Singaraja, koranbuleleng.com| Prestasi akademik kembali ditorehkan Institut Mpu Kuturan (IMK) di kancah internasional. Akademisi IMK, Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd., meraih penghargaan Best Presenter pada International Conference on Education and Technology bertajuk Emerging Trends & Challenges in Open, Distance, Digital & Blended Learning yang diselenggarakan di Delhi University, India.
Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan penilaian komite konferensi terhadap kualitas presentasi ilmiah yang dinilai memiliki kedalaman analisis, kebaruan pendekatan, serta kontribusi signifikan dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi dan nilai-nilai dharma.
“Penghargaan ini diraih berkat penilaian khusus dari komite konferensi bahwa presentasi ilmiah yang saya sampaikan sangat mendalam terkait tema dharma dalam konteks lingkungan pembelajaran kontemporer,” ujar Bagus Purnomo.
Dalam presentasinya, Bagus memaparkan hasil penelitian mengenai persepsi guru widyalaya di Bali terhadap pembelajaran Hindu yang terintegrasi dengan kisah Ramayana berbantuan teknologi Augmented Reality dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Thailand. Menurut dia, komite menilai penelitian tersebut memiliki kontribusi bermakna dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi inovatif.
“Bukan hanya itu saja, komite juga menilai cara saya mengintegrasikan kisah Ramayana dengan teknologi pendidikan dan penerapannya pada widyalaya, yang merupakan sekolah umum bercirikan agama Hindu di Bali sangat terintegrasi,” jelasnya.
Bagus menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan momentum untuk terus mengembangkan riset di bidang pendidikan Hindu, khususnya pada widyalaya dan pasraman.
“Saya kira ini momentum untuk semakin memperkenalkan lembaga pendidikan Hindu kita ke seluruh antero dunia, bukan hanya India. Kita harus percaya bahwa pendidikan Hindu kita punya kualitas,” katanya.
Ia juga mengungkapkan adanya apresiasi dari para peneliti internasional, khususnya dari India, terhadap perkembangan pendidikan Hindu di Indonesia yang dinilai cukup pesat. Bahkan, sejumlah peneliti menyatakan ketertarikan untuk berkunjung langsung ke Bali guna melihat praktik pendidikan Hindu secara lebih dekat.
Menurut Bagus, hubungan Indonesia khususnya Bali dengan India memiliki ikatan historis yang kuat sejak ribuan tahun lalu, termasuk dalam bidang pendidikan. India memiliki sistem pendidikan gurukula, sementara Indonesia dalam sejarahnya mengenal sistem kedewaguruan, katyagan, padukuhan, atau yang kini dikenal sebagai pasraman.
Kehadiran widyalaya, menurut dia, menjadi menarik karena tidak hanya menonjolkan nilai-nilai pendidikan Hindu, tetapi juga mengombinasikannya dengan sistem pendidikan modern.
“Saya kira ini momentum bagus untuk kita bersama-sama berkolaborasi. Ke depan sangat dibutuhkan kerja sama riset untuk membangun pendidikan Hindu bukan hanya di tanah air, tetapi juga dunia,” pungkasnya. Rika Mahardika

