Lonjakan Kasus Baru HIV/AIDS Guncang Buleleng, 211 Warga Terdiagnosis

Singaraja, koranbuleleng.com| Kabupaten Buleleng kembali dihadapkan pada situasi krisis kesehatan setelah temuan kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Oktober 2025 menembus angka 211 orang. Lonjakan ini memicu kekhawatiran mendalam, terutama karena sebagian besar penderitanya berada pada usia produktif, kelompok yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Kegalauan publik makin terasa ketika sebagian pasien dilaporkan menghilang setelah mengetahui status kesehatannya. Kondisi ini membuat proses pendampingan medis menjadi terhambat dan berpotensi meningkatkan risiko penularan.

- Advertisement -

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng, dr Sucipto, menegaskan bahwa pemerintah daerah bergerak cepat memperkuat pengawasan layanan HIV di seluruh fasilitas kesehatan.“Kami melakukan meningkatkan koordinasi antar instansi pemerintah dan mitra kerja dalam perencanaan dan evaluasi program. Bahkan, fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit yang memiliki layanan HIV kami siagakan untuk memberikan pelayanan,” ujarnya, Selasa, 2 Desember 2025.

Langkah ini mencakup monitoring rutin, evaluasi lintas instansi, serta penyiagaan fasilitas kesehatan untuk mempermudah akses layanan bagi masyarakat.

Data Dinkes menunjukkan peta penularan HIV di Buleleng pada 2025 masih terkonsentrasi di kelompok usia muda dan produktif, 20–29 tahun sebanyak 63 kasus, 40–49 tahun sebanyak 50 kasus, 30–39 tahun sebanyak 47 kasus, 50–59 tahun sebanyak 26 kasus dan 15–19 tahun sebanyak 12 kasus.

Tren lima tahun terakhir juga menunjukkan pola fluktuatif namun tetap tinggi. Tahun 2023 tercatat sebagai temuan tertinggi dengan 259 kasus, disusul 2022 dengan 221 kasus, dan 2021 sebanyak 139 kasus.

- Advertisement -

Pada Oktober 2025 saja, ditemukan 14 kasus HIV dan 7 kasus AIDS. Sementara Januari dan Februari mencatat puncak kasus AIDS masing-masing 16 dan 17 kasus, sementara temuan HIV terbanyak terjadi pada Juli yaitu 17 kasus.

Jumlah kumulatif Orang Dengan HIV (ODHIV) di Buleleng kini mencapai 2.608 orang. Dari angka tersebut, 1.924 orang telah mengetahui statusnya, sementara 996 orang masih aktif menjalani pengobatan.

Sucipto mengungkap adanya persoalan serius, sejumlah pasien tidak lagi dapat dihubungi setelah menerima hasil diagnosis. Ia juga menyebutkan bahwa faktor risiko penularan beragam, mulai dari heteroseksual, homoseksual hingga biseksual.

Dari sisi mortalitas, 96 pasien meninggal meskipun telah menjalani terapi ART, sedangkan 45 orang meninggal sebelum sempat memulai pengobatan antiretroviral.

Menghadapi dinamika kasus yang terus bergerak, Dinas Kesehatan Buleleng mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah pemeriksaan dini dan keberlanjutan pengobatan menjadi kunci menekan penyebaran HIV/AIDS di Buleleng.(*)

Pewarta: Kadek Yoga Sariada

Komentar

Artikel Terkait

spot_img

Berita Terbaru