang tebal. Warnanya juga kuning dengan sempurna. Warga sendiri berharap, agar pemerintah juga bisa memberikan pelatihan danpemberdayaan bagi warga untuk produksi berupa penganan berbahan mangga. “Kami berharap ada semacam pelatihan bagi kami untuk pasca panen. Produksi menjadi barang yang lebih bernilai ekonomi, seperti makanan,kripik atau yang lain sehingga identitas Mangga Depeha ini semakin kuat,” ujar Made Sukarana, salah satu warga.

Di lereng sejuk pegunungan Depeha, TMMD ke-124 tidak hanya membangun jalan dan rumah, tapi juga membangun harapan, kesehatan, dan kelestarian. Dari batu yang dipindahkan, rumah yang dipugar, hingga pohon yang ditanam, semua menyampaikan satu pesan: pembangunan Indonesia dimulai dari desa. Dari Depeha, semangat itu menyala. (*)

Pewarta :Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru