Kayoman Pedawa 9 Tahun: Menjaga 85 Sumber Air dan Merawat Roh Desa

Singajara, koranbuleleng.com | Perjalanan sembilan tahun Perkumpulan Wanayana Kayoman Pedawa menjadi momentum penting bagi gerakan lingkungan berbasis desa di Bali Utara. Komunitas yang lahir dari kegelisahan atas melemahnya sumber-sumber air di Desa Pedawa ini digagas oleh I Wayan Sadyana, yang sejak awal meyakini bahwa desa adalah ruang spiritual yang membentuk manusia Pedawa.

Sadyana menuturkan bahwa Kayoman Pedawa dibangun dari filosofi “Ngastiti Ayuning Desa”, yakni berbuat kebaikan untuk kelestarian desa. Prinsip ini menjadi roh dari setiap gerakan konservasi yang dilakukan. “Desa adalah tempat pertama kami menerima sari-sari tanah dan air yang kemudian membekas dalam diri kami,” ujarnya menggambarkan relasi emosional masyarakat Pedawa dengan alam.

- Advertisement -

Ia mengaku gelisah ketika melihat tanah dan sumber air di Pedawa mulai kehilangan fungsinya. Di tengah derasnya pembangunan dan penetrasi budaya luar, desa kecil ini kini memikul beban berat. “Kami akan merasa berdosa pada desa dan leluhur jika tidak melakukan sesuatu,” kata Sadyana. Ia menegaskan bahwa Pedawa memiliki kekayaan ekologis dan spiritual yang tak tergantikan, mulai dari 85 titik sumber air hingga 33 jenis air yang digunakan dalam ritual adat.

Refleksi sembilan tahun Kayoman Pedawa mengungkap perjuangan menjaga 85 sumber air Desa Pedawa.

Kegelisahan itu kemudian diwujudkan menjadi gerakan nyata. Pada tahun-tahun awal sejak berdiri pada 2016, Kayoman fokus menanam pohon sebanyak mungkin. Namun evaluasi pada 2018 menunjukkan hanya 15 persen pohon yang berhasil tumbuh. Temuan itu menjadi titik balik yang penting. Mereka kembali belajar kepada alam—mendata tanaman yang hidup subur di sekitar sumber air. Dari situlah muncul kesadaran bahwa tanaman jenis ficus, seperti beringin, loa, bunut, amplas, dan gintungan, adalah jenis paling sesuai untuk konservasi.

“Sejak itu kami membuat bibit sendiri. Kami sadar bahwa menanam saja tidak cukup. Harus ada pemilihan jenis tanaman, waktu tanam, dan perawatan yang jelas,” jelas Sadyana. Kayoman pun mulai menetapkan siklus penanaman dan perawatan serta memperkuat kegiatan konservasi di titik-titik sumber air.

Gerakan Kayoman kemudian berkembang menjadi lebih holistik. Mereka membuat film fiksi dan dokumenter untuk menggugah kesadaran publik, melakukan riset bersama Profauna Foundation untuk memetakan seluruh sumber air di Pedawa, hingga bekerja sama dengan Sekolah Adat Manik Empul untuk mengkaji jenis-jenis air yang digunakan dalam upacara adat. Selain itu, Kayoman meluncurkan program Asuh Kayuan, yang memberi kesempatan bagi individu atau kelompok untuk “mengasuh” satu sumber air. Tujuh kayuan kini telah diadopsi melalui program ini.

- Advertisement -

“Data dan edukasi sama pentingnya dengan kerja lapangan. Konservasi harus berbasis pengetahuan,” tegas Sadyana. Ia menyebut bahwa pemetaan sumber air menjadi acuan penting untuk menentukan skala prioritas dan arah kegiatan Kayoman.

Memasuki usia sembilan tahun, Kayoman menilai perlunya penguatan organisasi. Kebutuhan baru seperti operator IT, pembuat konten, pengelola media sosial, dan humas menjadi tuntutan agar gerakan ini bisa beradaptasi dengan model komunikasi modern. Komunitas ini juga berencana membangun website resmi dan membuka rekrutmen anggota baru untuk memperkuat struktur internal.

Ke depan, Kayoman menargetkan penyusunan rencana kerja yang lebih terukur dengan tetap menjaga spirit akar rumput. “Jika desa telah memberi kami hidup, sudah seharusnya kami membalas dengan menjaga setiap tetes airnya,” tutur Sadyana menutup refleksi sembilan tahun perjalanan Kayoman Pedawa. (*)

Pewarta : I Putu Nova Anita Putra

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru