Panggilan Video Jadi Akhir Kebersamaan Mertayasa, Selat Bali Pisahkan Cinta Dua Dekade

Singaraja, koranbuleleng.com | Panggilan video yang berlangsung Rabu, 2 Juli 2025 malam, menjadi akhir kebersamaan Putu Mertayasa, 43 tahun, dengan sang istri, Kadek Sudiartini, 38 tahun. Dua dekade lebih membangun rumah tangga, keduanya kini dipisahkan oleh Selat Bali.

Mertayasa tercatat sebagai korban ke-12 yang ditemukan meninggal akibat tenggelamnya KMP Tanu Pratama Jaya. Jasadnya ditemukan mengambang oleh nelayan di Pantai Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Rabu, 9 Juli 2025 pagi.

- Advertisement -

Tim SAR Gabungan segera mengevakuasi jenazah dan mengidentifikasi korban berdasarkan identitas yang dibawa. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dan tiba di rumah duka di Jalan Pulau Srangan, Kelurahan Penarukan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Rabu malam.

Wajah Sudiartini tak kuasa menahan tangis. Meski sang suami pulang dalam keadaan tak bernyawa, setidaknya penantian panjangnya berakhir. Sepekan lamanya, ia terus berharap mendapat kabar baik tentang sang suami.

Sudiartini bercerita, Mertayasa berangkat menuju Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin, 30 Juni 2025, untuk mengambil material. Keberangkatan itu diwarnai sejumlah firasat aneh. “Pagi itu saya yang ngantar, karena mau numpang di Terminal Sangket. Biasanya bawa motor, tapi karena motornya saya bawa jadinya numpang kendaraan umum. Di Tabanan pas mau berangkat ke Surabaya aki truknya meledak. Banyak kejanggalan, seperti tidak diizinkan berangkat tapi karena tuntutan pekerjaan. Mungkin takdir nasibnya begitu,” ujarnya, Kamis, 10 Juli 2025 pagi.

Kabar tenggelamnya KMP Tanu Pratama Jaya baru didengar Sudiartini pada Kamis, 3 Juli 2025 pagi, dari adik iparnya. Ia langsung menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban. Sudiartini kemudian mengontak teman suaminya dan mendapat kepastian bahwa Mertayasa memang menyeberang dengan kapal tersebut.

- Advertisement -

Ia dan keluarga segera menuju Pelabuhan Gilimanuk, berharap kabar baik. Bukti pembelian tiket semakin menguatkan dugaan Mertayasa berada di kapal naas itu. “Malam sebelum ditemukan itu saya mimpikan, besok pulang gitu dia (Mertayasa) bilang. Paginya dibilang sudah ditemukan. Sekarang lega suda ketemu, tidak bertanya-tanya lagi,” tuturnya.

Percakapan terakhir melalui panggilan video terjadi Rabu, 2 Juli 2025 malam sekitar pukul 20.30 Wita. Saat itu, Mertayasa mengabari sedang berhenti di Asembagus, Kabupaten Situbondo. “Jam 20.30 Wita video call terakhir, bilang masih di Asembagus. Tanya anaknya Ketut dan Koming. Suami juga sempat bikin story jam 23.30 Wita itu. Saat di kapal saya tidak dikabari karena sudah tidur, biasanya pagi di kabari,” katanya.

Sejak masa pacaran, Mertayasa bekerja sebagai sopir. Mereka dikaruniai empat anak berusia 19, 16, 11 tahun, dan satu anak berusia 17 bulan. Hingga akhir hayat, Mertayasa masih bekerja sebagai sopir tronton pengangkut material Jawa-Bali.

Jenazahnya direncanakan akan dikremasi di Setra Desa Adat Buleleng. “Saya tinggalnya di Desa Anturan, ini di Penarukan rumah bapak saya (mertua Mertayasa). Rencana dikremasi di setra Buleleng, masih menunggu dewasa. Pihak perusahaan pemilik kapal ataupun ASDP belum ada menyampaikan permintaan maaf ke saya pribadi,” kata dia.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru