Karangasem, koranbuleleng.com| Pagi di Pura Silayukti terasa sejuk. Angin laut dari arah Padangbai berhembus lembut, membawa aroma dupa dan bunga canang yang baru saja diatur di pelinggih. Di antara suara ombak dan desir angin, beberapa orang tampak menunduk, menggali tanah dengan hati-hati. Mereka bukan sedang membuat upacara, tetapi menanam sesuatu yang tak kalah penting, tentang menanamkan kesadaran menjaga kesucian lewat kebersihan.
Mereka adalah tim dosen dari Institut Mpu Kuturan, datang dari berbagai bidang ilmu dengan satu tujuan yang sama, menata cara baru mengelola sampah pura. Melalui program “Pengelolaan Sampah Pura Berbasis BioTa (Biopori dan Teba Modern)”, para dosen ini berusaha memberi solusi sederhana untuk masalah klasik tentang sampah sisa upacara yang menumpuk setiap hari.
Sejak Agustus hingga November 2025, para dosen ini meneliti, merancang, dan menerapkan teknologi biopori serta teba modern di lingkungan pura yang menjadi salah satu pusat spiritual penting di pesisir timur Bali tersebut.
“Selama ini, sampah pura seperti sisa canang, banten, daun, dan dupa sering kali hanya dikumpulkan lalu dibakar. Selain mencemari udara, praktik itu juga berpotensi menurunkan kesucian pura,” tutur Dr. I Made Ari Winangun, M.Pd., ketua tim pengabdian.
Dengan penuh keyakinan, ia menambahkan bahwa Lubang biopori ini tidak sekadar lubang resapan air hujan. Ia adalah cara lain untuk menghormati bumi, mengembalikan apa yang telah diambil dalam bentuk yang suci menjadi kompos yang menyuburkan tanah pura.
Menurut Ari Winangun, konsep BioTa, singkatan dari Biopori dan Teba Modern, menggabungkan dua pendekatan ekologis. Biopori mempercepat penguraian sampah organik sekaligus menjaga daya serap air tanah. Sedangkan Teba Modern adalah inovasi ruang hijau berbasis kearifan lokal Bali, tempat menyimpan dan mengolah sampah organik dalam skala lebih besar menjadi pupuk alami.
Sebagai hasil konkret, tim pengabdian menyerahkan 100 lubang biopori, dua unit teba modern, alat penghancur sampah, tempat sampah plastik, serta buku panduan pengelolaan sampah berbasis BioTa kepada pengempon pura. Semua sarana itu kini menjadi bagian dari wajah baru pengelolaan lingkungan di Pura Silayukti.
Lebih dari sekadar proyek pengabdian, kegiatan ini diharapkan menjadi gerakan kesadaran ekologis spiritual bagi umat Hindu. Bahwa menjaga kebersihan pura bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan perwujudan nilai dharma terhadap alam.
Menurut Ari Winangun, program ini sejalan dengan gagasan Ekoteologi yang kini digalakkan Menteri Agama RI, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian lingkungan. Dari lubang biopori di Pura Silayukti, semangat itu tumbuh: sederhana, tapi mengakar kuat di bumi yang suci.
“Dalam ajaran Hindu, manusia dan alam tidak pernah terpisah. Kalau pura adalah tempat kita menyucikan diri, maka tanah tempat pura berpijak pun harus ikut suci,” tutupnya.
Inovasi yang digagas akademisi IMK itu disambut hangat oleh Bendesa Adat Padangbai, Made Sudiarta, serta pengempon Pura Silayukti. Baginya, menjaga kebersihan pura tak sekadar urusan fisik, melainkan juga spiritual.
“Kami bersyukur ada pendampingan seperti ini. Dengan BioTa, kami bisa membersihkan pura tanpa meninggalkan nilai-nilai adat dan kesucian. Ini contoh bagaimana teknologi dan tradisi bisa berjalan beriringan,” ujarnya.
Kontributor : Putu Rika Mahardika

