Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng menargetkan pengembangan sentra kopi seluas 1.370 hektare. Target tersebut mulai didorong melalui bantuan 1,3 juta bibit kopi unggul jenis Robusta dan Arabika dari Komisi IV DPR RI.
Bibit kopi tersebut akan ditanam secara serentak pada November hingga Desember 2026. Pemkab memilih periode tersebut karena bertepatan dengan musim hujan, sehingga risiko bibit mati akibat kekeringan dapat ditekan.
Sejumlah wilayah yang menjadi sasaran pengembangan kopi yakni Desa Wanagiri, Gobleg, Munduk, Gesing dan Bestala. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sentra kopi Buleleng.
Bantuan pertanian tersebut diserahkan Anggota Komisi IV DPR RI, I Nyoman Adi Wiryatama, pada Minggu, 6 September 2026, didampingi Tokoh Pemerhati Pertanian Buleleng, Dewa Gede Sugiharto. Total bantuan yang diterima Buleleng mencapai sekitar Rp15 miliar.
Selain 1,3 juta bibit kopi, bantuan juga terdiri dari 55.000 bibit kelapa genjah dan 14 unit rice transplanter.
Wiryatama mengatakan, Buleleng memiliki potensi pertanian yang besar. Potensi tersebut didukung luas lahan, ketersediaan tenaga kerja, serta karakter petani yang dinilai rajin.
Potensi tersebut, kata dia, perlu dimanfaatkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.
“Kami harap bantuan ini dipergunakan dengan baik, sehingga bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya petani di Buleleng dan Bali umumnya,” katanya.
Sementara itu, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengatakan, 14 unit rice transplanter akan diserahkan kepada kelompok subak. Alat tersebut diharapkan memudahkan petani dalam proses penanaman padi.
Untuk bantuan bibit kelapa genjah, Pemkab akan menyerahkannya kepada kelompok tani di Desa Menyali, Jagaraga dan Kerobokan.
“Kalau untun kelapanya, akan kami serahkan ke kelompok-kelompok tani di Desa Menyali, Jagaraga dan Kerobokan,” ucap Sutjidra.
Sutjidra juga menyebut Buleleng mendapat program khusus dari pemerintah pusat untuk mengembangkan empat komoditas pertanian, yakni manggis, durian, bawang merah dan sayur-sayuran.
Program tersebut direncanakan berjalan hingga 2029 untuk mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal, regional dan nasional.
Namun, kebutuhan sarana pertanian di Buleleng masih cukup besar. Sutjidra mengakui masih banyak alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dibutuhkan petani.
Pemkab Buleleng akan kembali menyampaikan kebutuhan tersebut kepada pemerintah pusat karena keterbatasan anggaran daerah.
“Kebutuhan dan aspirasi dari petani akan selalu kami komunikasikan dengan pusat, karena anggaran kita juga sangat terbatas. Jadi komunikasi ini sangat penting, sehingga aspirasi dari masyarakat bisa kita salurkan, khususnya di bidang pertanian,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

