Singaraja, koranbuleleng.com | Pelestarian ekosistem laut kembali digencarkan di wilayah pesisir utara Buleleng. Melalui penanaman terumbu buatan di Pantai Buitan, Desa Tejakula, konservasi laut diperkuat demi menyelamatkan kehidupan biota laut sekaligus mendukung pariwisata bahari yang berkelanjutan.
Perairan Tejakula selama ini dikenal memiliki kekayaan terumbu karang alami. Namun di beberapa titik, kelestariannya mulai terancam. Penanaman terumbu buatan pun kembali dilakukan sebagai lanjutan program konservasi laut yang telah dimulai sejak 2021.
Langkah ini menjadi bagian dari kampanye penyelamatan pesisir dalam rangka Bulan Bung Karno ke-VIII Tahun 2025. Selain menambah substrat bagi pertumbuhan terumbu karang, terumbu buatan juga menjadi rumah baru bagi ikan-ikan karang dan organisme laut lainnya.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, yang turut menanam langsung terumbu buatan, menekankan pentingnya konservasi laut sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan yang menyeluruh. Menurutnya, konservasi tak hanya soal hutan dan pohon di daratan, tapi juga ekosistem bawah laut yang sering terlupakan.
“Selama ini fokus kita banyak di daratan, padahal laut juga menyimpan kekayaan yang harus dijaga. Terumbu karang itu penting untuk menjaga keseimbangan laut dan mencegah abrasi pantai,” ungkapnya.
Dengan garis pantai terpanjang di Bali, Buleleng memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata bahari berbasis konservasi. Kawasan seperti Tejakula bisa menjadi tujuan snorkeling dan diving jika terumbu karangnya terjaga dengan baik.
“Penanaman terumbu buatan ini bukan hanya untuk ekosistem, tapi juga untuk masyarakat. Laut yang sehat bisa menjadi sumber ekonomi berkelanjutan,” lanjutnya.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta komunitas peduli lingkungan di Tejakula. Harapannya, langkah kecil ini bisa menginspirasi lebih banyak pihak untuk menjaga laut sebagai warisan bagi generasi mendatang. (*)
Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

