Karangasem, koranbuleleng.com | Sebanyak 11 pura besar di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) Ayung dan DAS Unda menjadi sasaran program konservasi lingkungan melalui penanaman bambu. Program tersebut menargetkan penghijauan hingga 1.000 hektare dengan 125.000 bibit bambu dan pohon.
Program bertajuk Bambuloka itu mulai diterapkan di kawasan Pura Lempuyang Madya, Banjar Dinas Gamongan, Desa Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).
Lempuyang Madya dipilih sebagai lokasi awal sekaligus percontohan sebelum konsep serupa dikembangkan di pura-pura lain. Penanaman bambu diarahkan tidak hanya untuk menghijaukan kawasan, tetapi juga memperkuat fungsi lahan pura dalam menjaga tata air di wilayah hulu.
Kepala Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), Nurul Firmansyah, mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap lahan pelaba pura untuk menentukan titik penanaman yang dinilai efektif dari sisi hidrologis.
“Di Lempuyang itu sudah diidentifikasi lokasi mana yang akan ditanam, di tanah pelabenya. Yang kemudian itu akan mengkatalis sumber-sumber mata air baru. Karena bagi pura, air itu penting ya secara spiritual, yaitu suci,” kata Nurul.
Menurut dia, pemilihan kawasan pura memiliki keterkaitan dengan kebutuhan konservasi air sekaligus kehidupan spiritual masyarakat Bali. Bambu dinilai memiliki sistem perakaran yang rapat sehingga dapat membantu mengendalikan limpasan air hujan dan memperkuat kondisi tanah.
“Kegiatan ini adalah semacam penerapan Bambuloka pecah telur pertama di Pura Lempuyang. Pada intinya, proses ini sangat baik sekali karena para pihak di pura itu sudah menyadari atau menyepakati bahwa penanaman bambu itu sangat baik untuk memperkuat aspek spiritualitasnya pura. Karena air akan menjadi katalis untuk menghasilkan sumber-sumber mata air baru,” kata Nurul Firmansyah.
Program tersebut menyasar kawasan hulu DAS karena kondisi tata air di wilayah tersebut berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan di kawasan bawah. Penanaman bambu juga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko erosi dan longsor serta menjaga biodiversitas.
Namun, Bambuloka tidak dirancang sebagai program penghijauan yang berdiri sendiri. Pengelolaan tanaman nantinya diserahkan kepada kelembagaan pura dan komunitas adat setempat.
YBLL akan berperan sebagai mitra teknis, mulai dari penyediaan bibit, transfer pengetahuan budidaya hingga pendampingan untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dan bertahan.
Status bambu yang ditanam juga sepenuhnya berada pada pihak pengelola pura dan komunitas adat. Dengan pola tersebut, tanaman diharapkan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus dimanfaatkan untuk kebutuhan ritual umat Hindu.
“YBLL terbuka dan ingin bekerja lebih luas untuk pemulihan air di Bali. Kehadiran kami disini harapannya dapat menjadi pintu masuk untuk kembali ke spiritnya agama Hindu, bahwa agama Hindu itu adalah agama yang tidak terpisah dari lingkungan: perbaikan lingkungan, pelestarian lingkungan, terutama air. Bambu sendiri selain bisa menyimpan air, konservasi air, harapannya ke depan juga bisa digunakan bagi kegiatan-kegiatan ritual,” terang Nurul.
YBLL berharap Lempuyang Madya dapat menjadi contoh bagi pura lain yang berada di kawasan hulu. Sejumlah pengurus pura yang hadir dalam kegiatan tersebut disebut telah menyatakan ketertarikan untuk ikut dalam skema pemulihan tata air berbasis kawasan pura.
“Kita harapkan jadi pemantik untuk pura-pura lain. Bahkan dalam proses itu ada beberapa pura yang mau bekerja sama, mau kerja kolektif dengan YBLL untuk menanam bambu yang sama. Dan Lempuyang membuka jalan, menjadi contoh untuk pura-pura lain,” jelas Nurul.

Penanaman perdana di Pura Lempuyang Madya berlangsung bertepatan dengan rangkaian upacara Purnama Kapat. Kegiatan lingkungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda yang sebelumnya diisi dengan pecaruan, melaspas, mendem pedagingan dan persembahyangan bersama.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta turut hadir dalam penanaman simbolis tersebut bersama Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dan Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya.
Giri Prasta mengatakan upaya konservasi tersebut sejalan dengan konsep Tri Hita Karana yang menempatkan hubungan manusia dengan lingkungan sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
“Terima kasih, sekarang ada penanaman bambu untuk pelestarian lingkungan di Lempuyang. Matur suksma,” tutur Giri Prasta.
Sementara itu, Ni Luh Puspa menyebut penghijauan kawasan spiritual menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan Bali.
“Mudah-mudahan dengan penanaman bambu yang bersama langsung dengan Pak Wagub hari ini, kita bisa melestarikan lingkungan Bali, menjaga keindahan Bali, membuat kebahagiaan untuk kita semua,” ujar Ni Luh Puspa.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

