Singaraja, koranbuleleng.com| Jurusan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (BSID) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menghidupkan semangat kebangsaan melalui Festival Bahasa dan Sastra (Festra) 2025. Kegiatan tahunan ini berlangsung selama sepekan, mulai Senin, 27 Oktober hingga Minggu, 2 November 2025, dan menjadi momentum penting memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Ketua Jurusan BSID FBS Undiksha, I Wayan Artika, menegaskan bahwa Festra bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wujud tanggung jawab akademik dalam memuliakan bahasa sebagai pilar pembentuk bangsa. “Secara akademik kami bertanggung jawab untuk merayakan momen sejarah Sumpah Pemuda. Ada satu faktor penting, yaitu bahasa. Bahasa adalah hal yang membentuk Indonesia,” jelasnya.
Artika menambahkan, Festra juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan sekaligus mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah.
“Mahasiswa kami sedang menyiapkan diri menjadi guru Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia. Melalui Festra, mereka belajar mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat dan siswa,” ujarnya.
Salah satu kegiatan paling dinanti dalam Festra 2025 adalah Wimbakara Nyurat Lontar, diikuti 61 peserta dari berbagai kabupaten di Bali seperti Buleleng, Jembrana, Bangli, hingga Gianyar.
Ajang ini menjadi kebanggaan tersendiri karena memperebutkan Piala Bergilir Rektor Undiksha.
Selain nyurat lontar, rangkaian Festra juga mencakup penyuluhan literasi dan bahasa, lomba MC Prawara, serta Cipta Baca Puisi tingkat nasional. Menurut Artika, penyelenggaraan lomba tingkat nasional ini menjadi bukti komitmen Undiksha dalam menjaga kualitas dan kredibilitas akademik.
“Kami ingin Festra tidak hanya meriah, tetapi juga menjadi ajang prestasi. Karena itu, kami menghadirkan juri nasional seperti Wayan Sunarta dan Sahadewa, penyair yang sudah dikenal luas,” tambahnya.
Lebih jauh, Artika menyebut bahwa Festra juga merupakan langkah awal untuk menyiapkan Duta Bahasa internal di lingkungan kampus, sejalan dengan program Balai Bahasa, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Nasional.
“Sebelum bangsa Indonesia lahir, Bahasa Indonesia sudah ada. Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan bahasa daerah dan bahasa asing. Itu sebabnya, menjaga dan menghormati bahasa adalah bentuk menghormati jati diri bangsa,” tegasnya.
Ketua HMJ BSID, Ketut Agus Kevin Partha Ariwibawa, menjelaskan bahwa lomba nyurat lontar menjadi agenda tahunan yang konsisten dilaksanakan untuk menjaga keberlangsungan aksara Bali. “Lomba nyurat lontar ini kami laksanakan setiap tahun. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Bali, kegiatan ini adalah wujud nyata kami dalam menjaga warisan budaya,” ungkap Kevin.
Ia berharap peserta tidak berhenti pada ajang kompetisi semata, melainkan terus menumbuhkan rasa cinta terhadap aksara dan sastra Bali. “Kami ingin memperkenalkan dan melestarikan kembali aksara Bali agar tidak punah. Semoga adik-adik peserta bisa terus menulis, membaca, dan mencintai aksara serta sastra Bali,” ujarnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

