Pengurus TITD Ling Gwan Kiong Singaraja Laksanakan Ritual Pembersihan Patung Dewa Jelang Imlek 2026 

Singaraja,koranbuleleng.com| Pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong Singaraja melaksanakan ritual pembersihan patung dewa-dewi dan altar menjelang Tahun Baru Imlek 2026, Rabu, 11 Februari 2026, di kawasan bersejarah Pelabuhan Tua Buleleng.

Tradisi sakral ini menjadi rangkaian kedua setelah umat sebelumnya menggelar persembahyangan dewa naik. Momentum tersebut menandai fase penting dalam siklus spiritual tahunan umat Tri Dharma di Buleleng.

- Advertisement -

Sejak pagi, suasana klenteng yang berdiri kokoh di pesisir utara Bali itu tampak khidmat.

Sejumlah pengurus bergerak perlahan di ruang utama, membersihkan setiap sudut tempat suci. Fokus utama tertuju pada patung berstananya Dewa Chen Fu Zhen Ren beserta dua patihnya yang memiliki nama khas Bali, yakni Ida Bagus Den Kayu dan I Gusti Ngurah Tubuh.

Debu yang menempel disapu menggunakan kuas kecil. Setelah itu, patung dimandikan dengan air kembang yang bersumber dari tiga mata air. Prosesi ini tidak sekadar membersihkan secara fisik, tetapi juga menyimbolkan penyucian lahir dan batin menyongsong tahun baru penanggalan Tionghoa.

Beberapa menit sebelum prosesi dimulai, para pengurus terlebih dahulu menghaturkan persembahyangan. Doa-doa dilantunkan dalam keheningan, mempertegas bahwa setiap tahapan ritual dijalankan dengan tata cara yang sakral dan penuh penghormatan.

- Advertisement -

Humas TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Gunadi Yetial, menjelaskan bahwa dini hari sebelumnya para dewa-dewi yang berstana di klenteng tersebut, termasuk Dewa Dapur, diyakini telah naik ke khayangan.

“Melalui Dewa Dapur itu dilaporkan apa saja yang terjadi selama 2025, mana yang baik dan mana yang perlu diperbaiki,” ucapnya.

Setelah prosesi dewa naik, pengurus memulai pembersihan terhadap 15 patung dewa-dewi, altar, serta berbagai benda sakral lain di dalam klenteng. Salah satu figur sentral yang dibersihkan adalah Chen Fu Zhen Ren, tokoh leluhur etnis Tionghoa yang dipuja umat Tri Dharma.

Gunadi menuturkan, Chen Fu Zhen Ren diyakini pernah hidup di alam nyata dan datang ke Bali Utara pada abad ke-17. Ia disebut mengikuti rombongan pelaut dari Tiongkok di bawah komando Laksamana Cheng Ho.

Dalam catatan tutur yang berkembang di kalangan umat, Chen Fu Zhen Ren dikenal sebagai sosok sakti, ahli feng shui, sekaligus piawai dalam bidang arsitektur. Keahliannya membuat ia diminta oleh Raja Mengwi untuk membangun Pura Taman Ayun sekitar tahun 1634.

Namun, setelah pembangunan pura rampung, muncul perbedaan pandangan dengan pihak kerajaan. Chen Fu Zhen Ren kemudian meninggalkan wilayah Mengwi, bergerak ke arah barat, menyeberangi Selat Bali, dan mencapai moksa.

Kepergiannya memicu kemurkaan raja. Dua patih kerajaan, Ida Bagus Den Kayu dan I Gusti Ngurah Tubuh, diperintahkan untuk mengejar dan menangkapnya.

“Karena dua patihnya itu tidak berhasil membawa Chen Fu Zhen Ren, mereka pun takut kembali ke kerajaan karena takut dihukum. Mereka ikut menjadi murid Chen Fu Zhen Ren, dan menjelma menjadi buaya dan macan,” kata Gunadi.

Jejak relasi Tionghoa dan Buleleng sejatinya tak berhenti pada kisah tersebut. Menurut Gunadi, kedatangan masyarakat Tionghoa ke wilayah Bali Utara telah berlangsung jauh sebelum abad ke-17.

Ia menyebut adanya temuan situs bersejarah di Pangkung Paruk, Seririt, berupa sarkofagus batu yang pernah diteliti arkeolog Universitas Udayana, sebagai penguat adanya interaksi lama antara komunitas Tionghoa dan Buleleng.

“Sekitar 2000 tahun lalu banyak negara berperang. Jadi rakyat menderita, tidak bisa makan dan hidup tenang. Sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang mengungsi ke negara lain, termasuk Buleleng ini. Mereka masuk dari Pelabuhan Tua Buleleng,” ucapnya.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru