Singaraja, koranbuleleng.com | Tebing setinggi sekitar 10 meter longsor dan menimpa bangunan SD Negeri 3 Gitgit di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Selasa, 13 Januari 2025, dini hari sekitar pukul 02.00 Wita. Peristiwa ini memicu keresahan di kalangan guru dan siswa, mengingat intensitas hujan di wilayah tersebut masih tinggi dalam beberapa hari terakhir dan berpotensi memicu longsor lanjutan.
Longsoran tanah tersebut dilaporkan telah terjadi secara bertahap sejak dua hari sebelumnya. Puncak pergerakan material terjadi pada Senin malam sekitar pukul 23.00 Wita, ketika material tanah dan batu kembali meluncur dari atas tebing dan menyeret sebuah pohon hingga menghantam bagian atap bangunan sekolah.
Perbekel Desa Gitgit, I Putu Arcana, mengungkapkan bahwa dampak longsor memang tidak sampai merobohkan bangunan, namun kerusakan tetap terjadi pada bagian atap ruang kelas.
“Longsor ini terjadi sedikit demi sedikit sejak dua hari lalu. Tadi malam sekitar jam 11, material kembali bergerak. Tidak sampai menjebol bangunan, namun atap sekolah terdampak. Sekitar lima lembar seng beserta rangka kayu rusak dan tertimbun material,” jelasnya.
Arcana menjelaskan, area yang terdampak longsor berada di ruang kelas 1 dan berdekatan langsung dengan kantor guru. Posisi tebing yang cukup curam dengan sisa material batu berukuran besar di bagian atas menjadi sumber kekhawatiran utama, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Kondisi tersebut membuat aktivitas belajar mengajar di sekolah belum bisa dilaksanakan secara normal. Kekhawatiran akan longsor susulan masih membayangi pihak sekolah, mengingat bobot material batu di tebing dinilai cukup berat dan berisiko kembali bergerak sewaktu-waktu.
Sebagai langkah tanggap darurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal. Petugas melakukan pemangkasan pohon-pohon yang berpotensi tumbang serta membantu membersihkan material longsoran yang menimpa area sekolah.
“Yang paling dikhawatirkan adalah longsor susulan. Material batu di atas tebing cukup besar dan berat, sehingga perlu penanganan lanjutan agar aktivitas belajar mengajar di sekolah bisa berjalan dengan aman,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Buleleng, Ida Bagus Gede Surya Bharata, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah antisipatif dengan mengarahkan sekolah melaksanakan pembelajaran secara daring. Kebijakan tersebut diambil demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
“Untuk ruang kelasnya aman. Kerusakan tidak terlalu parah, tapi dengan cuaca buruk seperti ini dikhawatirkan terjadi longsor susulan. Untuk itu pembelajaran kami arahkan daring, sampai cuaca kembali membaik,” jelas Bharata.
Terkait penanganan permanen pada tebing yang longsor, Bharata menyebut koordinasi lanjutan akan dilakukan oleh perbekel desa setempat, mengingat status lahan tebing tersebut merupakan milik warga.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

