Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah pusar menggelontorkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk melakukan revitalisasi 56 sekolah TK hingga SMP di Kabupaten Buleleng. Total anggaran yang digelontorkan pusat untuk perbaikan sekolah itu sebesar Rp40,7 miliar.
Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra menjelaskan, program revitalisasi tersebut meliputi 8 taman kanak-kanak (TK) dengan total anggaran Rp1,8 miliar, 37 sekolah dasar (SD) senilai lebih dari Rp29 miliar, dan 14 sekolah menengah pertama (SMP) dengan nilai Rp9,7 miliar.
Meski bantuan pusat cukup besar, Sutjidra menegaskan bahwa masih banyak sekolah di Buleleng yang memerlukan perhatian serupa. Fasilitas seperti toilet, perpustakaan, dan ruang kelas layak belajar masih menjadi kebutuhan mendesak.
“Masih banyak gedung sekolah yang rusak dan sudah tua. Tahun depan akan kami anggarkan lagi agar proses belajar-mengajar semakin nyaman,” ujarnya saat meninjau revitalisasi SDN 2 Liligundi, Selasa, 28 Oktober 2025 siang.
Puluhan proyek revitalisasi sekolah itu ditargetkan selesai pada Desember 2025. Sutjidra mengingatkan kontraktor agar memprioritaskan pekerjaan bagian atap bangunan, mengingat saat ini Buleleng mulai memasuki musim hujan. “Atap harus diselesaikan lebih dulu, karena sangat krusial. Setelah itu baru lantai dan dinding,” ucapnya.
Selain memperbaiki infrastruktur, Sutjidra juga berharap revitalisasi sekolah dapat menjadi langkah nyata pemerataan akses pendidikan di pelosok Buleleng. “Kalau gedungnya sudah bagus, orang tua tidak perlu menyekolahkan anaknya jauh-jauh ke kota,” katanya.
Salah satu sekolah penerima manfaat adalah SDN 2 Liligundi. Kepala sekolah Desak Made Sri Artini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan pemerintah pusat. “Hampir seluruh atap sekolah kami rusak berat dan bocor sejak lama. Beruntung, tahun ini usulan perbaikan akhirnya disetujui pusat,” ujarnya.
Pekerjaan revitalisasi yang dimulai 31 Agustus 2025 kini telah mencapai 53 persen. Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, pihak sekolah menerapkan sistem rolling.
“Kami punya 67 siswa. Kelas 1 dan 2 tetap tatap muka karena fokus belajar calistung, sedangkan kelas 3-6 bergantian. Seminggu tatap muka, seminggu daring,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

