Singaraja, koranbuleleng.com | Pedagang kaki lima (PKL) memilih tetap berjualan di Jalan Tasbih, Kecamatan Buleleng, saat proyek penataan drainase dan trotoar berlangsung. Kondisi ini membuat pelaksanaan proyek senilai Rp1,9 miliar harus menyesuaikan aktivitas pedagang di kawasan tersebut.
Perumda Pasar Argha Nayottama Buleleng sebelumnya telah menyiapkan skema relokasi sementara untuk mengosongkan area kerja. Namun, rencana itu tidak berlanjut setelah para pedagang memilih bertahan di lokasi.
Direktur Utama Perumda Pasar Argha Nayottama Buleleng, I Ketut Mas Angarta Tenaya mengatakan, pihaknya telah menyediakan lokasi alternatif di kawasan Jalan Angsoka, Melur dan Seruni.
Lokasi tersebut disiapkan untuk menampung sekitar 40 lapak. Perumda juga telah melengkapi area relokasi dengan fasilitas listrik dan air agar aktivitas perdagangan tetap dapat berlangsung.
“Sudah kami siapkan lapaknya, fasilitas listrik dan air juga sudah ada,” kata Mas Angarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut Mas Angarta, proses relokasi sempat mendapat persetujuan dari pedagang. Perumda bahkan telah melakukan pengundian nomor lapak untuk mengatur pembagian tempat sekaligus mencegah terjadinya tumpang tindih.
Namun, pedagang kemudian mengubah sikap. Mereka memilih tetap berjualan di Jalan Tasbih karena mengkhawatirkan kepastian untuk kembali setelah proyek penataan selesai.
Perumda menyebut kekhawatiran tersebut sebenarnya telah dijawab dengan jaminan bahwa relokasi hanya berlangsung selama proyek dikerjakan. Pedagang tetap diperbolehkan kembali menempati kawasan Jalan Tasbih setelah pekerjaan rampung.
“Padahal relokasi ini sifatnya sementara. Pedagang tetap diperbolehkan kembali berjualan setelah pengerjaan selesai. Bahkan kami siap membuat surat pernyataan untuk memastikan hal tersebut. Namun mereka tetap menolak untuk direlokasi sementara,” ungkapnya.
Keputusan PKL bertahan kemudian berpengaruh terhadap pola pengerjaan proyek. Ruang kerja yang terbatas membuat pekerjaan drainase dan trotoar tidak dapat dilakukan secara penuh dalam satu waktu.
Perumda Pasar Argha Nayottama selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas PUPR Perkim Buleleng. Kedua pihak menyepakati pekerjaan dilakukan secara bertahap agar proyek tetap berjalan tanpa menghentikan aktivitas perdagangan PKL.
“Mengingat mereka menolak direlokasi sementara, proses pengerjaan penataan tentu jadi terhambat. Terjadi kemacetan juga. Namun karena ini permintaan mereka, ya kami hanya bisa menyesuaikan,” jelasnya.
Penataan drainase dan trotoar Jalan Tasbih ditargetkan rampung pada Desember 2026. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,9 miliar untuk proyek tersebut.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

