Disbudpar Buleleng Gelar Enam Lomba Bulan Bahasa Bali ke-8, untuk Lestarikan Aksara dan Sastra Daerah

Singaraja, koranbuleleng.com| Pemerintah Kabupaten Buleleng menggelar enam kategori lomba dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali ke-8 di Kabupaten Buleleng pada Kamis, 12 Februari 2025.

Pemerintah daerah menempatkan kegiatan ini sebagai langkah strategis melestarikan seni budaya, khususnya bahasa, aksara, dan sastra Bali, di tengah arus modernisasi yang kian deras. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng memastikan seluruh rangkaian lomba berjalan sesuai petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Bali. 

- Advertisement -

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika menjelaskan, enam kategori yang dilombakan yakni Nguacen Lontar, Nyurat Lontar, Nyurat Aksara Bali, Pidarta Bahasa Bali, Mesatua Bahasa Bali, serta Debat Mebasa Bahasa Bali tingkat SMA/SMK. Seluruh lomba yang digelar ini sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Bali.

Pada pelaksanaan tahun ini, dua kategori tidak masuk dalam daftar perlombaan. Lomba pengetikan Aksara Bali menggunakan keyboard dan lomba mececimpedan dipastikan tidak digelar. Padahal, dua cabang tersebut sempat diperlombakan dua tahun lalu dan menarik minat peserta.

“Untuk tahun ini kami mengikuti juknis yang sudah ditetapkan. Ada materi-materi wajib yang memang harus dilaksanakan. Lomba keyboard Aksara Bali dan mececimpedan tidak termasuk kategori wajib, sehingga tidak kami adakan tahun ini. Namun ke depan tetap berpeluang untuk digelar kembali,” ujarnya.

Secara substansi, Bulan Bahasa Bali bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Pemerintah Kabupaten Buleleng menekankan bahwa ajang ini merupakan instrumen kebudayaan yang memiliki dimensi edukatif sekaligus normatif. Melalui lomba-lomba tersebut, generasi muda didorong untuk tidak tercerabut dari akar identitas lokalnya.

- Advertisement -

Wisandika menyebut, dengan adanya lomba ini pemerintah berharap, kegiatan ini bisa menjadi upaya pelestarian seni budaya, khususnya bahasa, aksara, dan sastra Bali. Selain itu, ajang ini juga menjadi wadah menggali potensi generasi muda (yowana), mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK.

“Harapan kami ini menjadi bentuk pelestarian seni dan budaya Bali, khususnya bahasa, aksara, dan sastra Bali. Kami juga ingin menggali potensi anak-anak didik sejak dini,” ucapnya.

Ia menegaskan, tanggung jawab pelestarian Bahasa Bali tidak bisa dibebankan semata kepada pemerintah daerah. Dalam perspektif pembangunan hukum kebudayaan, sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga menjadi kunci keberlanjutan penggunaan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Buleleng.

Wisandika menambahkan, pelestarian Bahasa Bali tidak hanya peran pemerintah saja. Sekolah dan keluarga disebut juga berperan pentinga dalam pelestarian Bahasa Bali ini. Pemberian pembelajaran tentang bahasa, aksara, dan sastra Bali di lingkungan pendidikan menjadi salah satu langkah strategis agar penggunaan bahasa Bali terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah. Sekolah dan keluarga juga punya peran penting. Jangan sampai kita semangat menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali, tetapi dalam keseharian justru jarang menggunakan bahasa Bali. Itu yang terus kita dorong agar tetap kuat dan lestari,” kata Wisandika.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru