Kadek Wicaya: Mahasiswa Penjual Siobak Khas Buleleng yang Sukses Berkat Resep dari YouTube

Singaraja, koranbuleleng.com | Di pinggir jalan Desa Sangket, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, aroma siobak yang menggoda tercium kuat dari sebuah lapak sederhana. Di balik meja kayu kecil itu, berdirilah Kadek Wicaya, mahasiswa Jurusan Manajemen Ekonomi yang kini dikenal sebagai penjual siobak khas Buleleng yang nikmat, otentik, dan terjangkau.

Siobak Buleleng berbeda dari siobak dari daerah lain. Kuliner ini menggunakan daging babi yang direbus hingga empuk, kemudian dipotong kecil dan disiram kuah pekat berbumbu rempah. Sajian ini semakin lengkap dengan nasi putih hangat dan sambal tauco yang pedas gurih. Cita rasa khasnya membuat siapapun yang mencicipi sulit melupakannya.

- Advertisement -

“Saya besar dengan aroma siobak. Dulu cuma makan, sekarang saya belajar membuat dan menjualnya,” kata Kadek.

Usaha siobak ini ia rintis sejak Mei 2025. Berbekal resep dari video YouTube, Kadek memulai langkah kecil yang kini mulai menunjukkan hasil. Ia tak hanya menjual siobak secara konvensional, namun juga menerima pesanan lewat GrabFood dan menyediakan kemasan praktis untuk pelanggan yang ingin menjadikannya oleh-oleh.

Setiap pagi, sebelum kuliah dimulai, Kadek sudah sibuk merebus daging, menyiapkan bumbu tauco, dan menata porsi untuk dijual. Lapaknya dibuka di depan rumah, menyambut pelanggan dari berbagai kalangan, mulai dari warga lokal hingga wisatawan yang penasaran mencicipi cita rasa autentik Buleleng.

“Pelanggan suka karena rasanya otentik. Saya tidak mengurangi rempah atau rasa pedasnya. Siobak ya harus khas Buleleng,” ujarnya.

- Advertisement -

Usahanya kini dibantu oleh ibunya yang ikut turun ke dapur. Selain berjualan, Kadek juga aktif mengedukasi pelanggan mengenai sejarah siobak sebagai bagian dari warisan kuliner tradisional Buleleng yang harus dijaga dan dilestarikan.

“Banyak anak muda sekarang lupa, padahal siobak ini bagian dari identitas kuliner kita,” tambahnya.

Perjalanan Kadek Wicaya tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kesulitan saat harga daging melonjak menjelang hari raya. Namun, ia tidak menyerah.

“Saya pilih untung sedikit tapi pelanggan puas. Itu prinsip saya,” ucapnya sambil menuangkan kuah siobak ke atas nasi hangat.

Teman-temannya pun memberikan dukungan penuh atas usaha yang ia jalani.

“Dia contoh generasi muda yang bangga dengan budaya sendiri dan mau berusaha tanpa gengsi,” kata salah satu temannya.

Kadek Wicaya tak sekadar menjual makanan. Ia menjual harapan dan semangat bahwa kuliner tradisional bisa tetap hidup di tangan anak muda. Dengan rasa yang tetap otentik dan semangat mandiri, siobak khas Buleleng kini punya nafas baru lewat perjuangan seorang mahasiswa desa. (*)

Kontributor : Komang Dedi Juniarta

Catatan : Berita ini ditayangkan untuk melengkapi tugas mata kuliah di IAHN Negeri Mpu Kuturan, Singaraja. Tulisan ini telah melalui seleksi dan tahapan editing agar sesuai dengan kaidah jurnalistik. Kami terbuka menerima tulisan hasil reportase dari mahasiswa dan harus mengikuti ketentuan/kebijakan redaksi kami.

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru