Singaraja, koranbuleleng.com | Buleleng Festival (Bulfest) 2025 masih terus berlangsung di titik 0 Kota Singaraja. Tidak hanya menghadirkan pentas seni dan musik, festival budaya terbesar di Buleleng ini juga menjadi surga kuliner yang selalu diburu masyarakat. Deretan stan kuliner yang berjajar di Jalan Veteran Singaraja menawarkan ragam cita rasa, salah satunya tipat cantok bumbu kuning khas Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu.
Di salah satu stan, seorang perempuan muda tampak lihai mengadon bumbu di cobek. Tangannya cekatan mencampurkan kacang dengan bumbu kuning khas Bali. Berbeda dari tipat cantok pada umumnya, kuliner ini menghadirkan sentuhan unik dengan warna kuning cerah yang berasal dari bumbu suna cekuh, campuran bawang putih, kemiri, kunyit, dan kencur.
Kuliner tradisional ini dikenal sebagai sajian khas Desa Tinggarsari yang biasa hadir saat Hari Suci Nyepi. Tahun ini, tipat cantok bumbu kuning tampil di Bulfest 2025 sebagai representasi kuliner Kecamatan Busungbiu.
“Kita ditunjuk oleh pak camat, untuk mewakili stand di Bulfest. Kebetulan kakak jualan tipat cantok di rumah, jadi kita bawakan disini,” ujar Pengelola Stan, Kadek Oka Armadika, Kamis, 21 Agustus 2025.
Oka, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Tinggarsari, menuturkan bahwa kuliner ini dipilih karena harganya yang ekonomis dan bisa dijangkau semua kalangan. Satu porsi tipat cantok bumbu kuning lengkap dengan es teh dan kerupuk hanya dibanderol Rp15 ribu.
Bahan dasar kuliner ini tidak berbeda jauh dengan tipat cantok pada umumnya, kacang, bawang putih mentah, cabai, garam, petis, dan gula merah, namun diperkaya dengan bumbu kuning khas Bali. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan aroma kunyit menghadirkan cita rasa unik yang sulit dilupakan.
“Di Busungbiu, 90 persen pedagang masih tetap menggunakan bumbu kuning. Karena di Busungbiu orang-orang juga pintar buat base gede (bumbu Bali lengkap). Tipat cantok umumnya pakai petis, rasanya mirip ke arah gado-gado. Kalau base kuning ada ciri khas bumbu Bali. Biasanya kalau Nyepi pasti bekalnya tipat cantok bumbu kuning,” ungkap Oka.
Antusiasme masyarakat pun terbukti tinggi. Pada hari pertama pembukaan Bulfest 2025, Senin, 18 Agustus 2025, tipat cantok bumbu kuning ludes terjual bahkan sebelum acara berakhir. Banyak pembeli merupakan warga Busungbiu yang kini berdomisili di luar kecamatan, namun datang ke festival untuk bernostalgia dengan cita rasa kampung halaman.
“Pembeli hari pertama jam 8 malam sudah habis. Ramai peminatnya. Orang-orang Busungbiu menikar keluar, liat sini mereka nostalgia. SKPD ramai, anak-anak kuliahan juga ramai datang,” kata Oka.
Tak hanya menyajikan tipat cantok, stan ini juga menawarkan es teh unik yang menggunakan rebusan daun alpukat sebagai bahan utama. Racikan daun alpukat yang dipadu dengan pandan dan jahe menghadirkan rasa segar sekaligus menyehatkan.
“Ini khas Desa Tinggarsari, warisan dari kakek. Khasiatnya penurun tensi. Alpokat memang banyak disekitar desa kita,” ucap Oka.
Di balik keseruan stan ini, Oka tidak sendirian. Ia dibantu Ketua BPD Tinggarsari, Putu Sukarini, yang bertugas mengadon bumbu, serta satu perempuan lainnya yang ikut berjulan.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

