Singaraja, koranbuleleng.com| Dua pasang ornamen topeng raksasa menghiasi panggung utama Buleleng Festival tahun 2025 ini. Festival ini sempat vakum beberapa tahun karena pandemi Covid19 dan keterbatasan anggaran, kini muncul dengan aura lain. Topeng jadi isu utama yang cukup menghentak pesta rakyat yang mengambil lokasi di titik 0 Kota Singaraja.
Topeng yang dibuat menggambarkan tokoh pewayangan Rama dan Laksmana, dengan nuansa dominan putih kokoh menghiasi belakang panggung, menambah kesan meriah dari gemerlap Tugu Singa Ambara Raja. Apalagi saat malam hari, pencahayaan panggung menambah kemegahan.
Tapi yang lebih spektakuler, dua topeng raksasa itu justru bukan berbahan kayu, topeng raksasa itu dibuat menggunakan 1,7 ton sampah plastik yang telah di daur ulang. Disebut butuh waktu satu bulan, untuk menyelesaikan dua topeng itu.
Dalam pembuatannya sampah plastik dicacah lebih dulu, lalu dibentuk dan diukir menjadi topeng karakter Rama dan Laksamana. Dua karakter itu dipilih, karena merupakan simbol kebijaksanaan. Rama dan Laksamana adalah kakak beradik putra Raja Dasarata dari kerajaan Kosala. Kisah mereka yang tercatat dalam kitab Ramayana.
Kitab ini juga menjadi dasar wiracarita seni tradisi Wayang Wong asal Desa Tejakula, Buleleng. Kesenian ini juga ditarikan secara khas menggunakan Topeng dengan berbagai karakter dalam epos Ramayana. Biasanya topeng yang digunakan itu berbahan Kayu Pule. Topeng-topeng yang dipakai dalam kesenian Wayang Wong selalu disakralkan.

Sementara ornament topeng yang dipasang sebagai latar panggung Buleleng Festival 2025 ini murni sebagai kreatifitas dan mengambil bahan daur ulang sampah tanpa ada prosesi sakral dalam pembuatannya.
“Seluruh backdrop, diluar rangka adalah daur ulang sampah plastik. Saya saksikan sendiri bagaimana mereka mengangkat topeng seberat 1,7 ton ini ke atas panggung, luar biasa,” ujar Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra saat memberikan sambutan pada pembukaan Buleleng Festival 2025, Senin, 18 Agustus 2025.
Pemkab Buleleng memastikan, Buleleng Festival kali ini ramah lingkungan. Sampah yang dihasilkan pada pergelaran Bulfest tidak ada dibuang ke TPA. Sebanyak 135 relawan disiapkan untuk membersihkan area dari sampah plastik. Selain membersihkan, ratusan relawan itu juga akan langsung memilah sampah.
Nantinya sampah organik yang dikumpulkan akan dibawa ke komposting milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng di Desa Jagaraga, untuk diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah non organik, akan dibawa ke Bank Sampah Induk (BSI). Sampah-sampah yang dibawa ke BSI, disebut akan dibayar.
“Setelah di bank sampah, sampah akan di daur ulang kembali menjadi karya seni, baik patung, topeng, tas dan pernik-pernik lainnya yang memiliki nilai ekonomi. Apa yang kita laksanakan, kita harap bisa mengedukasi masyarakat untuk menjaga dan membuang sampah pada tempatnya,” kata Ketua Panitia Bulfes, Gede Suyasa.
Ekspresi dalam Ragam Kreatifitas Topeng, Sekala dan Niskala
Ditengah hiruk-pikuk persiapan Buleleng Festival 2025, dari sebuah sudut gang kecil di Banjar Dinas Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, ada satu rumah yang berbeda dibandingkan milik warga lain di pemukiman itu. Rumah dengan nuansa nuansa putih dengan pilar-pilar besar di depannya tampak begitu bersinar di terangi cahaya Mentari, tepat di tanggal 17 Agustus 2025.
Di dalam bangunan yang digunakan untuk galeri itu, seorang pria duduk di kursi berbahan ban mobil bekas. Kedua tangannya, memegang sebuah topeng yang berbeda dengan biasanya. Topeng itu terlihat berwarna warni, bukan dari cat. Melainkan topeng itu ditempeli bekas plastik makanan ringan, hingga membuatnya menjadi berwarna. Dia sedang membersihkan topeng di tangannya.
Oleh Made Agus Janar Dana, 35 tahun, topeng itu digunakan sebagai pelengkap dalam setiap penyuluhan sampah. Dengan topeng tersebut, ia menamai diri sebagai Made Oplas. Nama itu diambil dari singkatan “Manusia Dengan Oprasi Plastik”, sesuai dengan bahan yang digunakan pada topeng tersebut.

Janar Dana menyebut, topeng yang digunakan Made Oplas merupakan topeng bondres. Karakternya dibuat lucu, seperti penampilan topeng bondres yang biasa ditampilkan pada pertunjukan seni di Bali. Penggunaan topeng ini, disebut semakin membuat seminar lebih menarik.
Ia menuturkan, pada awal menjadi penggiat karya kreatif sampah pelastik dan memberikan seminar, ia tidak menggunakan topeng. Saat itu, seminar disebut minim interaksi. Dari sanalah, ia kemudian memutar otak untuk menarik minat masyarakat dalam seminar yang diberikan. Kemudian karakter Made Oplas, muncul menemani setiap seminar yang diberikan Janar Dana.
“Sangat bekerja banget ini topeng, sehingga orang senang mendengarkan penyuluhan tentang sampah,” ujarnya.
Selain Made Oplas, ia juga punya empat karakter topeng lain. Dua diantaranya diberi nama Gek Ucik dan Dek Yudhi. Dalam membuat satu karakter topeng, disebut membutuhkan waktu satu minggu. Mulai dari penyiapan bahan topeng dari kayu, hingga penempelan sampah plastik di topeng.
Dalam satu topengnya, disebut memerlukan 20 plastik kemasan. Sebelum diaplikasikan, sampah akan dicuci dan dipilah, untuk menyesuaikan warna. “Untuk plastik, saya gunakan plastik kemasan. Karena lebih estetik dengan ornamen tulisan, gambar, dan gradasi warna,” ujarnya.
Janar Dana mengaku, sebelumnya sempat membuat topeng yang semuanya menggunakan bahan plastik. Namun, topeng itu tak lagi digunakannya karena penggunaan plastik tidak bagus untuk wajah. Sehingga untuk topeng, ia tetap menggunakan bahan kayu yang ditempel dengan plastik.
“Dulu pernah pakai lelehan sampah plastik yang dicetak, tapi karena tidak baik untuk kulit wajah. Untuk bahan dasar topeng, saya tetap pakai kayu lalu ditempel dengan plastik,” tambahnya.
Tak hanya digunakan untuk menarik minat masyarakat dalam mendengarkan seminar. Penggunaan topeng dengan bahan plastik ini, juga memberikan makna mendalam terkait sampah. Dengan topeng plastik ini, ia ingin mengajak masyarakat tidak main-main terhadap sampah. Selain itu, ia ingin menunjukan bahawa sampah bukan lah yang jorok. Dengan ide kreatif, sampah tersebut bisa menjadi barang berharga dan bernilai ekonomi.
“Dengan topeng ini ingin menggambarkan ke masyarakat, kalau kita kreatif apapun bisa jadi berharga, sekalipun itu sampah plastik yang kita pandang sebelah mata,” ucapnya.
Janar Dana menyebut, dengan topeng ini selain memberikan edukasi tentang sampah, ia juga ingin melestarikan seni dan budaya Bali terutama dalam seni topeng bondres. Topeng bondres, selain memberikan lawakan lucu, dalam kesenian ini penarinya bisa menyisipkan pesan-pesan atau kritik sosial yang terjadi di masyarakat.
“Ketika kita menonton bondres pasti ada masalah sosial yang diangkat, yang dikemas dengan cara santai, senang, lucu, tapi serius. Ini jadi kembanggan bagi saya, walau tidak bisa menari, tapi saya bisa bondres,” kata dia.
Dia punya keinginan besar untuk mengembangkan topeng plastik. Tentunya topeng yang akan dikembangkan, hanya topeng bondres.
Ia berharap, topeng plastik ini bisa dikenal luas oleh masyakat. Selain itu, dia berharap pemerintah bisa meningkatkan program terkait pelestarian budaya terutama dalam seni topeng. Dengan budaya yang makin kuat, akan berdampak untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali.
“Ini harta berharga yang kita punya, karena Bali itu bukan hotel-hotelnya. Tapi Bali adalah seni budaya, alam, tradisi, yang sangat asri dan adiluhung. Kita wajib lestarikan seni budaya Bali,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda bisa mengenali keunikan yang dimiliki terutama di bidang kesenian. Dengan ketekunan, keunikan itu disebut akan menjadi nilai lebih dan bisa mendatangkan nilai ekonomi. “Setiap anak terlahir unik. Kalian harus percaya, kalian memiliki satu keunikan dalam diri dan temukan keunikan kalian. Kalau suka menari, menari, kalau suka nopeng, buat itu spesial. Bagi saya yang spesial topeng, topeng saya tempel dengan plastik,” ucapnya.
Di arena Buleleng Festival ini, Agus Janar juga membuka gerai edukasi Wajah Plastik. Gerai itu tentu bukan untuk sekedar pamer hasil kreatifitas, tetapi juga untuk edukasi lingkungan.
Disitu, Agus kerap berbagi pengalaman kepada pengunjung Bulfest untuk terus menjaga lingkungan. “Jika ada kemauan, Sampah plastik kita olah bersama, rawat bumi ini agar generasi selanjutnya juga terus menjaga tempat kita berpijak ini,” kata dia.
Di Buleleng selain untuk kesenian, topeng sangat erat dengan upacara keagamaan, yaitu Topeng Sidakarya. Di Bali Utara seni pertunjukan sakral itu, sering dipentaskan di penghujung upacara piodal di pura. Sehingga topeng tersebut bisa ditonton oleh semua kalangan.
Tak hanya sebagai penutup upacara, dalam pementasan juga biasanya diisi oleh wejangan disampaikan oleh topeng yang dikemas dengan gaya bebondreasan yang jenakan dengan disisipi sastra. Saat ini, memberikan wejangan dengan topeng bondres ini, disebut bisa lebih menarik interaksi masyarakat.


“Ini penting sekali, jadi ketika masyarakat sekarang diberikan materi agama dalam bentuk dharma wacana dia tidak akan mau mendengarkan, cenderung bermain handphone. Tapi ketika bondres dengan tuntunannya dari sastra itu, nilai sastra ditambahkan dengan bondres lawakan, secara tidak langsung memahami itu. Tertawa dapat, tatwa dapat,” ujar Akademisi Institut Mpu Kuturan Singaraja, I Nyoman Suardika.
Menurut akademisi yang juga Ketua Sanggar Seni Nong-Nong Kling, topeng sangat erat dengan kehidupan bermasyarakat. Kehidupan diperankan sesuai dengan tempatnya, seperti halnya topeng. Dimana topeng disebut memiliki arti “tutup aeng (seram)”, yang diartikan denhan topeng menutup hal-hal negatif di dalam diri manusia.
“Semua orang memiliki topeng. Tetapi ingat topeng berubah-ubah. Perankanlah baik-baik ketika mendapat peran itu. Bupati, topengnya bupati, sekarang bagaimana dia bisa menghidupkan topeng itu agar yang melihat itu bahagia, senang, tenang,” kata dia.
Dengan makna topeng itu, ia berharap para seniman topeng khususnya bondres bisa menghindari hal-hal negatif dalam memberikan lawakan. Para seniman diharapkan menghindari lawakan yang mengandung unsur cabul, SARA, dan pelecehan agama. Hal tersebut harus ditutup sesuai dengan makna topeng yang menutup hal-hal negatif.
Topeng ini tuntunan, kata dia. Apabila pemain topeng ini betul-betul memahami kalau pemain topeng, bondres atau petopengan itu harus banyak hal yang dikuasai, bisa menari, megambel, mekidung, mengetahui tatwa dan sastra.
Surdika menambahkan, saat ini pihaknya belum menemukan topeng berbahan plastik yang disakralkan. Mengingat kesakralan topeng, bisa dihidupkan dengan bahan alami yang bisa ditemukan di alam.
“Karena dalam bentuk menghidupkan itu, ada kayu, ada tanah, itu bisa diurip. Kalau tapel plastik, itu bisa pakai mainan, pajangan, untuk kreatifitas, imajinasi seniman. Bisa juga digunakan untuk branding,” terangnya. (*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

