Singaraja,koranbuleleng.com| Peluang usaha peternakan babi di Kabupaten Buleleng masih terbuka sangat lebar. Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat Bali untuk kepentingan adat dan keagamaan, permintaan dari luar daerah bahkan telah mencapai ribuan ekor setiap bulan.
Namun besarnya peluang tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan peternak lokal. Kapasitas produksi yang masih terbatas membuat permintaan pasar belum mampu dipenuhi secara maksimal.
Hal itu diungkapkan Ketua DPD Partai Golkar Buleleng, I Gede Komang Kresna Budi, saat kegiatan pembagian daging babi gratis kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan kaum lanjut usia (lansia), Senin, 15 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Golkar Buleleng tidak hanya membagikan daging babi gratis, tetapi juga memberikan subsidi kepada krama yang mengikuti program mepatung. Sebanyak 30 ekor babi mendapat subsidi dengan nilai Rp1 juta per ekor.
“Program subsidi Krama Mepatung sangatlah efektif. Dimana, dari satu ekor babi berat 100 kilogram, estimasi harga Rp 4 sampai 4,5 juta itu, kita berikan subsidi sebesar Rp 1 juta per ekornya. Catatan kami, sebanyak 30 ekor babi sudah kita berikan subsidi di hari raya Galungan ini,” ujarnya.
Menurut Kresna Budi, sektor peternakan babi memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Salah satu indikatornya terlihat dari permintaan pasar luar Bali yang terus meningkat setiap tahun.
Bahkan, kata dia, permintaan dari Kalimantan Barat saja mencapai 5.000 ekor babi setiap bulan dengan nilai transaksi yang diperkirakan mencapai Rp25 miliar.
“Permohonan dari Kalimantan Barat saja 5.000 ekor per bulan. Belum mampu kita penuhi karena tidak banyak peternakan besar yang ada di Buleleng. Kualitas juga harus dijamin,” ujarnya.
Tingginya kebutuhan tersebut tidak terlepas dari besarnya populasi masyarakat nonmuslim di sejumlah daerah Indonesia yang menjadikan babi sebagai bagian dari kebutuhan konsumsi maupun tradisi budaya.
Kresna Budi mencontohkan Kalimantan Barat yang memiliki komunitas Dayak dalam jumlah besar. Di wilayah tersebut, babi menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat dan sosial kemasyarakatan.
“Penduduk Bali sekitar 4 juta jiwa. Di Jawa, masyarakat nonmuslim jumlahnya mencapai belasan juta. Belum lagi Kalimantan Barat yang adat dan budayanya juga membutuhkan babi dalam berbagai kegiatan,” katanya.
Di sisi lain, kebutuhan babi di Bali juga terus berlangsung sepanjang tahun. Tidak hanya saat Hari Raya Galungan dan Kuningan, tetapi juga untuk berbagai upacara adat, pernikahan, kegiatan keagamaan hingga kebutuhan industri kuliner babi guling.
Melihat besarnya peluang pasar tersebut, Kresna Budi menilai peternakan babi dapat menjadi salah satu sektor yang mampu menggerakkan ekonomi pedesaan sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Buleleng.
Meski demikian, berbagai kendala masih menjadi tantangan bagi peternak lokal. Mulai dari keterbatasan kandang yang memadai, minimnya modal usaha, tingginya biaya pakan hingga belum optimalnya sistem pemasaran.
“Kalau hanya diberikan bibit, banyak yang tidak mampu membeli pakan. Karena itu bantuan yang diberikan harus mencakup bibit dan pakan sekaligus,” jelasnya.
Selain persoalan permodalan, ancaman penyakit ternak serta keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan peternakan modern juga masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan peternakan babi, Golkar Buleleng bersama kelompok peternak terus melakukan pembinaan di sejumlah wilayah.
Beberapa desa yang saat ini menjadi lokasi pengembangan peternakan babi antara lain Ambengan, Sambangan, Padangbulia, Kubutambahan, Bungkulan, Bengkala, Banyuasri, Tukadmungga hingga Sembiran.
Kelompok ternak yang menjadi binaan mendapatkan dukungan berupa bantuan bibit dan pakan dengan nilai mencapai Rp100 juta per kelompok.
Menurut Kresna Budi, pola pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar bantuan yang diberikan benar-benar mampu meningkatkan populasi ternak dan kesejahteraan peternak.
“Kita tidak ingin setelah diberikan bantuan lalu dilepas begitu saja. Tetap dilakukan pembinaan dan pemantauan agar usaha mereka berkembang,” katanya.
Pendampingan tersebut tidak hanya dilakukan melalui kunjungan lapangan, tetapi juga memanfaatkan grup komunikasi digital untuk memantau perkembangan peternakan secara berkala.
Kresna Budi berharap semakin banyak masyarakat Buleleng yang tertarik mengembangkan usaha peternakan babi secara profesional. Selain memiliki pasar yang jelas, sektor ini dinilai mampu menjadi sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat desa.
“Kita ingin masyarakat bisa mandiri. Potensi pasarnya ada, kebutuhan terus ada, tinggal bagaimana peternakan ini bisa dikelola dengan baik dan berkelanjutan,” kata dia.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

