Singaraja, koranbuleleng.com | Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buleleng semakin intens melakukan edukasi bagi pemilih pemula sebagai langkah nyata meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2029. Program ini menyasar ratusan siswa SMP Negeri 6 Singaraja, pada Sabtu, 4 Oktober 2025.
Ratusan siswa tersebut mendapatkan pembekalan langsung seputar dasar-dasar demokrasi, arti penting partisipasi politik, serta tahapan penyelenggaraan pemilu. Kegiatan dikemas secara interaktif, disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman siswa, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Buleleng, Putu Arya Suarnata, menjelaskan bahwa sejak Januari hingga Maret 2025, pihaknya telah aktif menyambangi sejumlah sekolah di wilayah Buleleng. Bahkan, KPU turut hadir dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) guna memperkenalkan pentingnya partisipasi politik sejak dini.
“Kita sudah masuk ke beberapa kegiatan MPLS dan audiensi ke sekolah, tapi tantangannya adalah waktu. Sebagian besar sekolah hanya memberikan waktu satu jam untuk sosialisasi, padahal materi yang kami bawa cukup padat,” ujar Arya.
Menurut Arya, hasil dari kegiatan sosialisasi memperlihatkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap demokrasi dan pemilu masih tergolong rendah. Banyak pelajar, terutama di tingkat kelas X SMA/SMK, belum memahami istilah dasar seperti DPT, TPS, hingga tata cara pencoblosan. Kurangnya pengenalan konsep demokrasi dalam kegiatan belajar di sekolah menjadi salah satu hambatan yang perlu segera diatasi.
“Selama ini kami harus melakukan pendekatan dulu ke pihak sekolah agar materi demokrasi bisa masuk ke kegiatan siswa. Harapannya nanti ada program tetap di sekolah yang mengangkat tema ini,” kata dia.
Tahun ini, KPU Buleleng menargetkan dapat menjangkau 35 sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK di seluruh wilayah. Namun, hingga awal Oktober 2025, baru 19 sekolah yang berhasil tersentuh program sosialisasi ini. Untuk memperluas jangkauan, KPU Buleleng menyiapkan strategi baru pada tahun 2026 dengan mengundang seluruh kepala sekolah dan Pembina Kesiswaan (PKS) dalam forum khusus. Langkah ini diharapkan dapat membahas integrasi materi demokrasi ke dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler.
“Jika sekolah menyediakan ruang khusus, akan lebih mudah bagi kami untuk menyusun jadwal dan membuat program berkelanjutan. Dengan begitu, pemilih pemula bisa lebih siap dan sadar akan hak serta tanggung jawabnya dalam Pemilu 2029,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

