Singaraja, koranbuleleng.com | Pemerintah Kabupaten Buleleng hingga kini belum menetapkan status darurat bencana menyusul banjir bandang yang menerjang Desa Banjar, Kecamatan Banjar. Peristiwa yang terjadi pada Jumat malam, 6 Maret 2026 itu mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan ratusan rumah warga.
Bencana tersebut tidak hanya berdampak di Kecamatan Banjar. Laporan sementara menunjukkan kejadian serupa juga tercatat di beberapa wilayah lain seperti Sukasada, Seririt, Busungbiu, dan Kubutambahan.
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Buleleng mencatat sedikitnya 253 rumah di Desa Banjar mengalami kerusakan akibat terjangan air bercampur lumpur serta material kayu yang terbawa arus sungai.
Selain kerusakan bangunan, peristiwa tersebut juga menelan korban jiwa. Dua warga dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Meski dampak bencana cukup luas, pemerintah daerah belum menetapkan status tanggap darurat bencana.
Bupati I Nyoman Sutjidra menjelaskan bahwa pemerintah daerah masih menunggu hasil kajian lanjutan dari BPBD sebelum mengambil keputusan terkait penetapan status kebencanaan.
“Belum penetapan status bencana karena kami masih melakukan kajian mendalam. Namun respon kami di lapangan sudah seperti tanggap darurat,” ujarnya saat memberikan keterangan, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurut Sutjidra, berbagai langkah penanganan tetap dilakukan meskipun belum ada penetapan status resmi. Penanganan dilakukan bersama unsur tim gabungan yang bekerja di lapangan. Tim tersebut fokus pada pencarian korban yang masih hilang, pembersihan material banjir, hingga membantu warga terdampak.
“Segala sesuatu dari tim, termasuk pembersihan dan pencarian korban, sudah berjalan sesuai dengan respon tanggap darurat,” kata dia.
Pemerintah daerah juga mulai melakukan langkah pemulihan bagi masyarakat yang terdampak bencana, terutama keluarga korban maupun warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur seperti BPBD, TNI, Polri, Palang Merah Indonesia, Dinas Kesehatan, serta relawan yang membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan di lapangan.
“Yang terdampak bencana ini cukup banyak, terutama di Desa Banjar dengan sekitar 253 rumah terdampak,” kata dia.
Selain penanganan lapangan, pemerintah daerah juga telah menyalurkan berbagai bantuan logistik kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut meliputi tenda darurat, peralatan memasak, serta kebutuhan bahan pokok.
Sebagian warga yang rumahnya rusak memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga atau kerabat yang tidak terdampak bencana.
Pemerintah daerah juga telah menyiapkan posko koordinasi untuk mempercepat penanganan bencana dan penyaluran bantuan kepada warga.
“Korban yang terdampak sebagian mengungsi ke keluarga yang tidak terdampak. Jadi kami belum sampai mendirikan posko pengungsian,” kata dia.
Sutjidra juga menepis spekulasi yang berkembang di masyarakat mengenai dugaan praktik penebangan liar sebagai penyebab banjir bandang di Kecamatan Banjar. Dugaan tersebut muncul setelah warga menemukan banyak potongan kayu terbawa arus banjir. Temuan kayu di aliran Tukad Mendaum sempat memunculkan asumsi bahwa material tersebut berasal dari aktivitas penebangan di kawasan hulu.
Namun Sutjidra menegaskan bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari pohon tumbang yang tercabut akibat kuatnya arus banjir.“Material yang terbawa itu bekas pohon tumbang. Banyak pohon besar di pinggir sungai yang ikut tergerus arus, termasuk bambu,” kata dia.
Ia menambahkan, tim gabungan yang melakukan pembersihan menemukan sebagian besar material kayu yang terbawa arus masih memiliki akar. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa pohon-pohon tersebut bukan hasil penebangan, melainkan tercabut dari tanah akibat tekanan air yang sangat kuat.
“Kalau illegal logging biasanya yang terbawa itu kayu gelondongan hasil tebang. Tetapi yang terjadi kemarin pohonnya tercabut dengan akar-akarnya,” ujarnya.
Sementara itu, upaya pencarian terhadap dua korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Ratusan personel dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD Buleleng, serta relawan diterjunkan untuk menyisir sejumlah titik di sepanjang aliran sungai.
Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Buleleng, Kadek Dony Indrawan, mengatakan pada hari ketiga operasi pencarian, tim melakukan penyisiran di tiga lokasi berbeda.
Petugas disebar untuk menelusuri aliran sungai sekaligus memeriksa area yang diduga menjadi titik tersangkutnya korban.
“Kami maksimalkan pencarian di antara wilayah Banjar dengan Kalianget. Kita perluas pencarian ke arah utara, dari korban kedua diketemukan. Karena banyak material sampah, pencarian kita lakukan dengan menggunakan alat berat,” ujarnya.
Selain pencarian di darat, tim SAR juga menggelar pencarian di laut menggunakan dua perahu karet milik Basarnas dan Polairud Buleleng. Area pencarian diperluas hingga sekitar 20 kilometer ke arah barat dan timur dari hilir sungai.
Dony menjelaskan bahwa sesuai prosedur, operasi pencarian terhadap korban bencana dilakukan selama tujuh hari. “Sesuai aturan pelaksanaan pencarian dilakukan selama tujuh hari. Namun setelah tujuh hari, kita akan tetap berkoordinasi dengan masyarakat dengan nelayan. Kalau ada ditemukan kita lakukan evakuasi,” ucapnya.
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, keluarga korban terus berharap kedua korban dapat segera ditemukan.
Salah satu keponakan korban, Putu Sri Sutarini, menceritakan detik-detik saat banjir menerjang rumah bibinya, Luh Suci. Ia menuturkan bahwa saat air mulai meluap, anak korban bernama Putu Wini yang berusia 17 tahun sempat menghubungi keluarga untuk meminta pertolongan.
“Anaknya yang 17 tahun, sempat nelpone minta tolong kepada pak kadus, teman-temannya, dan bibiknya. Karena airnya langsung naik, tidak bisa menyelamtkan,” ujarnya.
Keluarga berharap kedua korban dapat segera ditemukan oleh tim pencari. “Semoga bisa cepet ketemu. Terakhir ketemu pas 3 bulan lalu. Sempat menanyakan ke orang pintar. Bibiknya ditemukan di bibir pantai. Saat kejadian, paman menolong kakeknya yang lagi sakit. Kakeknya selamat,” ucapnya.(*)
Pewarta: Kadek Yoga Sariada

