Singaraja, koranbuleleng.com | Harapan keluarga untuk menemukan Made Serina, 59 tahun, warga Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, dalam kondisi selamat akhirnya pupus. Pemotor yang sebelumnya dilaporkan hilang usai terseret arus saluran air setelah kecelakaan lalu lintas di Jalan Laksamana–Serma Karma, Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, ditemukan meninggal dunia di Pantai Lingga, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng.
Koordinator Pos SAR Buleleng, Kadek Donny Indrawan, menjelaskan penemuan jasad korban bermula dari laporan masyarakat yang diterima pada Senin sore sekitar pukul 16.50 Wita. Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan berkoordinasi bersama keluarga korban sebelum Tim SAR Gabungan bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi.
“Ditemukan tidak di laut, tapi tidak di sungai. Namun di pinggiran muara, antara pinggiran pantai maupun juga laut. Jadi temukannya jelas adalah di pinggir pantai, antara di muara,” ujar Donny.
Donny menerangkan, kondisi jenazah korban menunjukkan sejumlah luka lecet di beberapa bagian tubuh. Luka-luka tersebut diduga kuat akibat benturan selama korban terseret aliran air dari lokasi awal kejadian.
Arus saluran air di sekitar tempat korban terjatuh diketahui bermuara ke Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, sebelum akhirnya menyeret tubuh korban lebih jauh.
Korban disebut sempat terombang-ambing di sekitar kawasan pantai hingga terbawa arus ke arah barat laut dan berakhir di Pantai Lingga, Kelurahan Banyuasri.
Pergerakan arus ini memperkuat dugaan bahwa korban sempat masuk ke perairan terbuka sebelum ditemukan mengambang di bibir pantai. “Sampai ke Pantai Lingga. Jadi otomatis korban masuk ke rairan. Sempat masuk ke perairan. Karena secara kita baca aliran sungai dari lokasi korban jath, penyapuannya dari dua arah antara utara maupun ke barat utara ini masuk di Pantai Penimbangan,” kata dia.
Lebih lanjut Donny menambahkan, saat ditemukan Made Serina masih mengenakan pakaian lengkap, sama seperti yang digunakan ketika terakhir kali keluar rumah. Setelah proses evakuasi selesai, jenazah korban langsung dibawa menggunakan ambulans PMI Buleleng menuju rumah duka di Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, sesuai dengan permintaan pihak keluarga.
“Tadi saya minta keterangan dari keluarga apakah di rumah sakit ada kegiatan besar atau langsung ke rumah korban. Ternyata keinginan keluarga korban meyakinkan untuk bawa pulang ke rumah duka, di Bubunan,” ucapnya.
Penemuan jenazah Made Serina pertama kali dilakukan oleh Kelian Banjar Adat Banyuasri Kelod, Jero Mangku Made Susila, bersama dua orang warga lainnya. Saat itu, mereka tengah memantau kondisi ombak di Pantai Lingga, mengingat kawasan tersebut berada di sekitar Pura Penirtaan Lingga Pawitra.
Salah seorang rekan Susila awalnya melihat sosok tubuh mengambang di bibir pantai dan mengira orang tersebut sedang mandi. Namun setelah didekati dan diperiksa, ketiganya memastikan bahwa tubuh tersebut sudah tidak bernyawa dan diketahui sebagai Made Serina. Susila mengaku telah mengetahui kabar hilangnya korban dari unggahan media sosial sebelumnya.
Susila menuturkan, saat ditemukan posisi jenazah korban dalam keadaan terlentang dan terombang-ambing di tepi pantai. Upaya cepat dilakukan untuk mencegah jasad kembali terseret arus ke tengah laut.
“Jenazahnya kami tarik ke daratan agar tidak terbawa arus ke tengah laut.
Sesampainya di pasir, temuan ini langsung kami sampaikan ke pimpinan di dinas, sehingga informasi ini sampai ke tim Basarnas dan keluarga korban,” katanya.
Diketahui, Made Serina merupakan mantan pejabat di Dinas P2KBP3A Buleleng dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Seksi (Kasi). Ia telah pensiun sekitar satu tahun lalu. Di mata Jero Mangku Made Susila, almarhum dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan sederhana.
“Setahun sebelum pensiun, saya punya kedekatan dengan almarhum. Sering diajak makan di rumahnya. Beliau orang yang pendiam, tidak banyak bicara. Setelah pensiun pun kami masih sering komunikasi,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

